Welas Asih

59
Seorang santri putri (ilustrasi: ai/ra)

Tepat pukul setengah lima sore aku duduk termenung di roof top pesantren Al Amanah, tempat pelarian para santri kongkow asik, terkadang juga digunakan tempat murojaah para santri tahfidz. Aku adalah seorang anak tunggal dari keluarga sederhana dipinggiran laut jawa. Sedari kelas tiga SMA, Ayahku berencana menyuruhku melanjutkan belajar dan tinggal di pesantren. Kata Ayah, jika aku terus-terusan tinggal di desa, aku akan terseret arus pergaulan yang kian mengerikan dan memperihatinkan. Padahal kenyataanya tak semenyeramkan itu.  Aku ingin berkuliah dan tinggal mandiri di kos seperti teman sebayaku. Namun ayah melarangku lanjut kuliah jika aku memilih tinggal di kos. Tidak ada pilihan lain kecuali mengiyakan permintaan Ayah, kuliah sambil pesantren.

Kepalaku terasa pening memikirkan bagaimana caranya sesegera mungkin keluar boyongan dari pesantren ini, sungguh aku ingin sekali menghirup aroma kebebasan. Bagiku pesantren adalah penjara yang membatasi santri berkegiatan diluar dengan bebas. Jika ditanya kebebasan seperti apa yang aku inginkan? dengan lantang aku menjawab, tinggal di kos dan hidup bebas tanpa banyak tuntutan dan peraturan.

Fokusku mudah pecah, pikiranku terbagi-bagi, menjadi mahasiswa dan juga seorang santri adalah hal yang sangat sulit bagiku. Kegiatan pondok yang banyak ditambah segala rutinitas yang membuatku cukup kualahan mengimbangi keduanya. Terkadang kegiatan kampusku yang kerap kuabaikan dengan begitu saja, sebab beberapa tanggung jawab pesantren yang memberatkan. Aku tau beberapa kawanku juga mengalami hal yang sama di semester pertama, mereka cukup kualahan untuk imbang diantara keduanya. Banyak sekali kawanku yang memprioritaskan modok daripada kuliahnya, sedangkan aku ingin memprioritaskan kuliah sambil mondok. Tidak bisa kah seimbang diantara keduanya?

Pesantrenku cukup memberikan toleransi kepada para mahasantri dalam penggunaan handpone dan laptop demi menunjang sarana belajar. Hanya saja, waktu penggunaanya yang dibatasi sampai adzan magrib. Pun dalam berkegiatan diluar, pesantrenku punya aturan ketat bahwa santri tidak diperbolehkan berkegiatan lebih dari jam 18.00 WIB, kecuali dapat surat izin resmi dan harus matur sowan pada umik selaku pengasuh pondok putri. Aku sering kali ketinggalan informasi jadwal perubahan mata kuliah atau tugas-tugas lain, jika memang informasinya kadang kala berubah, sedangkan pada malam hari santri tidak diperkenankan menggunakan ponsel.

Sungguh pening sekali dengan banyaknya kegiatan pondok yang sering kali berbenturan, terutama dalam hal piket pesantren. Ahh menyebalkan sekali, kerap mengeluhkan ini kepada orang tua ku, namun jawaban mereka selalu sama. “Disabari sek ya nak, proses adaptasi iku butuh waktu. Yang dapat jatah piket dan lain-lain kan nggak kamu tok nak, temen-temenmu juga merasakan hal yang sama, yang semangat nak,” begitulah kiranya jawaban dari Ayah sewaktu dalam sambungan telfon.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

****

Suatu ketika, kampusku mengadakan kegiatan organisasi hingga larut malam, aku melupakan sesuatu. Ya, tadi pagi aku hanya izin berkuliah saja, tidak izin kepada pengurus maupun sowan pada Umik jika aku akan berkegiatan hingga malam hari. Rasanya inginku berniat tidak pulang, jika aku memaksa pulang pondok aku harus melewati aula, sedangkan pada jam sembilan malam ngaji bandongan Abah baru dimulai. Payah, aku menggerutu karena kebodohan ini sembari berjalan menyusuri gang depan jalan kampusku. Untungnya salah satu kawan baikku menawarkan untuk menginap di kosannya jika memang aku berencana tidak pulang malam ini.

