Scroll yang Tak Pernah Usai

65
Sebuah ilustrasi kesedihan rakyat (sumber: ai/ra)

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik dan suara burung sempat terdengar, Angga Dwitama sudah menatap layar ponselnya. Usianya baru empat belas tahun, tapi kebiasaan paginya lebih berat dari anak-anak seusianya. Bukan gim, bukan video lucu, bukan pula obrolan teman sebaya. Yang ia scroll adalah berita.

Judul demi judul lewat seperti luka yang dipaksa dibuka kembali: banjir bandang di Sumatra, longsor di Aceh, rumah hanyut, anak-anak mengungsi, tenda darurat, dan wajah-wajah yang terlalu lelah untuk usia mereka. Angga membaca semuanya, dari media arus utama sampai potongan video amatir yang direkam tangan gemetar. Ia tidak pernah tahu mengapa jarinya terus bergerak ke atas, padahal dadanya semakin sesak.

Kadang ia berhenti lama di satu foto: seorang anak sebaya dengannya, berdiri di depan puing rumah, memeluk tas sekolah yang basah. Angga membayangkan tas itu, buku-buku yang menggembung, seragam yang tak sempat dicuci. Ia menelan ludah. Ada rasa bersalah yang tak bisa ia jelaskan, bersalah karena ia masih bisa tidur di kasur empuk, masih bisa sarapan, masih bisa mengeluh tentang sinyal internet.

Yang paling membuatnya marah bukan hanya bencananya. Bukan pula hujan yang tak kenal ampun atau tanah yang runtuh tiba-tiba. Yang membuat Angga geram adalah keributan setelahnya. Ia melihat pemerintah, atau setidaknya orang-orang yang mengatasnamakan pemerintah, terus bersuara di media sosial. Cuitan, unggahan, konferensi pers, janji-janji yang dipoles rapi. Semua terlihat sibuk. Semua tampak peduli. Tapi di foto-foto berikutnya, Aceh dan Sumatra masih sama: lumpur, tenda, dan antrean bantuan.

“Kenapa mereka lebih ribut di layar daripada di lapangan?” gumam Angga suatu pagi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ia menoleh ke ruang makan. Ayahnya, Prof. Irwanto, sudah duduk dengan kacamata baca bertengger di hidung. Di hadapannya terbuka laptop penuh grafik, peta wilayah, dan catatan penelitian. Sejak bencana itu, ayahnya lebih sering terjaga hingga dini hari, meneliti data curah hujan, perubahan struktur tanah, dan kesalahan tata ruang yang berulang.

“Bencana ini bukan sekadar alam,” kata ayahnya suatu malam, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Ini akumulasi kelalaian.”

Angga mendengarnya dari balik pintu. Ia tidak sepenuhnya paham istilah-istilah ilmiah itu, tapi ia paham nada suara ayahnya, nada lelah, kecewa, sekaligus marah yang ditahan.

Ibunya berbeda lagi. Aramata, nama yang dikenal banyak orang di media sosial. Ia bangun lebih pagi dari siapa pun. Ponselnya tak pernah jauh dari tangan. Tapi yang ia lakukan bukan sekadar mengunggah foto. Ia mengatur donasi, menghubungi relawan, memverifikasi laporan, dan membalas pesan orang-orang yang ingin membantu.

“Masih kurang, Ga,” kata ibunya suatu sore sambil menatap layar. “Kebutuhan air bersih di Aceh masih banyak. Kita coba buka donasi lagi, ya.”

Angga mengangguk. Ia melihat lingkar hitam di bawah mata ibunya. Di balik senyum ramah dan caption penuh empati, ibunya menyimpan kelelahan yang jarang terlihat kamera.

***

Malam itu, Angga kembali ke kamarnya. Lampu sengaja ia redupkan. Ia scroll lagi. Video lain muncul, seorang ibu menangis, menyebut nama anaknya yang terpisah saat banjir datang. Suara tangis itu menusuk. Angga mematikan layar, tapi bayangan itu tetap tinggal.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menunduk. Untuk pertama kalinya, air mata jatuh tanpa ia sadari.

“Aku cuma anak kecil,” bisiknya. “Aku bisa apa?”

***

Hari-hari berikutnya berjalan aneh. Angga tetap sekolah, tetap mengerjakan tugas, tetap bercanda tipis dengan teman-temannya. Tapi di dalam kepalanya, ada dua dunia yang terus bertabrakan: dunia aman yang ia jalani, dan dunia rusak yang terus ia lihat di layar.

Suatu hari, guru Bahasa Indonesia meminta murid-murid menulis cerpen bertema “Indonesia Hari Ini”. Teman-temannya mengeluh. Angga terdiam.

Malamnya, ia membuka laptop ayahnya, dengan izin. Ia menatap layar kosong cukup lama. Lalu ia mulai mengetik. Tangannya gemetar, tapi kata-kata mengalir. Ia menulis tentang anak yang kehilangan rumah, tentang hujan yang datang tanpa permisi, tentang janji yang terdengar nyaring tapi tak pernah tiba di tenda pengungsian.

Ia menulis dengan marah, dengan sedih, dengan kejujuran yang tak disaring.

Ketika selesai, ia membaca ulang. Dadanya berdebar. Ia ragu, lalu menunjukkan tulisannya pada ayah dan ibunya.

Ayahnya membaca pelan. Lama. Setelah itu, ia melepas kacamata dan menghela napas panjang.

“Kamu tahu,” katanya, “tulisan seperti ini sering lebih jujur daripada laporan resmi.”

Ibunya memeluk Angga erat. “Ini penting, Ga. Suaramu penting.”

Cerpen itu dibacakan di kelas. Suasana hening. Beberapa teman menunduk. Guru mereka terdiam lebih lama dari biasanya sebelum bertepuk tangan.

Tak disangka, cerpen itu diunggah ke media sosial sekolah. Lalu dibagikan. Lalu menyebar. Orang-orang membaca. Mengomentari. Menangis. Bertanya. Beberapa bahkan menghubungi ibunya, ingin tahu bagaimana bisa membantu lebih jauh.

Angga kembali scroll berita suatu pagi. Aceh dan Sumatra belum pulih sepenuhnya. Masih ada luka. Masih ada tenda. Masih ada janji. Tapi kali ini, di antara berita itu, ia melihat sesuatu yang berbeda: ajakan konkret, laporan distribusi, dan orang-orang biasa yang bergerak tanpa banyak bicara.

Ia menutup ponselnya. Untuk pertama kalinya, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Ia tahu ia masih anak empat belas tahun. Ia tahu ia tidak bisa menghentikan hujan atau memperbaiki sistem negara. Tapi ia juga tahu satu hal: diam sepenuhnya bukan lagi pilihannya.

Scroll itu mungkin tak akan pernah benar-benar usai. Tapi setidaknya, sekarang Angga tidak hanya melihat. Ia mulai bersuara. Dan bagi seorang anak kecil di tengah bencana besar bernama Indonesia, itu adalah awal yang sangat berarti.



Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary