Sumber: www.gaulpedulisyam.com
Ilustrasi sebuah keluarga yagn sedang berbuka tanpa beberapa anggota kelaurga lain. (Sumber: www.gaulpedulisyam.com)

Oleh: Ahmad Nizar Idris*

Lain sekarang, lain pula Syria, atau dalam Bahasa Indonesia disebut Suriah, tempo dulu. Syria yang akhir-akhir ini terkenal dengan ISIS atau Islamic State of Iraq Syria, seakan sudah berubah drastis dari Syria tempo dulu. Kultur kedamaian, kedermawanan, keindahan, dan keluhuran akhlak yang selama ini melekat pada negeri tersebut, seakan hilang  secara sekejap dengan propaganda-propaganda yang dilancarkan oleh media, oknum, pemerintah, sekutu dan lain sebagainya, secara terus-menerus.

Syria adalah Negara yang dulunya masih satu kesatuan dengan palestina, Iraq, libanon, dan Yordania dengan nama besar ‘Syam’ yang menyatukan negara-negara tersebut. Syria pun merupakan salah satu negara Timur Tengah yang sangat terkenal dengan kedermawanannya. Kedermawanna itu terasa hingga sekarang.  Pelajar-pelajar ajanib (asing) yang sedang asyik mengikuti pengajian atau halaqoh di masjid-masjid sekitar merasakan kederwanan mereka.

Sebelum perang berkecamuk, Penulis dan teman-temannya bisa belajar nyaman
Sebelum perang berkecamuk, Penulis dan teman-temannya bisa belajar  dengan nyaman

Hal itu seperti yang pernah penulis alami pada tahun 2012, ketika penulis memiliki kesempatan menimba Ilmu di Syria.  Salah satu rutinitas penulis setiap subuh, adalah menuju Masjid Umawi Damaskus untuk mengikuti halaqoh pengajian, masjid yang konon dulunya adalah kanisah atau gereja yang dialihfungsikan menjadi masjid pada masa Bani Umayyah, yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Pesantren al Dauli yang penulis tempati. Keindahan suasana keilmuan terasa sekali, ada yang ngaji hadis, mustolah, fikih, dan bahkan ada yang setoran hafalan Al Quran disetiap zawiyah-zawiyah atau di setiap pojok-pojok masjid.

Seperti sudah menjadi rutintas bagi penulis dan pelajar lainnya, setiap pulang dari Masjid, kami akan membawa bungkusan roti, kurma, permen, bahkan uang yang nominalnya tidak sedikit, bahkan pernah salah satu mahasiswa Indonesia menerima sampai satu juta rupiah. Dan sungguh luar biasanya, hal  itu diberikan secara cuma-cuma oleh masyarakat Syria, atas dasar sebagai orang asing, bukan orang arab, bukan penduduk Syria  yang mempelajari agama Islam sampai jauh ke negeri mereka. Karena mereka memiliki mindset bahwa sedekah terhadap pelajar lebih mulia dari yang lainnya. Memang kedermawanan ini sering kita temukan setiap hari, tapi akan sangat lebih dermawan di saat bulan Ramadan tiba.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lalu bagaimana kira-kira Ramadan di Syria? Apa yang berbeda? Apa yang tidak ada di Indonesia? Ramadan di Syria sama seperti Ramadan di negeri Timur Tengah lainya, bahkan hampir sama dengan Ramadan di pesantren-pesantren di Indonesia. tentunya yang paling mencolok perbedaanya adalah, lamanya waktu berpuasa.

Penulis saat menikmati keindahan kota damaskus dari atas bukit. Setelah perang, keindahan itu sirna.
Penulis saat menikmati keindahan kota damaskus dari atas bukit. Setelah perang, keindahan itu sirna.

Syria secara geografis berada sepanjang barat gunung pantai, dan Syria beriklim mediteranian. Sebagaimana di daerah beriklim mediteranian lain, disana ada musim kering yang panjang dari Bulan Mei ke Oktober. Sudah seperti siklus tahunan setiap Bulan Ramadan datang maka akan selalu bersamaan dengan datangnya musim panas, sehingga mengakibatkan  mereka harus  berpuasa sangat panjang, kurang lebih 17 jam lebih, dari dari jam 4:30 sampai jam 20:00.

