
Setiap orang mempunyai jalannya sendiri, dalam menata masa depan. Tapi menariknya, tidak semua orang langsung menemukan arah hidupnya sejak awal. Ada yang awalnya tampak “tidak serius” dengan sekolah, tapi perlahan justru tumbuh menjadi sosok yang sangat semangat ketika menemukan makna dari mimpinya. Pengalaman ini saya lihat sendiri pada teman sebangku saya di Madrasah Aliyah (MA), ia memiliki latar belakang pendidikan yang bisa dibilang unik, seorang tahfidzah Al-Qur’an yang awalnya malas dalam pembelajaran sekolah, namun berubah total ketika menyadari arti cita-cita.
Saya masih ingat bagaimana teman saya ini, dulu ia dikenal di MA sebagai sosok yang santai. Ia seorang santri yang hafal 30 juz Al-Qur’an di pondoknya, namun di sisi lain, prestasi akademiknya di sekolah bisa dibilang “biasa aja”. Ia sering bilang bahwa pelajaran umum seperti matematika atau geografi terasa berat dan “tidak penting” baginya. Ia lebih nyaman dengan pelajaran agama dan kesehariannya banyak dihabiskan untuk murojaah (mengulang hafalan Al-Qur’an).
Baca Juga: Kenapa Harus Takut Menjadi Perempuan Sukses?
Namun, perubahan besar terjadi saat ia duduk di kelas 3 MA. Suatu hari, ia berkata pada saya bahwa ia ingin masuk ke salah satu Universitas Top di Indonesia. “Aku ndak bisa begini terus,” katanya waktu itu. “Aku ndue mimpi pengen masuk Universitas, dan ndak mungkin bisa tak raih kalau aku males terus”. Sejak saat itu, saya melihat perubahan nyata didalam dirinya. Ia mulai rajin mengikuti pelajaran tanpa tertidur dan mulai sering mencatat meskipun melihat catatan saya, karena ia kesulitan ketika melihat papan tulis yang tulisannya kecil sebab matanya yang minus.
Dan hasilnya? Perlahan, nilai-nilainya meningkat. Meski akhirnya ia tidak lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP), ia tetap berjuang lewat jalur mandiri dan berhasil diterima di Univeritas impiannya. Hingga sekarang ia masih terus berusaha keras untuk menyeimbangkan antara hafalan, kuliah, dan pengembangan skill di kampus. Melihat perjalanannya, saya jadi menyadari satu hal penting, bahwa motivasi dan cita-cita bisa menjadi jembatan antara dua dunia pendidikan yang berbeda seperti dunia ponsok pesantren dan dunia akademik modern.
Perbedaan Latar Pendidikan sebagai Bentuk Keberagaman Budaya
Kalau kita bicara tentang komunikasi antarbudaya, banyak orang langsung membayangkan perbedaan suku, bahasa, atau adat. Tapi sebenarnya, latar belakang pendidikan juga bisa menciptakan bentuk budaya yang berbeda. Teman saya yang tumbuh di lingkungan tahfidz memiliki budaya belajar yang lebih berorientasi pada kedisiplinan spiritual. Segala hal dimulai dengan niat karena Allah SWT, disertai dengan kesabaran dan pengulangan hafalan. Sementara di sekolah, budaya belajarnya lebih menekankan pada logika, efisiensi, dan pencapaian nilai akademik.
Baca Juga: Mengkaji Ulang Fitrah dan Peran Sosial Perempuan
Dua cara pandang ini sering kali berbeda bahkan bisa saling berbenturan. Tak jarang siswa tahfidz merasa pelajaran umum “tidak sepenting” ilmu agama, sedangkan siswa sekolah kadang menganggap santri tahfidz itu terlalu tertutup dan tidak kompetitif di bidang akademik. Namun, dengan pengalaman teman saya ini menunjukkan bahwa perbedaan itu sebenarnya bisa saling melengkapi. Nilai religiusitas dari pondok pesantren justru bisa menjadi fondasi yang kuat bagi motivasi belajar di sekolah. Dalam psikologi pendidikan, hal ini disebut motivasi intrinsik, dorongan dari dalam diri untuk mencapai sesuatu karena dianggap penting dan bermakna. Dan benar saja, saat seseorang menemukan alasannya, perubahan sikap pun bisa terjadi.
Kisah seperti ini ternyata juga terjadi di banyak tempat. Misalnya dalam berita ANTARA JATIM “Lulus akademik dan tahfidz, 80 pelajar MI MAS diwisuda”, menyebutkan bahwa di Surabaya sebanyak 80 pelajar MI MAS berhasil menyelesaikan hafalan mulai dari 1 hingga 30 juz, sekaligus lulus sekolah dasar dengan nilai akademik yang baik. Dalam berita MANSAWANGI “Program Tahfidz Al-Qur’an MAN 1 Banyuwangi: Lulus Sekolah Hafal 30 Juz”, menyebutkan bahwa MAN 1 Banyuwangi memiliki program tahfidz yang mendorong siswanya agar bisa hafal minimal 5 juz di jenjang awal dan menargetkan hafal 30 juz saat lulus.
Program ini membentuk siswa yang bukan hanya cerdas intelektual saja, tapi juga kuat akan spiritualnya. Dari beberapa contoh itu, saya jadi semakin yakin bahwa apa yang dialami teman saya bukanlah hal yang mustahil. Dunia pesantren dan sekolah bukan dua hal yang berlawanan, tapi dua dunia yang saling menguatkan.
Refleksi Pribadi
Dalam kasus saya dan teman saya ini, kami saling belajar satu sama lain. Saya mengajarkan cara membuat memahami pelajaran, membuat rangkuman, dan belajar dengan efektif. Sementara, ia mengajarkan saya bagaimana menjaga konsistensi dan niat dalam belajar. Dari situ saya paham, bahwa budaya religius dan akademik bukan untuk dipertentangkan, namun untuk disinergikan.
Baca Juga: Dua Sahabat Sejati
Kisah teman saya mengajarkan bahwa latar belakang pendidikan yang berbeda bukanlah penghalang untuk menuju kesuksesan. Justru, ketika dua budaya pendidikan seperti pondok pesantren dan sekolah umum itu saling memahami, maka hasilnya bisa menakjubkan. Dengan beberapa bukti dari MI MAS Surabaya dan MAN 1 Banyuwangi itu dapat menunjukkan bahwa santri tahfidz dapat berprestasi di bidang akademik tanpa harus meninggalkan identitas religiusnya. Dan teman saya adalah salah satu bukti contohnya, ia berhasil menjebatani dua dunia dengan kekuatan motivasi dan mimpi.
Pada akhirnya, komunikasi antarbudaya bukan hanya tentang berbicara, tapi juga tentang memahami. Memahami bahwa setiap orang membawa nilai dan cara hidup yang berbeda, namun perbedaan itu bukan untuk dijauhi, melainkan untuk dijadikan pelengkap. Karena pada dasarnya, setiap perbedaan punya potensi untuk menciptakan harmoni, selama ada satu tujuan yang sama.
Penulis: Muayyinatul Millatil Haq, Mahasiswi KPI Unhasy
Editor: Rara Zarary


















