
Pagi itu terlalu cerah untuk seseorang yang sedang ingin menghilang sebentar dari hidupnya sendiri. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar di sudut kamar, memantul lembut pada meja kayu bundar yang dipenuhi buku, cangkir teh hangat, dan sebuah buku catatan yang terbuka setengah.
Di halaman paling depan, tertulis kalimat dengan tinta hitam yang sedikit miring, “Tidak apa-apa untuk tidak kuat hari ini.” Alya menatap tulisan itu lama sekali, seolah sedang mencoba mempercayainya.
Di luar jendela, pepohonan bergerak pelan diterpa angin. Langit biru tampak begitu tenang. Terlalu tenang, sampai-sampai membuat isi kepalanya terasa semakin bising. Sudah tiga hari ia tidak benar-benar tidur. Bukan karena begadang. Bukan juga karena kopi. Tapi karena pikirannya tidak pernah selesai bekerja. Tentang pekerjaan yang menumpuk. Tentang ibunya yang sakit di kampung. Tentang adiknya yang sebentar lagi masuk kuliah dan membutuhkan biaya. Tentang dirinya sendiri yang perlahan terasa seperti rumah kosong.
Ponselnya kembali bergetar di atas meja. Nama atasannya muncul. Alya menarik napas panjang sebelum mengangkat telepon itu.
“Alya, revisi proposalnya sudah selesai?” suara di seberang terdengar cepat dan dingin.
“Masih saya kerjakan, Pak.”
“Masih? Deadline siang ini.”
“Saya usahakan selesai.”
“Bukan diusahakan. Harus selesai.” Telepon terputus.
Alya menunduk. Jemarinya gemetar kecil saat meletakkan ponsel kembali. Ia memejamkan mata beberapa detik, lalu menahan napas seperti seseorang yang sedang berusaha agar dirinya tidak runtuh.
Padahal beberapa menit lalu ia baru saja menerima pesan dari rumah sakit bahwa ibunya harus menjalani pemeriksaan tambahan. Biayanya tidak sedikit. Ia ingin menangis. Tapi anehnya, air mata juga kadang lelah keluar.
***
Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, Alya menjadi orang yang paling sering berkata, “Tenang, nanti aku yang urus.”
Ia mengurus biaya rumah. Mengurus adiknya. Mengurus ibunya. Mengurus dirinya sendiri yang diam-diam berantakan. Semua orang menganggap Alya kuat. Tetangga memujinya. Keluarga membanggakannya. Teman-temannya sering berkata, “Kamu hebat banget bisa setegar itu.”
Tapi tidak ada yang tahu bahwa setiap malam, setelah semua orang tidur, Alya duduk sendiri di dekat jendela sambil bertanya dalam hati:
Kalau aku capek, siapa yang akan mengurus aku? Ia tidak pernah benar-benar punya jawaban. Hari itu, laptop di depannya terasa seperti musuh.
Huruf-huruf di layar tampak kabur. Kepalanya berat. Dada sesak seperti diikat sesuatu yang tidak terlihat.
Ia mencoba fokus. Satu paragraf. Dua paragraf. Lalu berhenti lagi. Ponselnya berbunyi. Kali ini dari ibunya.
“Alya…” suara ibunya pelan sekali. “Ibu nggak apa-apa, Nak.” Justru kalimat itu yang membuat dadanya makin sakit.
“Alya nanti kirim uang lagi, Bu.”
“Jangan dipaksakan.”
“Nggak dipaksa.” Padahal ia baru sadar saldo rekeningnya tinggal cukup untuk bertahan seminggu.
“Alya kerja terus ya?” tanya ibunya hati-hati.
“Iya.”
“Jangan lupa istirahat.” Alya tersenyum kecil meski ibunya tidak bisa melihat.
“Iya, Bu.” Namun setelah telepon ditutup, senyum itu hilang begitu saja.
Karena kenyataannya, Alya bahkan sudah lupa bagaimana rasanya benar-benar beristirahat tanpa rasa bersalah.
***
Menjelang sore, hujan turun tiba-tiba. Langit yang tadi cerah berubah kelabu. Tetes-tetes air membasahi kaca jendela, menciptakan suara kecil yang entah kenapa terasa menenangkan.
Alya memandangi hujan itu lama. Lalu untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia membiarkan dirinya menangis.
Pelan. Diam-diam. Tanpa ditahan. Tangis yang selama ini disembunyikan di balik jawaban “aku gapapa”. Tangis karena lelah menjadi kuat terus-menerus.
Tangis karena hidup tidak pernah memberinya jeda. Tangis karena ia juga ingin dipeluk oleh keadaan, sekali saja. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dan di tengah suara hujan, ia akhirnya mengakui sesuatu yang selama ini selalu ia bantah sendiri:
Aku capek. Kalimat itu sederhana. Tapi rasanya seperti pintu yang akhirnya terbuka setelah lama terkunci.
Malam datang perlahan. Hujan sudah reda ketika seseorang mengetuk pintu apartemennya. Alya mengusap wajah cepat-cepat sebelum membuka pintu. Di sana berdiri Nara, sahabatnya sejak kuliah, membawa dua bungkus makanan dan sekantong roti hangat.
“Kamu belum makan, kan?” tebak Nara.
Alya diam.
Nara masuk tanpa menunggu jawaban.
“Aku tahu.”
Mereka duduk bersama di dekat meja kayu kecil. Tidak banyak bicara. Hanya suara hujan sisa dan denting sendok sesekali.
Sampai akhirnya Nara memandangnya pelan.
“Kamu kelihatan lelah banget.”
Kalimat itu sederhana. Tidak menghakimi. Tidak memaksa Alya terlihat kuat. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat pertahanannya runtuh lagi.
“Aku takut kalau aku berhenti sebentar… semuanya ikut hancur,” suara Alya pecah.
Nara terdiam beberapa saat sebelum menjawab pelan.
“Kadang manusia bukan butuh jadi kuat. Kadang manusia cuma butuh ditemani.” Alya menangis lagi. Tapi kali ini berbeda. Bukan tangis yang sunyi dan sendirian. Melainkan tangis seseorang yang akhirnya merasa boleh rapuh.
***
Malam semakin larut. Lampu kamar berwarna kuning hangat. Udara setelah hujan terasa dingin dan bersih. Alya kembali duduk di dekat jendela sambil memandangi langit yang mulai dipenuhi bintang kecil.
Di meja depannya, buku catatan itu masih terbuka. Ia mengambil pena perlahan. Lalu menambahkan satu kalimat baru di bawah tulisan sebelumnya, “Besok mungkin masih berat. Tapi hari ini aku sudah bertahan.”
Alya tersenyum kecil setelah menulisnya. Bukan senyum bahagia sepenuhnya. Tapi senyum seseorang yang akhirnya berhenti memusuhi dirinya sendiri. Untuk malam itu, barangkali… itu sudah cukup.
Penulis: Ummu Masrurah


















