Zakat Fitrah dalam Kacamata Fikih

Oleh: Nur Indah*

Tidak terasa Bulan Ramadhan sudah purna, sudah saatnya kita untuk menuju hari raya, membuka lembaran berlomba – lomba lagi dalam hal kebaikan. Detik – detik menuju hari kemenangan sudah sepatutnya kita sebagai umat muslim untuk melaksanakan ibadah dalam lingkup bulan Ramadhan selain sahur, puasa dan juga berbuka. Yang tercantum pada rukun islam yang nomor 3 yakni berzakat sebagai bentuk santunan terhadap fakir dan miskin.

Tidak lain tujuan zakat adalah untuk saling berbagi dan sebagai penambal kekurangan dalam ibadah suci bulan Ramadhan sebagaimana sujud sahwi menambal kekurangan rukun yang terlewatkan dalam sholat.

Berbicara mengenai zakat fitrah di bulan Ramadhan seringkali terdapat banyak pertanyaan dari kalangan masyarakat yang kurang begitu paham seputar zakat fitrah, seperti takaran zakat fitrah yang harus dikeluarkan, dan bentuk makanan pokok yang boleh dikeluarkan untuk berzakat fitrah. Oleh karena itu mari kita simak penjelasan di bawah ini terkait seputar zakat fitrah yang sesuai dengan kaca mata Aswaja.


Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadist :

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدْ الْخُضْرِيْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كُنَّ نُخْرِجُ فِيْ أَهْدِ رَسُلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ يَوْمَ الْفِطْر صَاعًا مِنْ طَعَامٍ وَقَالَ أَبُوْ سَعِيْدٍ : وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيْرُ وَالْزَّبِيْبُ وَالْأَقْطُ وَ الْتَّمْرُ (روى البخاري)

Artinya : Dari Abu Said Al-Khudriy RA berkata : dulu pada zaman rasulullah SAW kami menunaikan zakat fitri dengan satu sha’ bahan makanan, dan Abu Said menyampaikan bahwa bahan makanan kami (pada saat itu) adalah gandum, anggur, keju dan kurma (HR. Al-Bukhori)

Dalam hadist tersebut dijelaskan untuk takaran yang dikeluarkan makanan pokok adalah 1 sha’, akan tetapi terdapat berbagai pendapat ulama’ mengenai ukuran 1 sha’ tersebut. Madzhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali yang berpendapat bahwa ukuran 1 Sha’ sama dengan ukuran lima sepertiga rithl Irak yakni 2,2 Kg yang kemudian apabila dibulatkan menjadi dibulatkan menjadi 2,5 kg.

Berbeda dengan madzhab Hanafi yang berpendapat bahwa ukuran 1 Sha’ adalah sama dengan ukuran 8 rithl Irak yakni 3,8 Kg. Adapula yang mengungkapkan bahwa 1 sha’ sama dengan ukuran 4 mudz jika ditimbangkan setara dengan ukuran 2,7 Kg yang apabila dibulatkan menjadi 3.0 Kg dengan tujuan lebih berihtiyat atau berhati – hati, maka mayoritas Ulama’ menetapkan bahwa kadar mengeluarkan zakat fitrah makanan pokok adalah 2,5 Kg – 3,0 Kg.

🤔  Warna-Warni Penafsiran Ayat tentang Waktu Pelaksanaan Haji

Beralih kepada bentuk makanan yang boleh dizakatkan. Bentuk makanan yang boleh dikeluarkan untuk berzakat fitrah juga beraneka ragam. Menurut madzhab Hanafi jenis makanan yang dikeluarkan dalam zakat fitrah adalah hintah (gandum, syair (padi belanda), tamar (kurma), dan zabib (anggur), Imam hanafi juga memperbolehkan daqiq hintah (gandum yang sudah menjadi tepung) dan saweq (adonan tepung).

Madzhab Maliki berpendapat bahwa jenis makanan yang boleh dikeluarkan untuk berzakat fitrah adalah bahan pokok seperti; syair (gandum), salat ( sejenis syair), jagung, dakhon (jenis gandum), kurma, kismis atau keju, madzhab maliki juga memperbolehkan jika tidak ada bahan pokok di atas maka yang wajib dikeluarkan adalah jenis bahan pokok seperti biji – bijian dan buah – buahan.

Menurut madzhab Hanbali jenis makanan yang boleh dikeluarkan untuk zakat fitrah adalah gandum bur, gandum syair, kurma, kismis dan keju dan jika tidak ada jenis makanan seperti itu maka boleh menggunakan biji – bijian dan buah – buahan.

Madzhab Syafi’i juga berpendapat mengenai jenis makanan yang boleh dikeluarkan untuk berzakat fitrah adalah makanan pokok daerah setempat dan tidak boleh dikeluarkan yang bukan makanan pokok.

Nah dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwasanya takaran zakat fitrah adalah 2,5 – 3,0 Kg dan untuk Jenis makanan yang boleh dikeluarkan untuk zakat fitrah adalah jenis bahan pokok di daerah setempat melihat kesesuaian dengan kondisi di sekitar daerah tersebut.

Wallahua’lam


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari