Mahasiswa Miami Dade College, USA bersama pihak Universitas Airlangga (Unair) belajar seni budaya di Kampus STKIP PGRI Jombang, (03/06/17). (Foto: Lesbumi NU Jombang)

Tebuireng.online- Setelah berkunjung ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang untuk mempelajari pluralisme dan multikulturalisme di pesantren, di hari yang sama, Sabtu (3/6/17), 11 Mahasiswa Miami Dade College, USA bersama pihak Universitas Airlangga (Unair) juga belajar seni budaya di Kampus STKIP PGRI Jombang.

Sebelumnya, ketika sampai di Tebuireng, ada beberapa hal yang menjadi perhatian mereka di Pondok Pesantren Tebuireng, seperti isu gender dalam pengelolaan pondok pesantren, peran pondok kepada masyarakat sekitar, peran masyarakat kepada pondok, serta peran-peran strategis pondok dalam dinamika sosial politik.

Selepas dari Pondok Pesantren Tebuireng, rombongan langsung melanjutkan perjalanan menghadiri kegiatan budaya. “Kegiatan ini berupa diskusi bertajuk sapa budaya ‘Menggali Akar Harmoni'”, ujar Ketua Lesbumi NU Jombang, Inswiardi.

Kegiatan ini juga masih rangkaian perjalanan program Universitas Airlangga dan Miami Dade College yang bersinergi dengan Lesbumi NU Jombang, STKIP Jombang, dan Dewan Kesenian Jombang.

“Kegiatan Sapa Budaya ini sinergi antara Lesbumi NU Jombang, STKIP Jombang, dan Dewan Kesenian Jombang. Format diskusi dirancang seefektif mungkin, dengan moderator dari Pengajar STKIP PGRI program studi Bahasa Inggris dan Irfan Wahyudi, Phd. selaku ketua program kerja sama Internasional Unair,” ujarnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sebelum diskusi berlangsung, kesebelas mahasiswa tersebut disambut oleh penampilan musik etnik berpadu jazz yang memukau. “Hampir semua mahasiswa Miami Dade College terpana dan menikmati dengan serius tampilan kelompok musik semi gamelan ini,” imbuhnya lagi.

Pada kesempatan tersebut, diskusi berjalan dua sesi. Sesi pertama paparan perspektif rombongan Miami Dade College tentang harmoni yang mereka pahami, terutama harmoni yang telah mereka lihat selama dua minggu kunjungan ke Indonesia.

“Mereka memaknai harmoni itu seperti perpaduan aneka alat musik yang baru saja mereka tonton. Selain itu mereka menyampaikan bahwa harmoni adalah proses menerima satu sama lain,” ungkapnya.

Sesi kedua adalah paparan perspektif harmoni dari undangan diskusi, menurut ketua Lesbumi NU Jombang harmoni adalah penghormatan terhadap sebuah perbedaan. “Harmoni, karena kematangan kita berada di budaya antara keteladanan para ulama dan pendiri bangsa,” pungkasnya.

Acara diskusi dipungkas dengan saling menyampaikan peluang-peluang kerja sama dalam bidang kajian sosial, budaya, pendidikan, serta penelitian.


Pewarta : Rif’atuz Zuhro

Editor : Munawara, MS

Publisher : Rara Zarary

SebelumnyaJalan-jalan
BerikutnyaBangun Kepedulian, Mahasiswa Kepulauan Riau di Jombang Bagi-Bagi Takjil