Siti Hajar, Potret Ketaatan dan Ketegaran Seorang Perempuan Sejati

381
Sumber foto: http://www.reportaseterkini.net

Oleh: Vevi Alfi M.*

Moment bulan Dzulhijjah ini, kita diperintahkan untuk melaksanakan ibadah haji dan menyembelih hewan Qurban. Pensyariatan keduanya tersebut tak terlepas dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dan juga ibundanya, yakni Siti Hajar. Ia adalah budak dari Sarah yang diberikan kepada Ibrahim untuk dinikahi suaminya.

Nabi Ibrahim dan Siti Sarah telah menanti lama kedatangan buah hati, namun Allah belum mengaruniai keduanya. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Hajar, sahaya yang dipilih Sarah untuk Nabi Ibrahim, melahirkan buah hati bernama Ismail. Sebagai seorang istri hati siapa yang tidak cemburu? Begitulah yang dirasakan Sarah ketika melihat kehadiran Ismail di tengah keluarganya.

Siti Hajar mengetahui tentang kecemburuan Sarah. Bagaimanapun, ia tak ingin menyakiti Sarah yang sangat baik terhadapnya. Hajar mengetahui situasi seperti itu, tidak baik untuk pertumbuhan putranya. Akhirnya, Allah memberi putusan bagi Hajar untuk berhijrah karena Allah Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membawa Ismail dan Siti Hajar pergi dari rumah ke tempat yang jauh.

Nabi Ibrahim membawa istri dan anaknya yang masih menyusu itu dan menempatkan keduanya di dekat Baitullah di sisi pohon. Dengan berbekal tempat makanan berisi kurma dan tempat minum berisi air, Ibrahim meninggalkan keduanya. Nabi Ibrahim AS, bukanlah pergi atas kemauan beliau sendiri. Semua itu adalah atas perintah Allah. Dengan berat hati , beliau melanjutkan perjalanan sampai ke Tsaniah, dimana istri dan anaknya tak lagi bisa melihatnya.

Nabi Ibrahim sebagai ayah yang penyayang sangat sedih. Namun, Nabi Ibrahim yakin Allah menginginkan yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Nabi Ibrahim menghadapkan wajahnya ke Baitullah seraya mengangkat kedua tangannya dan berdo’a untuk keduanya.

Sementara itu, Siti Hajar menyusui Ismail kecil dan minum dari tempat pembekalannya. Setelah air itu habis, ia kehausan, demikian pula anaknya. Siti Hajar memperhatikan anaknya yang berguling-guling kehausan, ia tak tega. Dengan penuh cinta, ia beranjak pergi mendaki bukit Shafa, ia berharap ada orang yang menolongnya atau menemukan lokasi air untuk mereka.

Ketika tak menemukan apa yang dicarinya, ia menaiki bukit Marwah, dan terus-menerus seperti itu sebanyak tujuh kali. Sampai datanglah pertolongan Allah. Tiba-tiba air keluar dari bawah kaki Ismail kecil yang menangis karena kehausan. Hajar takjub dan berkata “Zam Zam, Zam Zam, Berkumpul-berkumpul”. Ia segera membuat kolam kecil agar air Zam-Zam tidak ke mana-mana.

  4 Cara Parenting ala Nyai Solichah Wahid

Siti Hajar minum lalu menyusui anaknya. Dengan limpahan karunia berupa air yang diberikan Allah kepadanya, banyak manusia yang singgah dan menetap di sana hingga ramailah tempat itu. Peristiwa mendaki bukit Shafa dan Marwah diabadikan Allah sebagai salah satu rukun haji dan umrah, yaitu sa’i. Tujuannya adalah agar kita yakin bahwa Allah tak akan menyia-nyiakan kita jika kita patuh dan berusaha semaksimal mungkin dalam berjuang.

Apa pelajaran yang dapat dipetik dalam kisah Siti Hajar ini? Pertama, keyakinan bahwa Allah menyayanginya dan selalu menolongnya, membuat Siti Hajar tidak takut pada apapun. Namun, Ia juga tidak hanya berpangku tangan dalam menghadapi situasi sulit tersebut. Melainkan berusaha dan berikhtiar terlebih dahulu dengan usaha yang yang luar biasa. Kedua, pilihan Siti Hajar agar tidak membuat Siti Sarah cemburu adalah tepat, pilihan inilah yang perlu dicontoh oleh kaum perempuan agar tidak saling menyakiti antar satu dengan lainnya.

Ketiga, mengingat kisah ini membawa kita lebih bersemangat dalam menjalani hidup dan tidak putus asa berjuang menghadapi ujian untuk menjadi manusia yang berkualitas. Keempat, Siti Hajar adalah lambang wanita sejati yang taat kepada suami dan perintah Allah. Segala kesukaran, kepahitan, keresahan yang ditempuhnya bersama anak kecilnya adalah lambang kesetiaan dan kepatuhan seorang istri kepada peraturan suaminya.

Dan yang terakhir, dari kisah Siti Hajar di atas, menunjukkan bahwa Allah tidak membedakan hambanya berdasarkan pangkat, jabatan, golongan, status, dan lain sebagainya. Semua sama di mata-Nya. Yang membedakan, yaitu ketaatan dan ketakwaan manusia kepada-Nya. Begitulah potret Siti Hajar yang sebelumnya seorang budak, namun mulia di mata Allah karena ketaatannya. Bahkan namanya harum sepanjang masa, dan dikenang dalam beberapa ritual pada ibadah haji. Wallahu ‘Alam Bis Shawab.


*Mahasantri Putri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dan Pembina di Pondok Putri Pesantren Tebuireng