sumber gambar: www.google.com

Oleh: Silmi Adawiyah*

Sungguh indah untaian kata-kata tentang tujuan pendidikan di Indonesia. UU No 20 tahun 2003, tentang Pendidikan Nasional, menyatakan: “Pendidian nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Jika semua ilmu akan bisa mengantarkan seseorang menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan hal baik lainnya, tentu tidak akan ada seseorang yang tidak berakhlak mulia, tidak mandiri, dan tidak bertanggung jawab. Namun masalahnya adalah apakah semua ilmu yang diemban setiap manusia itu bermanfaat dan memiliki nilai? Jawabannya adalah tidak.

Oleh karena itu tulisan ini akan mengutip sedikit karya Abu Nu’aim Al Ashbahani yang termaktub dalam kitab Tahzib Hilyah al-Awliya.  Dalam kitab tersebut dijelaskan:

            لا يكون الرجل من العلم بمكان حتى لا يحسد من فوقه ولا يحقر من دونه ولا يبتغي بالعلم ثمنا

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Ilmu seseorang akan ada nilainya  di sisi Allah jika ia tidak dengki terhadap orang-orang yang di atasnya, dan tidak pula merendahkan orang-orang yang di bawahnya, serta tidak mencari dunia (mematok harga) lewat ilmu.”

Penjelasan yang memaparkan bahwa ada tiga tips agar ilmu tidak menjadi sia-sia. Pertama adalah tidak dengki kepada orang-orang yang di atasnya. Dengki adalah penyakit serius, jika sudah terjangkit sifat dengki indrawinya menjadi bebal. Dalam hal ini, tentu orang yang dengki tidak rela Allah membagi ilmu pada orang lain. Terlebih jika orang lain tersebut terhitung di atasnya. Dengki inilah yang disebut-sebut sebagai menolak takdir Allah, sebab ia tidak rela dan sangat berberat hati jika orang lain menerimanya. Jika seseorang yang berilmu tidak memiliki sifat dengki, tentu ilmunya akan sangat bernilai dan bermanfaat. Namun jika tidak, maka ia akan sia-sia.

Tips yang kedua adalah tidak merendahkan orang yang di bawahnya. Dengan merendahkan orang lain itu sama artinya ia merendahkan Tuhan yang menciptakan. Tidak ada satu orangpun yang suka diremehkan. Tapi, tidak semua orang juga akan melawan saat diremehkan. Itulah yang sering terjadi dalam kehidupan. Jika sudah merasa memiliki ilmu yang cukup dan mumpuni, maka seyogyanya ia bisa menjaga diri agar tidak merendahkan orang lain. Sebab dengan demikian, ilmunya tidak akan menjadi sia-sia.

Tips terakhir adalah  tidak mencari dunia (mematok harga) lewat ilmu. Terlebih jika kedok ilmu agama hanya untuk menipu banyak orang yang sangat membahayakan. Keberedaan ilmu yang disalahgunakaan ini membuat nilainya sia-sia di mata Tuhan dan manusia. Oleh karena itu, pergunakan ilmu dengan sebaik-baiknya, tidak dengan cara yang tidak diperbolehkan.  Penjelasan tiga point ini perlu diperhatikan agar ilmu tetap senantiasa memberi kebermanfaatan dan membimbing kita menjadi manusia yang taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

*Alumni Pesantren Walisongo Jombang, saat ini belajar di Pascasarjana UIN Jakarta.

SebelumnyaLima Kunci Sukses Seorang Santri
BerikutnyaEksistensi Pengabdian Santri di Era Milenial