Sumber gambar: https://id.pinterest.com/erifeturhan/anime-muslimah/

Cerpen oleh Nurul Insani

Mentari pagi berselimut awan putih. Cahaya hangatnya menembus jendela-jendela rumah warga, tak terkecuali menembus gerbang sebuah pesantren yang berdiri di kaki gunung Suci. Semilir angin pun seperti menyibak daun-daun yang gugur. Suasana yang sejuk. Dari balik gerbang pesantren, berdiri sosok gadis berjilbab biru sedang menikmati suasana pagi. Safa namanya. Sudah seminggu Ia tinggal di pesantren. Sejak setelah lulus dari SMP Negeri ternama, hatinya tergugah untuk melanjutkan ke jenjang Madrasah Aliyah di sebuah pesantren yang jauh dari kota kelahirannya, Mojokerto. Sebut saja Pesantren Nurul Huda. Pesantren salaf yang diasuh oleh KH. Zainuddin Ahmad. Setiap pagi setelah ngaji kitab bersama Pak Kiai, Safa selalu berdiri di depan gerbang pesantren. Ia memanfaatkan lokasi strategis pesantren yang menghadap ke timur itu. Ia bisa berjemur menghangatkan diri karena pantulan cahaya mentari pagi.

“Assalamualaikum ukhti,” seseorang mengucap salam sembari menepuk pundak Safa. Safa terkejut.

“Waalaikumussalam ukhti. Shofiyah kau mengagetkanku saja,” Shofiyah, teman sekelas Safa di pesantren. Meski mereka tak sekamar, namun mereka selalu bersama dalam tiap kegiatan tertentu.

“Sedang apa kau berdiri di sini, Safa? Hati-hati nanti kalau ketahuan mudabbir, dikira kau mencanangkan taktik untuk kabur dari pesantren. Kalau mereka mengira seperti itu, namamu pasti tercatat di bagian keamanan. Aku tak mau itu terjadi padamu Safa. Ayo kembali!”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Iya, Shof. Tenang saja. Aku bisa mengatasi hal itu jika benar-benar terjadi. Karena aku tidak salah. Aku tidak sedang ingin kabur. Aku hanya merasakan hangatnya berjemur di pagi hari,” tukas Safa.

Safa tak pernah takut dengan hukuman-hukuman yang diberlakukan di pesantren bagi pelanggar aturan. Baginya, setiap hukuman yang ada adalah untuk mendidik. Bukan untuk menakuti.

“Ya sudah. Ayo buruan, kita sarapan! Sudah hampir pukul setengah enam ini, Saf. Biar kegiatan selanjutnya kita gak telat,” ajak Shofiyah dengan menarik tangan Safa agar segera mengikutinya.

***

Jam menunjukkan pukul enam pagi. Bunyi bel yang terbuat dari besi berdentum tiga kali. Pertanda seluruh santri bersiap-siap melakukan shalat Dhuha berjamaah di Masjid Baitussalam, masjid yang memisahkan asrama putri dan asrama putra. Derap langkah kaki Safa dan Shofiyah penuh irama. Keduanya berlari tergesa-gesa setelah mengetahui beberapa mudabbir ngobraki setiap penghuni kamar yang tak segera beranjak ke Masjid. Sesekali Shofiyah menggerutu pada Safa.

“Aduh, Saf. Kita bakalan telat ini. Dan nanti……………” belum selesai Shofiyah berucap, Safa melanjutkan.

“Dan nanti kita dihukum. Begitu kan maksudmu, Shof?”

“Iya, Safa. Kita pasti dihukum berdiri di lapangan sambil menghafalkan surah Al-Waqi’ah yang dibaca setelah shalat Dhuha,” cerocos Shofiyah.

