Tebuireng, NU, dan Kebangsaan Jadi Materi Penguatan Aswaja bagi Siswa Kelas Akhir

61
Ustadz Abdul Malik saat menyampaikan materi ke-NU-an dan ke-Tebuireng-an di depan siswa-siswi kelas akhir MA SS (foto: amalia rahmah)

Tebuireng.online— Materi Penguatan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), di MA Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Tebuireng, juga disampaikan oleh Ustadz Abdul Malik. Ia mengawali pemaparannya dengan memutar video pesan almarhum KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang berpesan tentang pentingnya menjaga dan mendidik putra-putri di tengah tantangan zaman.

Ustadz Abdul Malik menjelaskan bahwa kegiatan Penguatan Aswaja yang digelar selama dua hari ini memiliki urgensi tinggi, karena empat materi yang disampaikan merupakan rangkuman dari pembelajaran Aswaja yang telah diterima santri selama menempuh pendidikan di bangku sekolah.

Baca Juga: Bicara Penguatan Aswaja, Ustadz Roziqi Tegaskan Amaliyah Beragama Harus Bersanad

Selanjutnya, ia memantik semangat para santri dengan mengingatkan kembali visi dan misi Pesantren Tebuireng. “Tebuireng adalah pabrik para pemimpin. Maka anak-anak, para santri, harus sadar bahwa kalian di sini dicetak menjadi pemimpin, baik di tingkat desa, kabupaten, provinsi, hingga negara,” tegasnya, di hadapan santri kelas akhir MA SS, Ahad (1/2/2026).

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Pesantren Tebuireng telah melahirkan banyak tokoh dan pemimpin bangsa, di antaranya Presiden ke-4 Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Wahid Hasyim sebagai Menteri Agama RI pertama, Wakil Presiden Ma’ruf Amin, serta tokoh nasional lainnya, termasuk Menteri Haji dan Umrah RI, KH. Mochammad Irfan Yusuf (Gus Irfan). 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Mengutip pesan Gus Irfan, Ustadz Abdul Malik menegaskan bahwa hubungan Tebuireng dan Nahdlatul Ulama ibarat dua sisi mata uang yang berbeda namun tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus dirawat dan dijaga secara bersama-sama.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengulas makna lambang Pesantren Tebuireng. Garis segitiga melambangkan keteguhan iman dan pendirian, lingkaran bola bermakna kebebasan berkiprah tanpa berpihak pada golongan tertentu, garis tegak melambangkan istiqamah dalam menjalankan tugas, bintang bermakna cita-cita luhur, serta sayap sebagai simbol semangat dan kebangkitan dalam menegakkan kebenaran.

Baca Juga: ASWAJA Center Tebuireng Bekali Siswa MASS Peta Gerakan Islam di Indonesia

Ustadz Abdul Malik kemudian menjelaskan Lima Prinsip Dasar Pesantren Tebuireng yang merepresentasikan keteladanan Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

“Lima prinsip tersebut adalah ikhlas, pekerja keras, jujur, bertanggung jawab, dan tasamuh atau toleransi,” terangnya.

Ia juga memaparkan Budaya Pesantren Tebuireng (BERKAH) yang merupakan akronim dari Berilmu, Etika, Religius, Kreatif, Amal Shalih, dan Hikmah. Menurutnya, budaya berilmu mencerminkan ketekunan dan keaktifan santri dalam memperoleh pengetahuan.

“Kalau menjadi santri Tebuireng harus fokus pada ilmu dan mendedikasikan diri sepenuhnya untuk ilmu,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengulas filosofi etika yang mencakup pemahaman tentang kebaikan, tata krama, akhlak, keadilan, serta tanggung jawab sosial. Adapun religius dimaknai sebagai penguatan pemahaman agama bagi seluruh civitas Pesantren Tebuireng sebagai tujuan utama pendidikan, dengan penguatan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipadukan dengan kurikulum kekinian untuk menyiapkan generasi beriman dan bertakwa dalam menghadapi perubahan zaman.

Baca Juga: Alasan Memilih Empat Imam Mazhab dalam Tradisi Aswaja

Nilai kreatif, lanjutnya, mengajarkan penghargaan terhadap keunikan, keindahan, inovasi, serta keberanian menghadirkan hal baru dalam proses kreatif sebagai bekal santri menjadi agen perubahan. Sementara amal shalih dimaknai sebagai perwujudan ilmu dalam tindakan nyata yang baik, benar, dan bermakna, berlandaskan akhlakul karimah dan pemahaman agama yang mendalam agar mampu menebar manfaat di tengah masyarakat.

Adapun hikmah mencerminkan kedalaman pemahaman dan kebijaksanaan dalam bersikap dan bertindak. “Hikmah mencakup kemampuan menilai situasi dengan bijak, mengambil keputusan yang tepat, memahami konsekuensi, serta membagikan kearifan dalam menjalani kehidupan kepada orang lain,” pungkasnya.



Pewarta: Ilvi Mariana
Editor: Rara Zarary