sumber gambar: megapolitan kompas.com

Oleh: Yasinta*

Peringatan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia (NKRI) masih akan terus terasa di hati setiap bangsa.

Nilai tentang suatu perjuangan, nilai sebuah kebahagiaan, dan bagaimana para pahlawan membela bangsa dan negara hingga titik darah penghabisan, akan terus menjadi bagian penting dalam ingatan bangsa tentang sejarah kemerdekaan negara ini.

Begitu juga dengan perayaan momen hari kemerdekaan RI, masih terngiang meriah dan semanagatnya warga dalam memperingatinya, seperti mengadakan berbagai perlombaan.

Panjat pinang merupakan salah satu perlombaan yang identik dan tidak lepas dari kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun kemerdekaan RI. Berbagai penjuru daerah masih mengadakan perlombaan panjat pinang, dan tidak sedikit warga yang sangat antusias dalam mengadakan pelombaan panjat pinang  tersebut.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Bahkan dari kalangan tua hingga anak-anak pun  mengetahui bagaimana perlombaan panjat pinang, namun sedikit yang mengetahui apa sebenarnya sejarah dari panjat pinang itu sendiri hingga menjadi  perlombaaan legendaris dalam peringatan hari lahir kemerdekaan Indonesia.

Dilansir dari buku Indonesia Poenja Tjerita, pada zaman dahulu  konon ceritanya panjat pinang dimainkan oleh bangsa Belanda yang masih menjajah Indonesia, kala itu permainan panjat pinang dijadikan sebagai ajang hiburan bagi mereka, dikarenakan yang menjadi pemain atau pemanjat dari pinang tersebut adalah orang pribumi yang merebutkan bahan makanan dan pakaian.

Jika dilihat dari sejarahnya memang menimbulkan kontroversi yang cukup besar karena dianggap mengungkit jiwa perbudakan pada masa penjajahan. 

Sebagai warga negara yang baik ,sebaiknya kita tetap dapat belajar dari sejarah hingga  memetik hal positif yang terkandung di dalamnya. 

Panjat pinang memang sangat unik dan mungkin hanya ada di Indonesia, sebatang pohon pinang yang dilumuri olie atau minyak yang sangat licin hingga dipanjat minimal 3 orang peserta untuk mendapatkan hadiah yang menarik dan perlombaan tersebut tidak ada batasan siapa yang ingin menjadi peserta, dari kalangan anak muda, orang tua bahkan pegawai pun bisa mengikuti pelombaan tersebut.

Selain unik panjat pinang juga mempunyai filosofi tersendiri dalam kemerdekaan Indonesia dan dapat diambil hal positif dari perlombaan tersebut. Di antaranya yang pertama, menumbuhkan rasa gotong royong serta kerja sama dalam suatu tim.

Dalam perlombaan panjat pinang untuk dapat mencapai puncak dibutuhkan kerja sama dalam tim, membuat strategi hingga menentukan langkah yang tepat yang akan dilakukan sehingga dibutuhkan gotong royong dan saling membantu antar tim.

Yang kedua menanamkan jiwa pantang menyerah dalam mencapai suatu impian, dalam permainan panjat pinang harus benar-benar semangat dan juga tanpa henti berusaha untuk sampai dipuncak dan mendapatkan hadiah dalam perlombaan tersebut.

Yang ketiga adalah  kerja keras dan perjuangaan, dalam perlombaan panjat pinang akan dilatih kerja keras yang harus ada dalam peserta dan perjuangan dalam mencapainya karena suatu usaha pasti tidak akan menghianati hasil.

Terakhir adalah melatih kekompakan, dalam panjat pinang dibutuhkan suatu kekompakan dalam tim saling bahu membahu dalam mencapai tujuan bersama, dan tidak ada pertengkaran meski hanya salah satu peserta yang dapat mencapai pucuk, hasil yang diperoleh pun secara adil dibagi dengan peserta lainya.

Demikianlah filosofi panjat pinang, apabila  filosofi panjat pinang ditinjau dalam kemerdekaan Indonesia dalam peringatan hari ulang tahun bangsa maka filosofi panjat pinang yang terdapat di dalamnya merupakan salah satu bentuk dari pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Sebagai warga Negara Indonesia yang baik hendaknya dapat mengamalkan dasar Negara Indonsia yakni dapat bersyukur dan bersabar atas apa yang kita terima, mempunyai rasa saling peduli antar sesama, menjunjung tinggi rasa solidaritas hingga dapat bermusyawarah serta bergotong royong antar sesama sehingga dapat menjadikan Indonesia semakian jaya. 

*Mahasiswa Unhasy Tebuireng Jombang.

SebelumnyaKemerdekaan dan Tahun Baru Hijriyah, Berharap Isyarat Surga
BerikutnyaSantri-santri KH. Hasyim Asy’ari di Balik Kemerdekaan RI