Sepasang Mata yang Tak Pernah Lelah Mengajar

41
Ilustrasi di ruang kelas

Di Punggung Kapur, Kau Tulis Masa Depanku

Di punggung kapur yang perlahan menipis
kau tulis masa depanku dengan sabar tanpa tanda tangan
tak ada royalti, tak ada tepuk tangan panjang
hanya derit papan tulis
dan senyum kecil saat aku berkata,

“Saya mengerti, Bu…”

Setiap garis rumus yang kau coretkan
setiap huruf hijaiyah yang kau eja pelan
adalah jembatan yang kau bangun
dari gelap ketidaktahuan
menuju terang yang bahkan belum kupahami sepenuhnya

Kau ajari aku menghitung
tapi tak pernah kau hitung lelahmu sendiri
kau ajari aku membaca
tapi tak pernah kau baca ulang
keluh kesah di hatimu yang letih

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kini, jika suatu hari aku sampai
pada tempat yang dulu hanya ada di angan
akan kuingat, di punggung kapur, di ujung jarimu
ada doa yang diam-diam
mengawal setiap langkahku sampai di sana.


Guru, di antara Lelah dan Doa yang Tak Terdengar

Guru,
tak ada yang tahu berapa kali kau menahan napas
saat kelas riuh seperti pasar
dan tugas menumpuk seperti gunung kecil di meja kayu tua

Di wajahmu, lelah itu tersamar
oleh senyum yang sengaja kau lukis setiap pagi
seolah hidup sesederhana mengucap,
“Selamat pagi, anak-anak…”

Padahal di balik tasmu yang terlihat ringan
ada rencana pelajaran yang kau susun semalaman
ada nama-nama murid yang kau sebutkan
satu per satu dalam sujud panjangmu

Guru,
jika hari ini kami tak pandai berterima kasih
biarkan hidup yang akan membalas tulusmu
dengan cara yang paling indah:
kami menjadi orang baik
seperti yang setiap hari kau doakan dalam diam.


Sepasang Mata yang Tak Pernah Lelah Mengajar

Matamu yang mengikuti kami satu per satu
saat kami membaca, menulis, gagap menjawab
bukan mata hakim yang siap menghakimi
melainkan teduh matamu
yang mengerti bahwa tumbuh
selalu butuh waktu dan tempat untuk keliru

sabar punya bentuk paling sederhana:
menatap murid yang berkali-kali salah
dan tetap berkata, “Coba lagi, Nak…”

Saat bel pulang berbunyi
kami bergegas berlari menuju rumah
sementara kau tetap tinggal
dengan sepasang mata yang menatap tumpukan buku
dan nilai yang harus kau ukur dengan hati-hati

Jika suatu hari nanti mata itu mulai rabun
dan kapur bukan lagi teman harianmu
semoga dunia mengerti
bahwa dari sepasang mata yang tak pernah lelah mengajar itu
lahir jutaan jalan hidup
yang kini berjalan jauh ke segala arah.


Langkahmu Pelan, Warisanmu Tak Pernah Pelan

Langkahmu pelan menyusuri koridor sekolah
sepatumu merk lama, tasmu pun sederhana
tapi setiap pijakanmu
seperti mengetuk pintu masa depan kami satu per satu

Kami yang dulu tak tahu apa-apa
tentang titik, koma, dan tanda tanya
kau bimbing perlahan
hingga mengerti bahwa hidup pun penuh tanda baca
dan setiap pilihan
perlu dibaca dengan hati-hati

Satu demi satu muridmu pergi
berubah menjadi nama-nama yang jarang kembali
ada yang jadi dokter, petani, perawat, ibu rumah tangga
ada yang hanya sempat menjadi cerita
tapi di setiap profesi, di setiap cerita
ada jejakmu yang tak bisa dihapus waktu

Langkahmu, Guru, mungkin kian lambat dimakan usia
namun warisanmu berlari kencang
menyusuri zaman
karena ia bersemayam di kepala dan hati kami
dalam bentuk paling sederhana:
cara kami berbicara, bersikap, memilih, dan berdoa

Dan jika kelak dunia melupakan namamu
percayalah, setiap kebaikan yang kami lakukan
adalah langkah-langkah kecil
yang terus menggemakan langkahmu
tanpa pernah pelan.



Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary