Sisi Terbaik Ilmu ialah Saat Menjadi Amal

63

Coba bayangkan ada seorang petani yang hafal semua teori tentang bercocok tanam, tetapi tidak pernah turun ke sawah. Atau seorang tukang kayu yang pandai menjelaskan cara membuat kursi, namun belum pernah memegang palu dan gergaji. Tentu terasa aneh. Sebab, pengetahuan tentang bertani atau bertukang baru memiliki nilai ketika diwujudkan menjadi hasil nyata.

Begitu pula dalam kehidupan beragama. Ilmu dan amal tidak bisa dipisahkan. Sayangnya, banyak orang merasa cukup hanya dengan mendengar kajian, membaca kitab, atau menghafal dalil, sementara perilaku sehari-hari tidak berubah. Padahal, ukuran terbaik dari ilmu bukanlah banyaknya hafalan, melainkan sejauh mana ilmu itu memengaruhi amal seseorang.

Bulan Dzulqa’dah memberi pelajaran penting tentang hal tersebut. Sebagai salah satu bulan haram yang dimuliakan Allah, bulan ini menjadi masa persiapan bagi para jamaah haji menuju Tanah Suci. Ilmu manasik tidak cukup dipahami secara teori, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk ihram, tawaf, sa’i, hingga wukuf di Arafah.

Seseorang yang hanya bercerita tentang Makkah tanpa pernah melangkahkan kaki ke sana tentu tidak akan sampai. Begitu juga ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Kita tahu kewajiban salat, pentingnya bersedekah, menjaga lisan, berbuat jujur, dan menyambung silaturahmi. Namun pertanyaannya, apakah semua itu sudah benar-benar menjadi amal?

Allah SWT berfirman:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (Q.S. As-Saff: 2–3)

Ayat ini menjadi peringatan keras agar ucapan tidak berhenti pada teori semata. Ilmu yang tidak diamalkan bukan hanya sia-sia, tetapi bisa menjadi beban di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Al-Qur’an itu bisa menjadi pembela (hujjah) bagimu atau penuntut (hujjah) melawanmu.” (HR. Muslim)

Maksudnya, Al-Qur’an bisa menjadi pembela bagi seseorang atau justru menjadi saksi yang memberatkannya, tergantung apakah isinya diamalkan atau tidak.

Pelita yang Membakar Diri Sendiri

Rasulullah ﷺ pernah memberi gambaran tentang orang yang mengajarkan kebaikan tetapi melupakan dirinya sendiri. Beliau bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَيَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيءُ لِلنَّاسِ وَيَحْرِقُ نَفْسَهُ

“Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia namun ia melupakan dirinya sendiri, laksana sebuah lilin yang menerangi orang sambil membakar dirinya.” (H.R. At-Tabrani)

Perumpamaan ini sangat dalam maknanya. Ada orang yang pandai berbicara tentang kesabaran, tetapi mudah marah. Ada yang sering menasihati tentang kejujuran, tetapi masih berbuat curang. Ada pula yang mengajak orang rajin ibadah, sementara dirinya lalai. Ilmu semacam ini justru bisa menjadi musibah bagi pemiliknya.

Allah SWT juga memberikan permisalan dalam Al-Qur’an:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

“Perumpamaan orang-orang yang dibebani tugas mengamalkan Taurat, kemudian tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab (tebal tanpa mengerti kandungannya). (Q.S. Al-Jumu’ah: 5)

Namun sebaliknya, amal tanpa ilmu juga berbahaya. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak” (HR. Muslim)

Semangat saja tidak cukup jika tidak dibimbing ilmu yang benar. Orang yang berjalan cepat di malam gelap tanpa mengetahui arah justru berisiko tersesat atau jatuh ke jurang. Karena itu, para ulama selalu menekankan pentingnya ilmu sebelum beramal. Imam Syafi’i rahimahullah bahkan menyebut menuntut ilmu lebih utama daripada salat sunah, sebab ilmu menjadi dasar diterimanya amal.