“Sudahlah, Shof. Kita gak akan telat. Sekali pun telat nanti, kita juga gak rugi. Kita tetap shalat Dhuha dan setelahnya kita juga hafal surah Al-Waqi’ah, lho,”

“Iya deh, iya Safa. Benar juga katamu. Tapi sebaiknya kita juga disiplin. Hitung-hitung memberi contoh yang baik pada sesama. Sudah yuk. Shalat Dhuha akan dimulai,” perdebatan antara keduanya terhenti saat jamaah santri putra datang disusul kemudian Ustad Rahman sebagai imam.

***

Usai shalat Dhuha saat hendak keluar dari Masjid, seorang mudabbir memberi aba-aba pada para santri untuk segera berdiri sebab Pak Kiai dan Bu Nyai keluar dari ndalem. Tata krama yang hingga turun temurun dilakukan oleh para santri adalah sikap ta’dzim pada guru. Tak ayal jika di lingkungan pesantren, di mana santri berada, di situ mereka berdiri dengan sedikit menundukkan kepala apabila seorang guru khususnya Pak Kiai berjalan di hadapan mereka.

“Eh, Safa, merapat ke sini. Pak Kiai dan Bu Nyai sedang keluar dari ndalem,” Shofiyah memberitahukan pada Safa bahwa guru besar mereka keluar dari ndalem. Seketika, seluruh santri berjajar rapi bediri memberikan jalan untuk Pak Kiai dan Bu Nyai. Setelah Pak Kiai dan Bu Nyai terlihat jauh hilang ditelan rumah-rumah warga, Safa dan Shofiyah kembali ke kamar masing-masing guna mempersiapkan diri sebelum berangkat ke madrasah.

***

Di kelas, tak ubahnya seperti di pesantren, Safa selalu berdebat dengan Shofiyah sebelum ustadah datang memberikan materi pelajaran. Perdebatan sehat yang akhirnya dapat memahamkan keduanya.

Qiyaaman!” (berdiri) ketua kelas berucap lantang. Sontak kemudian seluruh siswi berdiri menyambut kedatangan ustadah.

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,” melihat semua siswi berdiri mengindahkan kedatangannya, Ustadah lalu berucap salam yang kemudian dijawab serentak oleh semua yang ada di kelas.

“Waalaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh,”

Juluusan!” sang ketua mengarahkan untuk duduk kembali.

Selama proses belajar, Safa dan Shofiyah mendengarkan penjelasan ustadah dengan seksama. Keduanya antusias untuk menggali pertanyaan pada ustadah terkait ilmu tata bahasa arab yang tengah diajarkan.

“Ustadah, apa saya boleh bertanya?” ungkap Safa sembari mengacungkan jari telunjuk.

“Boleh, Safa. Bagian mana sekiranya belum kau pahami?”

“Berdasarkan penjelasan ustadah, bila terdapat dua fi’il mudharik maka harus dipisah dengan an mashdariyah. Sebenarnya, an mashdariyah sendiri itu apa ustadah?”

“Jadi begini, Saf. An mashdariyah adalah an yang dapat menggantikan lafadz yang jatuh setelahnya menjadi mashdar. Seperti yang sudah saya jelaskan berulang kali tadi,”

Usai kegiatan belajar mengajar di madrasah, Safa dan Shofiyah kembali ke pesantren, berkutat dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti khitabah tiga bahasa, sekolah diniyah, muhadatsah (percakapan), drill bahasa menjelang waktu tidur bersama masing-masing mudabbir kamar.

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari hingga tak pernah ada lagi waktu untuk bercanda, bagi Safa dan Shofiyah. Setiap waktu luang, mereka gunakan untuk berdiskusi, muroja’ah dan sebagainya. Apalagi saat setelah semua santri madrasah aliyah diwajibkan menghafal bait-bait nadzom alfiyah dengan jumlah 1002 nadzom, keduanya semakin disibukkan untuk setor hafalan.  Hingga suatu ketika, Shofiyah merasa ada sesuatu yang mengganjal dengan Safa. Safa mulai sering datang terlambat ke madrasah. Setiap Shofiyah mengajaknya berangkat lebih awal, Safa hanya tersenyum dan berkata, “Duluan saja, Shof. Nanti aku menyusul. Toh ustadah juga datangnya tak tepat waktu,”

Shofiyah kaget mendengar jawaban Safa demikian. Ada yang tidak beres dengan teman dekatnya. Belum lagi, akhir-akhir ini daya minat Safa untuk berdiskusi semakin berkurang. Shofiyah tak ingin tinggal diam. Pada Jumat pagi setelah kegiatan muhadatsah, Shofiyah mendatangi Safa yang sedang asyik berbagi bahan candaan di kamarnya.