“Sabila kemana mbak, kok tidak ikut setor mengaji subuh?” tanya umik pada Nayla kawan sekamarku.

“Itu umik, mboten ngertos,” jawab temanku seadanya, ia takut berbohong pada umik, namun ia juga tidak ingin jika memberitahu jika aku semalam tidak pulang.

“Nyuwun tulung ya mbak, kalau lihat Sabil suruh sowan ndalem dulu, kok umik nggak lihat dari semalam,” perintah umik.

Tepat pukul setengah tujuh pagi selepas ngaji subuh, semua santri nampak berlalu lalang dengan kegiatan masing-masing, ada yang piket bersih-bersih, piket masak, ada yang menunggu antrean mandi, ada juga yang sudah bergegas berangkat ke kampus. Aku sengaja tidak menggunakan tas dan setelan baju yang sama, kupikir dengan mengganti setelan baju, tak akan curiga jika semalam aku tidak pulang. Aku berjalan menuju lantai dua dengan langkah kaki yang mantap. Tiba tiba lenganku ditarik dari belakang oleh Nayla, “Awas sini dulu, semalem kemana aja kamu Bil, Umik nanya ke aku subuh tadi,” cecar Nayla.

“Ceritanya panjang Nay, aku ada acara organisasi himpunan sampai malam. Aku kelupaan izin, aku nggak pulang,” jawabku pada Nayla.

“Lah kenapa nggak ngabarin aku dulu sih Bil?”

“Gimana mau bilang sama kamu, ponselmu kan sudah dikumpulkan to magrib-magrib, aku baru ingat lepas adzan Nay,”

“Bocah edan, pantes aja umik nanyain kamu Bila, astaghfirulloh tadi Umik nyariin kamu,”

Baru tiga langkah kaki menaiki tangga menuju lantai dua, suara umik tiba-tiba memanggilku. Aku sungguh terkejut bukan main, “waduuhhhh apes tenan iki konangan umik,”batinku. Umik menyuruhku ikut di ndalem depan, aku tidak pernah membayangkan jika nanti umik akan melaporkan pada orang tuaku. Pasalnya, di sambungan telpon seminggu yang lalu aku berjanji untuk senantiasa mentaati semua aturan yang berlaku. Aku mengingkari itu. Dengan wajah yang teduh, umik menanyakan apakah aku baik-baik saja atau tidak? rupanya beliau tau jika aku tak pulang semalaman.

“Ngapunten e umik, kulo mboten izin. Kula mboten wangsul pondok umik. Umik ampon sanjang Ibu Bapak nggih,” aku menyesali perbuatanku didepan umik. 

“Umik sama sekali tidak membatasi para santri untuk ikut kegiatan penunjang perkuliahan, kegiatan organisasi dan lain sebagainya. Tapi yang harus sampean ingat dan pahami, pondok punya aturan sendiri ya nduk. Yang mana peraturan dibuat ya untuk kemaslahatan santri, sampean kudu ngerti itu. Ibu Bapak e sampean menitipkan putrinya disini untuk dididik ilmu agama juga disiplin ilmu kejujuran dan pembelajaran hidup, bukan kabur-kaburan ikut acara tanpa izin, ojo dibaleni yo nduk,”

Kupikir umik akan memarahiku dengan suara lantang meledak-ledak dan melaporkannya pada orang tuaku, namun terkaanku salah. Umik bukan seperti itu, sifat welas asih Umik selaku pengasuh pondok mencerminkan betapa luas kesabaran dan kasih sayangnya terhadap para santrinya. Amanah yang di emban sangatlah penuh pertanggung jawaban. Selain menjadi sosok Ibu Nyai, Ustadzah panutan santri, Umik adalah sosok orang tua kedua di perantauan.

Nggih umik, ngapunten e sanget, saestu mboten kula wangsuli malih,” jawabku tertunduk lesu.



Penulis: Alfiyaturrohmah, seorang anak kemarin sore yang gemar mencoba hal baru. Menyukai music indie, matcha, dan kopi.
Editor: Rara Zarary