Dengan demikian, ilmu yang terbaik adalah ilmu yang mendorong amal, dan amal yang terbaik adalah amal yang dilandasi ilmu. Keduanya harus berjalan beriringan seperti dua sayap burung. Jika satu patah, tak akan bisa terbang.

Menghidupkan Ilmu Menjadi Amal di Bulan Dzulqa’dah

Bulan Dzulqa’dah, sebagai salah satu bulan haram, memiliki keistimewaan berupa pahala kebaikan dilipatgandakan, dan dosa kejahatan juga digandakan. Inilah momentum tepat untuk melatih diri menghidupkan ilmu menjadi amal. Berikut langkah konkret yang bisa kita lakukan:

Pertama, jika mengetahui bahwa Dzulqa’dah termasuk bulan yang dimuliakan Allah, maka isilah dengan amal saleh seperti puasa sunah, sedekah, memperbanyak doa, dan zikir. Jangan hanya tahu keutamaannya tanpa ada perubahan dalam ibadah.

Kedua, menjaga lisan  dari ghibah, fitnah, hinaan, dan ucapan kasar. Jika peperangan saja dilarang di bulan haram, maka “perang lisan” pun seharusnya dihentikan.

Ketiga, mengetahui bahaya dosa seharusnya membuat seseorang lebih cepat bertobat. Jangan menunda meninggalkan kebiasaan buruk, apalagi di waktu yang dimuliakan Allah. angan menganggap remeh dosa kecil di bulan yang mulia, karena ganjaran dosa juga berlipat. Jika kita tahu bahwa menunda salat itu berdosa, maka ilmu itu harus menggerakkan kaki kita ke masjid.

Keempat, meski belum mampu berhaji, seseorang tetap bisa mengambil pelajaran spiritualnya dengan membersihkan hati dari iri, dendam, dan kesombongan. Selain itu, mulai menabung dan mempersiapkan niat dengan cara yang halal.

Ilmu yang Bermanfaat Adalah yang Mengubah Perilaku

Para ulama salaf menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang membuat seseorang semakin taat kepada Allah. Al-Hasan Al-Bashri pernah mengatakan bahwa tanda ilmu yang bermanfaat adalah seseorang semakin sadar akan kekurangan dirinya, tidak sombong, dan lebih semangat beribadah. Ilmu sejati tidak melahirkan kesombongan, tetapi melahirkan kerendahan hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Namun pemahaman itu harus terlihat dalam perilaku sehari-hari. Jika tidak, ilmu hanya menjadi hafalan tanpa pengaruh.

Karena itu, penting bagi setiap orang untuk terus bertanya kepada dirinya sendiri: sejauh mana ilmu yang dimiliki sudah menjadi amal nyata? Jangan sampai hanya pandai berbicara, tetapi miskin pelaksanaan.

Sisi terbaik dari ilmu adalah ketika ia menjelma menjadi ketaatan, kebaikan, dan ketakwaan. Ilmu tanpa amal adalah pohon tanpa buah, bangunan tanpa pondasi, dan perjalanan tanpa arah. Sebaliknya, jika ilmu dan amal bersatu, maka ia akan mengantarkan pemiliknya menuju derajat tertinggi di surga.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu” (Q.S. Thaha: 114).

Dan Allah juga berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu kematian” (Q.S. Al-Hijr: 99).

Artinya, ilmu harus terus dikejar, dan amal harus terus dilakukan hingga akhir hayat. Mari jadikan bulan Dzulkaidah ini sebagai titik tolak untuk mengilmui setiap amal dan mengamalkan setiap ilmu. Karena sesungguhnya, sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diamalkan, dan sebaik-baik amal adalah amal yang berlandaskan ilmu. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mengilmui amalnya dan mengamalkan ilmunya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Baca Juga: Memahami Hubungan Antara Ilmu dan Amal


Penulis: Gus Bahar, Pondok Pesantren Seblak Jombang