Asyiknya santri Tebuireng 4 memaknai kitab dengan aksara pegon. Ramadan kali ini, pihak pondok meliburkan sekolah dan fokus pada kajian kitab kuning
Asyiknya santri Tebuireng 4 memaknai kitab dengan aksara pegon. Ramadan kali ini, pihak pondok meliburkan sekolah dan fokus pada kajian kitab kuning

tebuireng.online– Pesantren Tebuireng 4 al Ishlah Kuala Gading Indragiri Hulu Riau meski baru berdiri dua tahun yang lalu, semakin eksis dan menunjukkan perkembangan positif. Di Bulan Ramadan kali ini merupakan bulan suci yang ketiga bagi Pesantren Tebuireng 4. Pengurus meliburkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SMPI Tebuireng dan mengfokuskan santri nganji bandongan.

Ngaji Bandongan di Tebuireng 4 layaknya di pesantren salaf di Jawa, karena memang spesifikasinya adalah kitab kuning, dengan tujuan melestarikan  tradisi literatur klasik Pesantren Tebuireng. Akan tetapi bukan kitab Shahih Bukhari-Muslim yang dibaca, seperti di Tebuireng pusat, melainkan hanya kitab-kitab kecil. Menurut penuturan Ustadz Subhan, Kepala Pondok, hal itu dikarenakan kondisi santri-santri yang masih kecil dan banyak yang baru mengenal baca tulis Arab.

Adapun kitab yang dikaji pada Ramadan kali ini adalah kitab Sullamu at Taufiq dan Taisirul Khalaq untuk santri kelas 1, kitab Taqrib, Ayyuhal Walad, dan Risalatul Mustahadhan untuk santri kelas 2 dan kitab Mabadi al Fiqih dan Kholashoh Nurul Yaqin yang sifatnya mengkhatamkan, karena kedua kitab tersebut adalah mata pelajaran diniyah yang belum dikhatamkan.

Suasana tadarus Al Qur'an di Pesantren Tebuireng 4
Suasana tadarus Al Qur’an di Pesantren Tebuireng 4

Selain hal di atas santri juga melaksanakan kegiatan amaliah yang sama dengan hari-hari biasa, seperti shalat tahajud, shalah dhuha, dan membaca surat waqi’ah. Namun, bedanya adalah pada penambahan jam untuk tadarus Al Quran. Selain itu juga ada perubahan jadwal kegiatan, yakni shalat duha yang biasanya dikerjakan pada pukul 07.00 WIB di Bulan Ramadan dikerjakan pada pukul 09.45 WIB dan membaca Surat Waqi’ah yang biasanya dibaca menjelang Maghrib kini dibaca setelah shalat tahajud.

Kegiatan ini berlangsung mulai tanggal 1 Ramadhan dan akan berakhir pada malam 20 nanti di tandai dengan penutupan kegaitan Ramadan. “Kalau bisa kita harus punya tradisi, jika kemarin kita menutup kegiatan malam 20 maka saat ini dan selanjutnya kalau bisa tetap malam 20,” tutur beliau.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Meski tradisi ini baru berjalan tiga kali beliau berharap kedepannya bisa konsisten berjalan, karena mengingat Tebuireng 4 adalah pondok yang masih muda dan masih dalam tahap berbenah. “Alhamdulillah meski baru berumur 2 tahun jumlah santri disini sudah mencapai 134 santri dan pada tahun ini sudah bertambah 100 santri baru yang mendaftar pada tahun ajaran 2016/2017,” pungkas beliau. (Mujib/Abror)