
Tebuireng.online— Mahasiswa semester 3 Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) melaksanakan study tour sebagai tugas dari mata kuliah Komunikasi antar Budaya, yang diampu dosen Munawara, M.I.Kom. Kegiatan ini terbagi menjadi 2 kelompok dengan tujuan berbeda, kelompok 1 memilih kegiatan Podcast dengan mengunjungi Maha Vihara Majapahit di Trowulan, Mojokerto pada Minggu (30/11).
Kunjungan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai aktivitas interaksi antar budaya dan nilai-nilai toleransi di Indonesia. Selama kunjungan, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengadakan podcast dengan Romo Suryono, pengurus vihara. Dalam podcast tersebut, Romo Suryono menjelaskan lebih dalam tentang sejarah Mahavihara, simbol-simbol Buddhis, arsitektur, kegiatan budaya, hingga praktik nyata komunikasi antar budaya.
Baca Juga: Dewan Pakar Askopis Tekankan Mahasiswa KPI Siap Jadi Profesional Dai Era Digital
Awal pembicaraan Romo menjelaskan sejarah mahavihara yang dirintis oleh Bhikkhu Wijaya Nanda Mahathera dan mulai dibangun pada tahun 1987. “Vihara ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur saat itu Sularso, pada 31 Desember 1989. Dibangun di Trowulan karena lokasi ini terkenal akan sejarahnya yang erat dengan kejayaan Majapahit dan praktik sinkretisme Siwa Buddha,” jelasnya.
Ikon utama Mahavihara adalah “Rupang Buddha Mahaparinibbana”, yang sering disebut masyarakat sebagai “Buddha Tidur”. Dalam terminologi Buddhis, istilah “rupang” lebih tepat daripada “patung”.
“Sosok Buddha yang berbaring ini menggambarkan momen menjelang Parinibbana, di mana Sang Buddha mencapai wafat sempurna.Rupang Buddha Mahaparinibbana, yang melambangkan momen menjelang Parinibbana atau wafat sempurna Sang Buddha,” ujar Romo.
Romo menambahkan bahwa Mahavihara juga berfungsi sebagai pusat budaya, dengan adanya Sanggar Seni Budaya Buddhis Majapahit yang rutin menggelar latihan gamelan dan pementasan wayang kulit setiap akhir pekan. “Kegiatan ini membuka ruang dan daya tarik bagi pengunjung untuk mengenal kesenian tradisional terutama pada kesenian wayang”, tambahnya.
Baca Juga: RRI Kediri dan KPI Unhasy Jalin Sinergi Membangun Narasi Positif di Era Digital
Selanjutnya, perayaan keagamaan di Mahavihara juga mencakup kegiatan sosial, seperti donor darah dan pengobatan gratis setiap hari Waisak dan Asadha. Kegiatan ini terbuka bagi semua kalangan, tanpa memandang latar belakang agama.
Romo Suryono menekankan pentingnya komunikasi lintas budaya, mencatat bahwa tidak jarang pengunjung dari luar daerah dan mancanegara hadir. Ada momen unik ketika seorang turis asing berinteraksi dalam bahasa Jawa halus dengan pengurus vihara.
Dalam akhir podcast, Romo Suryono juga menjelaskan filosofi di balik arsitektur Mahavihara, diantaranya atap tiga susun melambangkan Buddha, Dhamma, dan Sangha serta Elemen struktur lainnya menyimbolkan ajaran moral serta pendidikan spiritual Buddhis.
Kunjungan mahasiswa ini menjadi sarana penting untuk memahami keberagaman dan toleransi yang dijunjung tinggi oleh Mahavihara Majapahit, serta belajar bagaimana komunikasi lintas budaya dapat terjalin di lingkungan yang harmonis.
Baca Juga: Mahasiswa KPI Berlatih Jadi Penyiar Digital yang Kreatif
Seperti yang dirasakan oleh Ina Laila, seorang host podcast sekaligus mahasiswa menyatakan pendapatnya bahwa “Podcast ini memberikan saya banyak wawasan baru. Hal-hal yang sebelumnya hanya saya ketahui sekilas, kini saya pahami lebih mendalam mulai dari nilai toleransi, cerita budaya, makna di balik simbol-simbol di Mahavihara, hingga sebutan-sebutan khusus yang digunakan umat Buddha untuk berbagai objek suci di tempat ibadah,” ungkapnya.
Untuk diketahui, Mahavihara tidak hanya berfungsi sebagai situs religius tetapi juga sebagai jembatan antara berbagai budaya dan latar belakang.
Pewarta: Bakhit Jauharullaudza
Editor: Rara Zarary


