Assalamualaikum, ukhti. Boleh bertemu dengan Safa?”

“Waalaikum salam,” seisi kamar Safa menjawab salam Shofiyah. Safa pun keluar kamar menemui Shofiyah.

“Ada apa, Shof?” tanya Safa heran.

“Eh, Safa ikut aku sebentar yuk ke Masjid,” ajak Shofiyah dengan lembut.

“Emm iya ayo. Tapi tidak lama kan, Shof?”

“Tidak lama. Aku butuh waktumu 10 sampai 15 menit saja, Safa,” keduanya berjalan beriringan menuju Masjid Baitussalam. Setelah sampai di masjid, Shofiyah mengawali dan bertanya.

“Saf, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Ceritalah padaku! Aku ini temanmu, mungkin aku bisa bantu,”

Safa terdiam. Terlihat dari raut muka, Ia kebingungan menjawab pertanyaan Shofiyah. Meski terbata-bata, Ia pun terpaksa membuka mulut untuk menjelaskan pada Shofiyah atas apa yang terjadi dengannya.

“Shof, aku tak tahu bagaimana untuk memulai cerita. Dari awal di sini, aku kagum dengan kepandaian dan kebaikanmu. Memang beberapa waktu lalu aku dihadapkan dengan keadaan tersulit. Ada salah satu pelajaran yang tak bisa kupahami sama sekali. Meski kucoba baca berulang kali, namun hasilnya nihil. Aku tetap saja tak paham, Shof,”

“Kenapa kau tak bertanya pada ustadah? Atau jika kau sungkan bertanya pada ustadah, kau bisa menemuiku. Sebisa mungkin aku membantumu, Saf,”

“Terkadang aku malu denganmu. Aku selalu mengganggumu saat belajar. Waktumu berkurang demi menjelaskan beberapa materi yang belum kupahami,” Shofiyah memandangi wajah sedih Safa.

“Safa, apa kau ingat Pak Kiai pernah menjelaskan bahwa kita tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan memenuhi enam perkara yakni cerdas, rajin, sabar, mempunyai bekal, petunjuk guru, dan waktu yang lama. Selain itu, dalam hal memilih teman, pilihlah teman yang rajin, wira’i (menjaga diri dari yang haram), berwatak jujur, dan ahli memahami. Dalam hal ini, aku ingin bisa memahamimu. Aku ingin menjadi teman yang baik untukmu,” air mata Safa meleleh. Shofiyah pun segera memeluk Safa. Kemudian berbisik, “Dari kitab Syeikh Az-Zarnuji dikatakan bahwa tidak akan sampai maksud seseorang kecuali Ia mau menghormat. Sebaliknya seseorang akan jatuh dari kedudukannya akibat Ia tidak mau menghormat dan meremehkan. Jadi saranku, datanglah lebih awal ke madrasah untuk menghormati ustadah yang mengajarkan ilmu-ilmu agama pada kita. Sekalipun  kita harus menunggu kedatangan beliau setelah beberapa jam.

“Iya, Shof. Maafkan aku. Terima kasih sudah mengingatkan. Aku khilaf,” sesenggukan Safa semakin menjadi dan Shofiyah berhasil menentramkan hatinya.

Sidoarjo, 26 Juni 2017

Selesai pukul 12.00


Penulis adalah Mahasiswa Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya

SebelumnyaWasiat Nabi Muhammad kepada Ali bin Abi Thalib (Bagian 4)
BerikutnyaSaksi Pengabdian, Yai