
Jalan Pulang yang Terlambat
Aku berjalan di jalan yang sepi
Menyusuri jejak yang dulu kuabaikan.
Pohon-pohon berdiri seperti saksi bisu,
Mengingatkan bahwa aku pernah menolak pulang
Ketika semua orang menungguku di beranda.
Waktu itu, aku merasa benar.
Kupikir jalan panjang di luar sana lebih indah,
Lebih penuh cahaya, lebih menjanjikan.
Tapi cahaya itu hanya fatamorgana
Dan aku kembali dengan hati yang kosong.
Kini pintu itu tertutup rapat.
Tak ada lagi tangan yang menunggu di baliknya,
Tak ada lagi suara yang memanggil namaku.
Aku hanya membawa penyesalan
Yang tumbuh seperti ilalang
Menghantui langkahku sampai ujung usia.
Kata yang Tak Pernah Tersampaikan
Pernah ada malam ketika aku ingin berkata:
“Maaf, aku salah. Maaf, aku terlalu keras.”
Tapi lidahku kelu,
Egoku lebih tinggi daripada cinta.
Hari berganti, jarak merenggang,
Hingga akhirnya aku tak lagi punya kesempatan.
Kini aku berbicara pada bayangan,
Mengirim kata pada angin,
Berharap entah bagaimana kau mendengar
Dari dunia yang jauh di luar jangkauanku.
Penyesalan adalah bisikan yang tak henti,
Menyusup ke dalam mimpi,
Mengguncang tidur yang seharusnya tenang.
Betapa ingin aku kembali,
Sekadar untuk mengucap maaf
Sebelum segalanya berakhir.
Luka di Dalam Diri
Aku pernah mengabaikan hatiku sendiri,
Membiarkannya terluka oleh keputusan yang gegabah.
Kupikir semua bisa sembuh dengan waktu,
Tapi ternyata waktu hanya mempertebal luka itu.
Aku menyesal
Bukan hanya pada dunia,
Tapi pada diriku yang dulu berusaha kuat
Namun tak mendapat perlindungan dariku.
Aku menyesal karena tak mendengarkan
Suara lirih dari dalam dada
Yang meminta aku berhenti,
Yang memohon aku lebih sabar,
Yang berteriak minta disayangi.
Kini, aku hidup dengan bayangan itu.
Belajar menambal luka sedikit demi sedikit,
Menyadari bahwa penyesalan bukan hanya ratapan,
Tapi cambuk yang mengajarkan:
Betapa rapuhnya manusia,
Betapa berharganya kesempatan
Yang tak akan pernah kembali.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















