
Sosok Teristimewa
Bertemu tak pernah kusangka
Berkenalan aku hanya tahu namanya
Mulanya, ia tak mengenalkan siapa dirinya
Namun nyatanya, tentangku
Ia lebih tahu segalanya
Sang penjaga, begitu kusebut ia
Dalam kekaguman yang diam-diam
Tak banyak ia bertutur
Tapi tiap aksara yang meluncur
Berhasil membuatku tertegun
Tampak begitu tampan
Senyum mahal yang terlontar manis padaku
Tampak begitu dingin
Namun candanya yang langka
Ia bagikan hanya padaku
Tampak begitu ceria
Namun suka-dukanya tersembunyi rapi
Dan aku, diajaknya untuk ikut merasakannya
Ia yang Tak Pernah Memikat
Entah sudah berapa purnama
Ia temani tangisku
Entah berapa tempat
Ia isi dalam sepi ku
Entah berapa cangkir kopi
Kunikmati dalam diam bersamanya
Entah sejak kapan
Di tengah ketidakpedulianku terhadap hati
Ada yang diam-diam mengetuk:
Penuh ketenangan
Penuh kelembutan
Hadir kala aku tak lagi percaya cinta remaja.
Kala aku tak lagi memandang ketampanannya,
Kala aku tak lagi menganggapnya istimewa,
Ia datang, dengan tutur yang tulus,
Penuh rasa memperhatikan,
Penuh rasa menemani,
Penuh rasa mendukung tiap langkahku.
Ia meluluhkan hati kecil ini,
Bukan karena nama tenar,
Bukan karena wajah rupawan,
Tapi karena ketulusannya.
Seringkali kutangisi lelaki,
Tapi bukan karena mereka membahagiakan
Melainkan karena mereka melukai.
Namun kali ini, dengannya,
Kutangisi karena bahagia
Yang tak sanggup lagi kuluapkan dengan kata.
Berhasil Menjadi Kerinduan Sang Atma
Di malam kuselipkan harap,
Di pagi, siang, petang kuselipkan doa.
Melihatnya tertawa aku turut bahagia.
Melihatnya lelah aku pun merasa lelah.
Entah mengapa,
Aku mulai merasa cemas kala tak ada kabarnya,
Cemburu melihatnya bicara bukan denganku.
Pada sunyi, atma meneteskan bulir rindunya.
Pada petang, atma meresah tanpa sebab, katanya.
Pada keramaian, atma bersorak, seolah ia miliknya.
Pada gelap, atma tak bersua,
Kecuali menatap kenangannya.
Penulis: Zulfa Nuril
Editor: Rara Zarary


















