Waktu yang Hilang Sia-sia

50
Renungan seorang perempuan (ilustrasi: ai/ra)

Setelah melalui fase kebersamaan, kini kita telah memasuki fase masing-masing. Tak ada lagi kabar, bahkan sapaan dalam notifikasi ponsel pun nyaris tak pernah muncul. Sekadar melihat satu sama lain lewat story media sosial pun kini menjadi hal yang langka. Aku merindu—tapi entah, apakah itu bentuk saling menjaga, atau justru tanda bahwa kita tak ingin bersama lagi.

Aku menatap jejak, mengasihani diri yang sempat kehilangan arah. Sekilas, ada sesal pada kebersamaan dulu, namun semua sudah berlalu dan tak bisa diulang. Dalam fase yang perlahan menjauh ini, aku menemukan banyak keberuntungan. Aku jadi lebih mengenal diriku sendiri, lebih fokus menjalani hari-hari, meski terkadang berat. Tapi nikmat, dan ya, dijalani saja.

Aku tidak ingin lagi sekadar mengikuti alur. Dulu aku hanya mengikuti alur, dan akhirnya tersesat di dalamnya. Kini, aku ingin menjadi penentu arah itu sendiri, tentu dengan petunjuk dari Allah.

Sungguh sulit rasanya berdiri dan bangkit dengan tubuh yang ringkih ini. Seakan tak mampu, tapi ternyata luka-luka yang datang justru mengajarkanku untuk berdiri tegak. Rindu adalah bagian dari luka yang obatnya hanya bisa dilangitkan dalam doa. Sudah sangat lama jangka panjang itu terbengkalai, terurai, rusak, robek, tercabik-cabik. Entah karena hadirnya orang baru, atau bayang-bayang masa lalu yang tak kunjung sirna.

Fase “masing-masing” ini yang perlahan menjadi “asing” terasa begitu menyakitkan. Butuh waktu lama untuk membiasakan diri tanpa kebiasaan yang dulu kita lakukan bersama, tanpa notifikasi lucumu, dering teleponmu, atau foto keseharianmu yang dulu selalu kamu kirim.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kamu tahu? Jangka panjang itu perlahan memudar. Bukan karena aku tak ingin berjuang, tapi bukankah selama ini aku yang paling banyak berjuang? Butuh waktu hampir setahun untuk benar-benar selesai denganmu. Dalam rentang itu, aku hidup dalam hampa—sepi, sunyi, seakan tak ada kehidupan.

*****

Dulu, aku berpikir, jika tidak denganmu, maka tidak dengan siapa pun. Aku menggantungkan bahagiaku hanya padamu, sampai akhirnya aku sadar bahwa justru di sanalah sumber kecewa itu berasal.

Dalam masa keterpurukan, potongan waktu bersamamu masih berputar rapi di ingatan. Ketika hujan, bayangmu seolah ikut turun bersama rintik-rintiknya. Hujan adalah saksi atas obrolan kita di atas motor, tawa, percakapan, dan tanganmu yang mengelus tanganku lembut, memastikan aku tetap hangat di tengah gerimis. Ah, semuanya masih tersusun dalam bingkai kenangan yang mulai usang.

“Tidak apa-apa, ayo kamu bisa bangkit,” bisikku pada diri sendiri.

Karena jika bukan diri sendiri, ucapan semangat dari orang lain terasa sia-sia. Aku mulai memahami: motivator terbaik adalah diri sendiri.

Perlahan, aku mulai merajut kembali hal-hal yang lama tertunda sejak bersamamu. Dan ternyata, banyak sekali yang belum kulakukan. Aku baru sadar, selama ini duniaku berhenti di kamu saja, padahal masih banyak impian yang belum tercapai. Dulu aku bodoh, bertahan pada jangka panjang yang tak pernah pasti.

Namun aku belajar mengambil sisi positif. Bertemu dan bersamamu mengajarkanku banyak hal, meski akhirnya tidak berujung bersama.

Aku belajar menyediakan ruang ikhlas, mengenal diri sendiri, menyeimbangkan logika dan perasaan, bangkit dari keterpurukan, dan mulai menata hidup dengan lebih sadar. Kini, semuanya mulai tertata rapi.

Ternyata aku bisa. Sendiri.

Terima kasih, karena dari semua luka itu aku tumbuh. Terima kasih karena kamu tak hanya menjadi guru matematikaku saat SMP, tapi juga guru kehidupan. Kini aku mengganti kalimat “jika tidak denganmu maka tidak dengan siapa pun” menjadi “jika tidak denganmu, maka aku akan lebih baik tanpamu.”

Setelah ini, aku ingin menikmati kesendirian bersama aksara, diksi, dan puisi. Selamat tinggal, jangka panjang yang terbengkalai. Terima kasih, jangka panjang, karena kamu adalah aksara pertamaku.



Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary