SMP Sains Tebuireng Gelar Peringatan Isra Mikraj, Pak Sholah Ajak Santri Miliki Mentalitas Padi

49

KH M. Sholahudin, M.Pd., saat memberikan tausiyah di acara peringatan isra mi’raj yang diadakan oleh SMP Sains Tebuireng, Kamis (22/1/2026). Foto: Aulia

Tebuireng.online– SMP Sains Tebuireng menyelenggarakan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW dengan mengusung tema “Jadikan Sholat Sebagai Perisai Diri dan Sarana Menjemput Prestasi”, Kamis (22/1/2026). Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan pondok, Kepala SMP Sains, Kepala SMA Trensains, serta seluruh guru, pembina, dan siswa-siswi SMP Sains Tebuireng.

Hadir sebagai penceramah utama, KH M. Sholahudin, M.Pd., mengawali mauidzah hasanah dengan mengedukasi para santri mengenai urutan bulan-bulan dalam kalender Hijriah serta nama-nama hari dalam tradisi Islam.

Dalam tausiyahnya, mantan Kepala Madrasah Aliyah Syafiiyah Sebuireng (MASS) ini menyinggung perihal hari kiamat. Beliau menjelaskan bahwa hari kiamat diyakini akan terjadi pada bulan Muharram, meskipun waktu pastinya merupakan rahasia Allah SWT.

“Dalam Al-Qur’an banyak potongan ayat yang menjelaskan bahwa dunia yang kita pijak ini akan menemui batasnya, seperti dalam Surah Al-Waqi’ah dan Al-Zalzalah. Sebagai orang beriman, kita wajib percaya dan mengimaninya,” ujar Pak Sholah, sapaan akrabnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beliau juga memaparkan keagungan bulan Muharram sebagai bulan kemenangan para Nabi. Di bulan ini, Allah menyelamatkan Nabi Nuh AS dari banjir besar, menolong Nabi Musa AS dari kejaran Fir’aun, hingga menjadi waktu turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW.

Lebih lanjut, Pak Sholah mengulas keistimewaan bulan Rajab sebagai momentum terjadinya peristiwa Isra Mikraj. Menurut beliau, pelajaran fundamental dari peristiwa tersebut adalah penataan kualitas ibadah, terutama salat.

“Pelajaran paling besar dari Isra Mikraj adalah bagaimana kita menata kualitas ibadah kita. Qad aflaha al-mu’minun, keberhasilan seorang mukmin itu sangat ditentukan oleh salatnya,” tegasnya.

Untuk menggambarkan urgensi kekhusyukan, Pak Sholah menceritakan kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang tetap tenang saat tombak dicabut dari tubuhnya karena saking khusyuknya dalam salat. “Sementara kita, digigit nyamuk saja sudah grusa-grusu luar biasa,” seloroh beliau yang disambut tawa para jamaah.

Guru senior Aliyah ini juga menekankan bahwa prestasi bukan semata hasil kecerdasan manusia, melainkan anugerah Allah SWT. Beliau mengingatkan agar pencapaian duniawi tidak menjauhkan seseorang dari Sang Pencipta.

“Prestasi itu anugerah Allah. Manusia boleh punya rencana, boleh berusaha, tapi takdir itu milik Allah. Jangan sampai merasa semua kekuatan dan nikmat itu milik sendiri,” tegasnya.

Ia menganalogikan manusia seperti ilmu padi, yakni semakin berisi maka seharusnya semakin merunduk. Beliau memperingatkan bahaya istidraj, di mana seseorang merasa pintar namun justru semakin jauh dari Allah.

Menutup tausiyahnya, Pak Sholah berpesan kepada para santri agar senantiasa menjaga amalan salat sunnah sebagai kunci kesuksesan dunia dan akhirat.

“Kalau ingin sukses, jangan tinggalkan salat Tahajud, salat Fajar, dan salat Duha. Salat adalah media mikraj kita, dan yang pertama kali ditanya di hadapan Allah adalah salat,” pungkasnya.

Rangkaian kegiatan peringatan Isra Mikraj ini diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh KH Agus Abdul Mughni.


Pewarta: Aulia Rachmatul Ummah

Editor: Sutan