Kisah Ja’far Al-Khuldi dan Nasihat Terhadap Muridnya

155
ilustrasi majelis ilmu

Ja’far al-Khuldi, nama lengkapnya Ja’far bin Muhammad bin Nusair bin al-Qasim. Catatan Thibon dan Jean-Jacques yang diterbitkan Brill tahun 2019 menginformasikan bahwa Ja’far al-Khuldi lahir pada tahun 252 H/866 M. Ia lahir di Baghdad dan besar juga di kota itu.

Sementara itu, tahun wafatnya tercatat pada 348 H/959 M dan dimakamkan di kompleks pemakaman Syuniziah Baghdad, satu kompleks dengan makam Sari al-Saqati dan Imam Junaid. Masih dalam catatan Thibon dan Jean-Jacques, sufi satu ini juga masyhur sebagai perawi hadis. Sebutan “al-Khuld” merupakan pemberian dari Imam Junaid.

Adapun Al-Sulami mengatakan, Ja’far al-Khuldi bersahabat dengan beberapa sufi di Baghdad, antara lain: Imam Junaid, Abu Husain al-Nuri, Ruwaim. Samnun, dan Abu Muhammad al-Jariri. Pada catatan lain yang dikutip Fariduddin al-‘Attar, dikatakan selama hidupnya ia telah menunaikan ibadah haji sebanyak 60 kali.

Baca Juga: Kisah Fudail bin Iyadh, Perampok yang Menangis Mendengar Ayat Al-Quran

Pernah pada suatu ketika Ja’far al-Khuldi ditanya tentang tawakkal, dengan tenangnya ia menimpali pertanyaan itu dengan jawaban, “tawakkal itu soal konsistennya hati, saat sedang miskin tidak mudah untuk ngeluh, saat sedang lapang/kaya tidak jumawa atau bahkan sombong, pada tingkatan yang lebih puncak lagi, tawakkal itu istiqamah mengingat Allah, baik kondisimu sedang seret maupun sedang lapang.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pada kisah yang lain, dalam Tazkirah al-Auliya dikisahkan bahwa suatu malam Ja’far al-Khuldi pernah disowani (dikunjungi) muridnya yang bernama Hamzah al-Alawi. Hamzah al-Alawi sengaja ingin bertemu dengan gurunya itu. Namun, di luar dugaan Hamzah al-Alawi, ternyata sang guru memintanya untuk bermalam di kediaman sang guru dan tidak melanjutkan perjalanan di malam hari. Hamzah al- Alawi merasa tidak enak menolak permintaan gurunya itu. Namun, di saat yang sama, Hamzah al-Alawi kepikiran dengan keluarganya di rumah yang sudah menyiapkan menu burung panggang untuk makan malam.

“Jika malam ini aku menginap di rumah Syekh Ja’far al-Khuldi, mau tidak mau nanti subuh aku harus menemaninya berjamaah. Biasanya, Syekh tidak akan turun turun sebelum melaksanakan salat dhuha, lagi-lagi aku harus menemani Syekh Ja’far al-Khuldi hingga selesai dhuha, pasti istri dan anak-anakku di rumah akan sangat tersiksa menunggu kedatanganku untuk makan malam bersama,” gumam Hamzah al-Alawi dalam hati.

Akhirnya, dengan perasaan serba kikuk dan canggung, Hamzah al-Alawi beralasan dan menolak permintaan Syekh Ja’far al-Khuldi yang meminta muridnya itu untuk menginap di rumahnya. Hamzah al-Alawi akhirnya memilih pulang dan berharap bisa makan bersama dengan istri dan anaknya di rumah.

Baca Juga: Kisah Pemuda yang Diusir Nabi, Tapi Diterima Allah

Ketika sampai di rumah, burung panggang sudah siap untuk dinikmati bersama. Namun sial, ada anjing masuk, kemudian anjing itu menyerobot dan mengambil burung panggang itu dan kabur dengan menggondolnya. Lalu pembantu Hamzah al-Alawi merasakan ada sesuatu di bawah ujung bajunya. Akhirnya, dia kaget dan makanan yang dibawa pun jatuh dan tumpah semua. Malam hari itu, harapan Hamzah al-Alawi dan keluarga untuk makan bersama dengan menu burung panggang raib. Malam yang sungguh malang dialami Hamzah al-Alawi dan keluarganya.

Keesokan harinya Hamzah al-Alawi kembali me- nemui sang guru, Syekh Ja’far al-Khuldi. Belum sempat berbicara panjang lebar, tiba-tiba Syekh Ja’far al-Khuldi berkata kepada Hamzah al-Alawi.

مَنْ لَمْ يَحْفَظْ قُلُوْبَ الْمَشَايِخِ يُسَلِّطُ عَلَيْهِ كَلْبٌ يُؤْذِيهِ

Man lam yahfaz qulūb al-masyāyikhi yusallițu ‘alaihi kalbun yu’żīhi.

“Barang siapa tidak menjaga qalbun (perasaan) guru maka dia akan diusik oleh kalbun (anjing) yang akan menyakitinya.”



Penulis: Dimas Setyawan Saputro

Editor: Rara Zarary