No Valentine DayOleh: A. Mubarok Yasin, Kiai Muda Madura

Pertanyaan:

Sampai sekarang, kaum muda-mudi Islam masih banyak yang ikut-ikutan merayakan Vanlentine’s Day. Sebenarnya, bagaimana pandangan Islam tentang Vanlentine’s Day?

Fani Inganati, Purbalingga

Jawaban:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Mbak Fani yang dimuliakan Allah Swt. Sudah banyak sekali tulisan yang mengkaji hukum Valentine’s Day. Begitu juga sejarah kelahirannya. Saya yakin, Anda sudah banyak membaca atau mendengarnya, terutama tentang hukum merakayan Valentine’s Day. Karena persoalan tersebut sudah menjadi “masalah akut tahunan”.

Saya lebih tertarik untuk membahas motif di balik peringatan Valentine’s Day, yang konon bertujuan untuk memperingati hari kasih-sayang.

Jika kita teliti secara cerdas, sebenarnya peringatan Hari Valentine itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kasih-sayang. Karena kasih sayang itu sebenarnya bisa kita berikan kapan saja, bukan hanya tanggal 14 Februari. Kasih sayang juga bisa diberikan kepada siapa saja, bukan hanya kepada pacar, tapi juga kepada orang tua, guru, teman, dan sesama manusia bahkan binatang dan tumbuh-tumbuhan. Dan, kasih sayang yang paling tinggi dan mulia ialah jika kita mampu mencintai dan menyayangi Allah SWT dan Rasul-Nya, melebihi cinta kita kepada makhluk.

Rasulullah SAW bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه

“Ada 3 hal, yang bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dibandingkan yang lain; dia mencintai seseorang karena Allah; dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam api api.” (HR.Bukhari-Muslim)

So, kasih-sayang dalam Islam dimensinya sangat luas dan universal. Ia bersifat vertical dan horizontal. Ia mencakup segala aspek kehidupan, baik kehidupan di dunia maupun di akhirat. Maka, sangat naïf sekali jika kita mereduksi universalitas kasih-sayang itu hanya kepada pacar dan hanya pada tanggal 14 Februari saja.

Selain mereduksi makna kasih-sayang, peringatan Valentine’s Day juga tidak mencerminkan kasih-sayang itu sendiri. Yang terjadi justru sebuah upacara yang sarat dengan kemaksiatan dan kepentingan bisnis. Maksiat bagi pelakunya dan bisnis bagi pengusaha. Yakni pengusaha hotel, pengusaha kartu ucapan selamat, pengusaha parcel, vas bunga, coklat, alat kontrasepsi, even organizer, dan lain sebagainya. Mereka meraup keuntungan besar dari event ini.

Melalui kekuatan iklan dan promosi, mereka menjejali masyarakat dengan doktrin Valentine’s Day sebagai hari spesial bagi orang yang dikasihi. Padahal tujuannya agar dagangan mereka laku.

Lalu, bagaimana sikap kita?

Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa menggunakan akal sehat dan hati nurani. Jangan sampai kepentingan bisnis yang dibungkus tabir asmara itu, membuat kita gelap mata dan larut di dalamnya.

Sudah banyak peristiwa, di mana pasangan muda-mudi yang merayakan Valentine’s Day justru berakhir dengan “kecelakaan cinta“. Mereka tidak menyadari bahwa diri mereka hanyalah korban iklan dan korban kepentingan bisnis. Mereka hanya mengikuti tren saja, “kemana angin bertiup ke sana ia rebah“.

Maka, tugas kita sekarang adalah tidak menambah daftar korban Valentine’s Day. Mari bentengi diri dan keluarga kita dari iklan-iklan terselubung, yang mengeksploitasi agama dan masyarakat untuk kepentingan bisnis semata. Wal-iyadz billaah.

SebelumnyaIngatkah Anda? Hari Lahir “Sang Kiai” Tertutup Euforia Valentine?
BerikutnyaSeri Tradisi Pesantren (4) KH. Ishaq Lathif, Santri Tebuireng Sejati