Tiga Dosa Besar Seorang Mahasiswa

Sumber foto: www.google.com

Oleh: Minahul Asna*

“Ada tiga dosa besar seorang mahasiswa, yaitu tidak membaca, tidak berdiskusi, dan tidak menulis.” Kalimat yang selalu digaungkan oleh mahasiswa Yogyakarya. Kata-kata tersebut pernah menjadi kesadaran di kalangan mahasiswa Yogyakarta. Memang sesuai dengan namanya, mahasiswa yang mana adalah bakal calon dari kaum intelek. Mereka perlu membudayakan ketiga hal tersebut, Membaca, Berdiskusi, dan Menulis. Sampai-sampai disebutkan bahwa jika tidak melakukan ketiga hal tersebut selama selama menjadi mahasiswa seperti memiliki sebuah dosa besar.

Menurut penulis, kata-kata tersebut adalah hal yang bisa dianggap benar. Karena hal ini memang sangatlah perlu menjadi budaya setiap mahasiswa. Pasalnya, siswa yang disebut maha pastilah memiliki semangat belajar yang melebihi siswa-siswa biasa yang mereka setiap harinya belajar, maka sebagai seorang mahasiswa memiliki beban nama, yaitu belajar dengan melebihi siswa biasa.

Membaca

Dikatakan bahwa membaca dapat membuka jendela dunia. Dari membaca kita mendapatkan berbagai informasi yang begitu mendalam. Namun kenyataannya budaya membaca di Indonesia masih sangatlah minim dibandingkan negara-negara lain. Di Indonesia rata-rata setiap orang hanya 3 buku pertahun, padahal di negara-negara maju setiap orang membaca 20-30 buku per tahun. Sungguh perbandingan yang sangatlah jauh. Dari data tersebut Indonesia akan sangat susah untuk menjadi negara maju jikalau minat baca para pemudanya masih jauh dari angka minat baca di negara maju.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam dunia Islam pun telah diabadikan dalam Al Quran awal ayat pertama yang turun yaitu اقرأ  (bacalah), Allah secara jelas memerintahkan kita untuk membaca. Perintah ini adalah suatu yang menjadi landasan utama kewajiban kita, khususnya kaum terpelajar untuk membaca dan terus membaca.

Diskusi

Diskusi merupakan salah satu metode belajar yang terbaik dan efektif untuk kalangan mahasiswa. Di dalamnya tidak hanya mendapatkan satu hal yang baru namun juga kita belajar untuk berpendapat dan juga sekaligus mendapatkan pemahaman yang sangat kompleks. Hal ini bukanlah omong kosong penulis belaka. Bagaimana tidak, berbagai macam otak bertemu secara bersamaan dan berbenturan satu sama lain. Ada yang berargumen A karena B, ada yang berargumen D karena C. Diskusi juga berfungsi untuk mematangkan berbagai literatur yang telah kita baca dan kemudian bisa kita ambil pemahaman yang lebih valid.

🤔  Pengasuh Tebuireng Periode Ketiga KH. Abdul Karim Hasyim (1950 – 1951)

Menulis

Setelah dua hal di atas sudah kita tanamkan dalam-dalam di otak kita, perlu wadah untuk tidak mengendap di memori. Dikatakan bahwa menulis adalah pekerjaan untuk keabadian. Imam Bukhari menuliskan kitabnya yang sangat fenomenal, Shahih Bukhari sudah sejak abad ketiga Hijriyah atau abad kesembilan Masehi dan sampai sekarang, abad ke-21 karya tersebut menjadikan nama Bukhari abadi sampai saat ini. Sudah lebih dari seribu tahun karya tersebut masih utuh dan terus dikaji.

Dikatakan juga selain dengan membaca kita membuka jendela dunia, menulis bisa lebih ekstrim lagi yaitu dapat mengubah dunia. Saat ini banyak media masa yang menggerakkan opini publik. Media secara mendasar dapat memberikan pengaruh yang luar biasa pada semua orang karena dengan saluran yang tersedia memungkinkan semua orang untuk dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara timbal-balik dan dinamis. Setiap tulisan yang menanggapi suatu hal akan dibaca orang berjuta-juta orang dan tentunya itu sedikit banyak akan membekas di memori mereka. Tidak berhenti disitu, imbasnya melalui bacaan, mereka mengubah cara berpikir dan tindakan secara tidak langsung.

Satu peluru, dapat menembus satu kepala, satu tulisan dapat menembus ribuan bahkan jutaan kepala. Berbeda dengan luka akibat sebuah peluru yang bisa dihilangkan dengan diobati, luka atau bekas dari tulisan akan terus tertancap di otak dan akan sangat susah untuk menghilangkannya. Maka dari itu, tulisan bisa menjadi seperti dua bilah pisau yang sangat mematikan atau sangat memberi manfaat.

Mengakhiri tulisan ini, penulis mengajak para mahasiswa untuk membudayakan ketiga hal tersebut untuk menunaikan beban moral title seorang mahasiswa dan juga untuk menjalankannya demi kecerdasan dan kesejahteraan bangsa bukan malah merusak mereka. Wallahu a’lam.

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.