
Tebuireng.online- Forum Diskusi Santri Salaf (FORDISAF) menggelar peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Gedung KH Yusuf Hasyim Lantai 1, Pesantren Tebuireng, Kamis (22/1/2026). Mengusung tema peningkatan kesadaran menjaga salat dan akhlakul karimah, acara ini diikuti oleh sekitar 150 santri dengan penuh antusiasme.
Kepala Madrasah Aliyah, Ustadz Muhammad Subhan, S.Pd.I., dalam sambutannya mengajak para santri untuk merefleksikan kembali tujuan utama bergabung dalam forum diskusi ini. Beliau menekankan pentingnya penguatan keilmuan salaf sebagai identitas santri Tebuireng.
“FORDISAF ini adalah harapan sekaligus cita-cita luhur almarhum KH Ishomuddin Hadzik (Gus Ishom) untuk membentuk santri yang kegiatannya tidak lepas dari lalaran dan musyawarah seputar fikih, sehingga keilmuan tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Ustadz Subhan.
Senada dengan hal tersebut, Pembina FORDISAF, Ustadz Said Ridwan, memberikan teguran keras terkait kedisiplinan ibadah. Beliau menegaskan bahwa predikat sebagai “santri salaf” membawa tanggung jawab moral yang besar.
“Ketika seseorang sudah menyandang gelar santri salaf, maka tidak layak baginya untuk menyepelekan shalat berjamaah, apalagi sampai meninggalkan salat,” tegas Ustadz Said.
Acara inti diisi dengan mauidzah hasanah oleh KH Agus Maulana, Pengasuh Pesantren Al-Muhsinin Cukir. Sebagai alumni sekaligus bagian dari keluarga besar Pesantren Tebuireng, beliau membawakan materi dengan gaya khas pesantren.
Kiai Agus menguraikan secara mendalam kandungan Surat Al-Isra ayat 1. Uniknya, beliau membedah ayat tersebut ditinjau dari berbagai disiplin keilmuan seperti tafsir, nahwu, dan shorof. Penjelasan yang berbasis ilmu alat ini membuat para santri tampak sangat antusias karena sangat dekat dengan tradisi literasi mereka sehari-hari.
Ketua Panitia, Andika, menyampaikan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sarana mempererat ukhuwah antar-anggota FORDISAF. Ia berharap nilai-nilai luhur dari peristiwa Isra Mikraj dapat benar-benar diamalkan dalam kehidupan santri.
“Harapannya ke depan santri FORDISAF semakin solid, serta keilmuan yang diperoleh dapat memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat luas,” ungkap Andika.
Kegiatan ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh KH Agus Maulana. Melalui acara ini, santri FORDISAF diharapkan terus konsisten menjaga tradisi musyawarah fikih tanpa melupakan kedisiplinan ibadah sebagai pilar utama kehidupan pesantren.
Pewarta: Fatih Maulana
Editor: Sutan


















