
Digugu dan Ditiru
Sepanjang sejarah yang terkenang
kepada rotasi-rotasi kehidupan
yang tak pernah mengirimkan kabar
pun jua tak menemukan titik ujung
ada satu yang tak pernah lekang
dalam seni memaknai kehidupan
ia adalah mutiara di dalam kerang
bintang digelapnya awan
lentera di dalam goa kegelapan
keikhlasannya tak butuh sanjungan
untaian doa dalam bibirnya tak pernah kering
mengaliri sanubari keikhlasan
amarahnya ialah menjadi nasihat
bahasa kasih sayang
bahasa kepedulian
kusebut ia sebagai “guru”
barangkali…
lengking suaranya adalah jarak tempuh yang tak pernah dapat diukur
jauh menatap masa depan
juga pada pena di sakunya
adalah peta untuk menjelaskan tentang banyaknya alur kehidupan
sepatunya ialah rekaman jejak langkah
bahwa engkau
guru ialah digugu dan ditiru
Petuah Guru
Antara tinta dan petuah
bangku-bangku kosong
yang tak pernah debu berkunjung
juga papan tulis
yang tak selalu putih
di atas kertas
pena menyambut
titah tertulis
suara lembut menusuk kalbu
menunjukkan jalan pulang
memaksa dagu untuk menunduk
mengarti dan ulaskan simbol setuju
mengiyakan tentang arah hidup
terjal, menanjak juga jauh
suara itu menjauh
dari jarak tempuh ruang dan waktu
mengantarkan pada ekspetasi
duduk dalam sebuah prestasi
padamu Guru
suara dan titahmu pijakan langkahku
Rumah Ilmu
Di mana pengetahuan bertumbuh
disitulah sinar kehidupan menyala
puri ilmu, tempat kami menimba
membuka cakrawala
menyingkap dunia
Guru..
pelita di jalan sunyi
menuntun langkah
menanamkan mimpi
Ilmu bekal menuju esok
merajut harapan
membangun peradaban
jangan pernah letih mengejar ilmu
karena samudranya takkan pernah kering
peluklah ia di setiap waktu
agar sarat arti dan berharga hidupmu
Penulis: Amalia Dwi Rahmah
Editor: Rara Zarary


