Tradisi masyarakat Syria ternyata yang biasa dilakukan ketika Bulan Ramadan adalah ngaji bandongan, ngaji pasaran, ngaji tabarrukan. Ah masa sih? Masyarakat Syria setiap Bulan Ramadan mengaji satu kitab khusus, dan akan dikhatamkan dalam satu bulan. Salah satu teman penulis yang sampai sekarang namanya masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Kaftaro berbicara bahwa Ramadan di sana sama seperti Ramadan di pesantren-pesantren Indonesia, seperti mengaji kitab kilatan, menghafal Al Qur’an dan tadarus.

Salah salu kebiasaan yang lain, yang secara tidak sadar telah menjadi tradisi atau adat istiadat masyarakat Syria, sebagai ekspresi kesenangan atas datangnya Bulan Ramadan, adalah dengan melakukan sedekah masal. Mereka berbondong-bondong datang ke Masjid dengan membawa makanan yang paling enak yang mereka miliki, ada yang membawa daging  kambing, ayam, sayur-sayuran dan segala makanan yang enak-enak semuanya ada di Masjid. Subhanallahnya lagi-lagi mereka membawanya secara cuma-cuma.

Keindahan kota Aleppo sebelum perang
Keindahan kota Aleppo sebelum perang

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia yang sedang berada disana akan sangat merasa senang ketika mengetahui Bulan Ramadan akan datang, karena setiap menjelang berbuka puasa mereka tidak usah repot-repot dengan tetek bengek mencari takjil, bikin kolak, masak opor ayam dan lain sebagainya. Mereka tinggal keluar rumah, lalu tunjuk masjid mana yang akan didatangi dan pilih saja menu-mana yang paling enak yang akan mereka santap. Lebih-lebih ketika sudah menjelang 10 hari terakhi Ramadan. Seluruh pelajar Islam yang berasal dari berbagai Negara akan dicari-cari masyarakat Syria. Bukan mencari tapi dicari. Bahkan ditarik-tarik (dipaksa) untuk menerima sedakah atau istilah masyarakat Syria tauzi’ (Pembagian sedekah). Kesederhanaan, kedermawanan, keluhuran budi pekerti yang seperti inilah yang belum pernah penulis temukan.

Masjid Umawi saat sebelum perang
Masjid Umawi saat sebelum perang

Namun keindahan itu semuanya hilang, terenggut oleh peperangan yang sampai sekarang tidak kunjung selesai. Mereka yang sebelumnya  memiliki kecukupan di bidang financial, sehingga dengan mudahnya mensedakahkan sebagian bahkan semua hartanya, kini mereka sendiri pun menjadi masyarakat yang justru mengemis, meminta sedekah, hanya untuk menutupi kebutuhan makan.

Peperangan meruntuhkan semuanya, aktivitas keilmuan terhenti, perekonomian tak teratasi, keber‘agama’an terciderai, keberagaman, kesederhanaan, kerukunan dan keluhuran terprovokasi. Peperangan memang tak membawa kebaikan dan keuntungan sama sekali. Mereka yang menang telah berkorban segalanya, tenaga, pikiran, fisik bahkan nyawa tentara-tentaranya yang tidak tahu apa motif di balik peperangan itu semua. Lebih-lebih bagi yang kalah. Mereka kehilangan sanak keluarganya, hartanya, kepemilikanya, jiwanya bahkan harga dirinya pun hilang dari jiwa mereka. lalu apa manfaat terjadinya peperangan? Tidak ada! Peperangan hanya memluluh lantahkan semuanya.

 Keindahan Syria itu sirhan, entah kapan akan ditemukan kembali. Ramadan yang indah juga turut sirna denga  runtuhnya bangunan-bangunan dan melayangnya nyawa-nyawa orang tak berdosa. Stop War, make it peace! Oleh karenanya kami selalu berdoa agar Syria bisa cepat kembali pulih, dan kembali dengan keluhuran akhlaknya, kemulyaan budi pekertinya dan kedermawanan masyarakatnya. Sehingga keindahan itu akan terukir kembali di bumi


*Mahasiswa al Ahwal asy Syakhshiyyah ( AS) STAINU Jakarta dan Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Tanggerang, pernah 8 bulan belajar di Ma’had ad Dauli Damaskus Syria, pernah setahun belajar di Univ. Ibn Tofail Kenitra Maroko, dan sekarang sehari-hari mengurus Pesantren Luhur as Tsaqafah.

SebelumnyaNyai Solichah Wahid: Tokoh di Balik Kesuksesan Gus Dur dan Gus Sholah (Bagian 3)
BerikutnyaDi Bulan Berkah, OSPI Tebuireng Berbagi dengan Penyandang Cacat Mental