sumber ilustrasi: liputan6.com

Oleh: Riskiyatul Hasanah*

Ingin kujelaskan sajak resah dari lahir luka
perihal cinta yang tumbuh namun hampa
namun merekah ketika senja
seperti bunda yang pernah memulai segala degannya

namun ini masih malam hari
belum terbit esok yang tuhan janjikan
belum terlihat fajar anggun itu
masih malam hari saja seperti aku masih di perutnya

tidak ada yang melupakan hari di mana badai seketika menyambar
selain aku yang penuh harap bisa memeluk rengkuh tubuhmu
seperti saat bunga di depan rumah masih mekar
atau dipeluk, seperti anak kecil di depanku yang mengundang iri
dari hati yang tertampar rapi

tenang saja, tidak ada rindu yang terlewat sedikitpun
selama hati tidak pecah karena ku tindas sendiri
seperti halaman yang tak berumpun
luka dan kosong, tidak hilang tidak juga pergi

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

manis sekali
anak kecil yang diringkuh
para remaja yang menyandarkan kepalanya di bahu ibu
para dewasa yang menceritakan kehidupannya di depan matanya, di dengarkan telinganya

aku masih empat tahun bu
tatkala belajar membaca adalah harapanku
berhitung, menulis dan memahami menjadi pintaku
walau tahun kian datang, tuhan yang tidak hilang
dan umur yang kian membisu

pahit sekali
saat tumpukan sapu lidi aku goreskan di tanahmu
membuang segala hal yang merusak indah tamanmu
di rumah tempat tuhan menyiapkan segala akhir
memahami segala hidup tanpa dipahami takdir

manusia bilang rumah itu adalah tempat pulang yang paling relung
tempat tumpah lelah yang paling teduh
aku juga ingin segalanya usai, lalu kembali pulang
menikmati rumahku yang paling indah

“aku tunggu di rumah tuhan”
hanya bisikan,  kau, bu?
sapu lidiku terdiam begitu lama saat kau berbisik
dan aku benar-benar menunggu, saat tepat untuk pulang.

kenapa tidak mengajakku saja
bisikan ini tidak ada guna
tidak menopang sakitku di dunia
tidak menawar pahit yang tak kian memburam

tidak ada yang paling pelik
selain jarak dari peluk yang hilang
aku rindu tempat mewahku dulu
pulang yang paling
rumah yang menampung segala hidangan kehidupan.

*Penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Sumenep, aktif d LPM Retorika.

SebelumnyaWaktu yang Kita Habiskan Untuk Berpikir
BerikutnyaCatatan Kader Diklat