Oleh: Quratul Adawiyah*

Tak perlu diragukan lagi jika keberadaan wanita muslimah yang senantiasa sadar akan menjadi terhormat oleh pribadi keislaman yang dimilikinya. Bahkan tampak istimewa seorang wanita menempati posisi mulia, sebagaimana ini telah dibina oleh Islam sejak dini. Sejak dahulu kala agama Islam mengatakan bahwa para wanita adalah mitra dekat kaum pria sebagaimana ini diperjelas oleh teks yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ad-Darami dan Ahmad. Pada masa di mana masyarakat menengah dalam dunia umat Nasrani masih terbimbangkan oleh persoalan kemanusiaan wanita dan karakter kejiwaannya.

Hingga pada zaman Rasulullah beliau mengambil bai’at Islam dan kebutuhan para wanita, sebagaimana ini dilakukannya terhadap kaum pria. Dan bahkan pembai’atan terhadap wanita oleh Nabi Saw, memiliki tingkat tersendiri di samping laki-laki, dan bukan sekedar mengekor kepada mereka. Semua menegaskan, kemandirian jati diri wanita muslimah dan keahliannya dalam memikul tanggung  jawab karena menyatakan sumpah setia dan menjadikan komitmen untuk memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya.

Sungguh bila wanita muslimah modern yang sadar memahami semua ini, niscaya dia akan penuh rasa kekaguman atas kebenaran agamanya yang selalu berada pada garis kebenaran. Yang demikian itu karena Islam lah yang telah memberikan garis persamaan antara kaum pria dan wanita dalam hal mendapatkan perlindungan hak asasinya.

Bahkan Islam telah mensejajarkan antara pria dan wanita dalam pelaksanaan tugas kewajiban sebagai individu makhluk sosial. Karena keduanya telah diikat oleh tali kekhilafahan secara bersama untuk andil di bumi ini, yang secara langsung juga keduanya ditugasi mengelola bumi dan mengabdi kepada Allah. Semua itu sebagai realisasi adanya saling lindung-melindungi, rasa peduli dan saling tolong menolong antara dua jenis manusia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sebagaimana ini dipertegas dalam Al-Qur’an surah An-Nahl:97 yang artinya: “Barangsiapa berbuat amal shalih, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Namun tetap saja mulia kedudukan seorang wanita tetaplah di atas pria, karena yang demikian itu dikarenakan, ia figur wanita yang sengaja dalam hal penciptaan, ia yang mengandung janin, kemudian menyusui, mengasuh dan merawatnya. Dalam hal ini merupakan proses yang berat dan tugas yang besar. Maka sebagaimana Islam telah mengangkat harkat dan kedudukan wanita, dengan cara menempatkan posisinya lebih tinggi dibanding ayah, Islam juga mengangkatnya melalui penyertaan dirinya di belakang nama suaminya, setelah disebutnya nama suami yaitu setelah terjadinya ikatan pernikahan. Dengan ini, Islam memberikan pesan untuk berbakti kepada suaminya, patuh , hormat, menghargai serta mendampingi suami sebaik-baiknya.

Melihat  fakta ini sudah sangat jelas  bahwa Islam mengangkat wanita kepada tingkatan yang mulia adalah hal yang nyata. Dan semakin jelas juga betapa tingginya kepedulian Islam untuk menjadikan wanita sebagai sosok pribadi yang merdeka. Berjaya dan terhormat.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaSalut! Pascasarjana Unhasy Gelar Webinar Bangun Peradaban Indonesia
BerikutnyaRasakan Manfaatnya, Pengaruh Menulis Ekspresif