sumber ilustrasi: faktual.id

Oleh: M. Zulfikri*

Tidak ada yang salah jika seseorang mempunyai mimpi, menggambarkan semua keinginan yang entah akan terwujud atau tidak, melayang-layang dengan pikiran sendiri. Memang, untuk menggapai mimpi tak semudah membalikkan telapak tangan, sesuatu yang diimpikan harus diperjuangkan.

Sebagai seorang mahasiswa, mungkin akan memulai kesuksesannya dengan bermimpi, apalagi memasuki semester akhir, mendekati kelulusan, semua mimpi-mimpi itu akan segera tercapai ketika lulus dari dunia kampus.

Fandi, salah satu mahasiswa akhir berpikir ada dua tipe mahasiswa ketika mengakhiri masa belajarnya di kampus, yang pertama adalah tipe lulus tepat waktu, dan yang kedua tipe lulus di waktu yang tepat.

Dia merasa dirinya sebagai mahasiswa tangguh. Memegang prinsip bahwa lulus di waktu yang tepat adalah hal yang wajar, sebab sudah siap menghadapi dunia luar yang katanya kejam itu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tinggal di kamar kos ukuran 3×3 sejak awal masuk kuliah semester 1 sampai saat ini sudah memasuki semester 10. Sudah setahun Fandi ditinggal wisuda teman seangkatannya. Warna warni awal kehidupan kampus kian memudar.

Memasuki tahun ke 5 di kampus, rasa sepi, galau, dan ingin cepat lulus menghampiri dirinya. Bagaimana tidak? adik tingkatnya saja ada yang telah wisuda duluan.

Sebagai mahasiswa arsitek semester akhir bahkan lebih, kamar kos Fandi dipenuhi peralatan gambar yang mendukung kuliahnya. Dari mulai pensil berbagai ukuran, kertas, penggaris, dan berbagai alat gambar lainnya memenuhi kos fandi. Semua alat-alat itu tak digunakannya lagi. Biaya yang cukup banyak terbuang sia-sia.

***

“Lalu kapan saya akan diwisuda? Adik kelas sudah lebih dulu.”

Lirik lagu milik Pidi Baiq ini, yang ia putar melalui hapenya, mengalir deras di telinga Fandi, merambat diantara tembok kamar kos ukuran 3×3 yang ia cintai. Tiba-tiba lagu terhenti karena ada telepon yang masuk, ternyata dari ibunya.

“Assalamualaikum Fandi, gimana kabarnya?” Suara lembut ibu Fandi menyapa.

“Waalaikumsalam, baik buk.” Jawab Fandi.

Alhamdulillah, gimana kuliahmu Fan?” Tanya ibu Fandi masih dengan nada yang sama.

Tak menjawab, Fandi langsung mematikan telepon dari ibunya. Fandi tak tahu harus menjawab apa.

Seperti tak ada kejadian apa-apa, Ia masih saja berbaring di kasur, tangan di belakang kepala sambil melihat plafon kosannya, Fandi lanjut mendengarkan musik, membayangkan kehidupannya kalau ia telah lulus, mendapat gelar sarjana, menjadi arsitek handal, sungguh kehidupan yang bahagia. Telepon dari ibunya ia anggap angin lalu.

Keesokan paginya, Fandi menerima chat dari dosen pembimbing yang menanyakan judul tugas akhir Fandi. Tapi Fandi tak menghiraukannya.

“Lulus diwaktu yang tepat,” jalan lurus yang Fandi yakini hanya sekadar prinsip, tidak ada aksi yang ia lakukan. Tak ambil pusing dengan itu semua, Fandi bergegas ke warung kopi tempat Fandi biasa bermimpi, membayangkan hidup sukses di masa depan, ditemani segelas kopi.

Belum sempat dingin kopi yang dipesan Fandi, datanglah Ari, teman seangkatan Fandi yang telah lulus dan bekerja.

“Oyy… Fan,..” sapa Ari dari belakang sambil menepuk pundak Fandi.

“Wihh, Ri, orang sukses nih,” Fandi memuji temannya yang terlihat sudah berwibawa itu.

Ahh gak juga Fan,” respon Ari sambil menarik kursi yang ada di meja sebelah.

“Gimana Fan?” Ari melempar tanya ke arah Fandi.

“Gimana apanya, Ri?” jawab Fandi dengan wajah yang bingung.

“Ya kuliahmu, skripsimu udah jalan?” jelas Ari.

Fandi hanya diam, Ari tak melanjutkan pertanyaannya. Obrolan pagi itu lewat begitu saja, menyisakan Fandi yang bingung dengan masa depannya.

Sebenarnya Fandi ingin segera lulus, menyelesaikan skripsinya, diwisuda, dan membawa pulang ijazah agar orang tuanya bangga, tapi imajinasi itu hanya ada dalam kepalanya.

Tak sedikit yang mengingatkan Fandi untuk segera menyelesaikan skripsi, mulai dari orang tua, teman-teman dekatnya, bahkan dosen pembimbing sampai menghubunginya, tetapi, proses selalu menepati janjinya, dengan rutinitas seperti ini, tak ada yang tahu kapan Fandi akan lulus. Meskipun ia menanyakan kepada dirinya sendiri, ia tak tahu jawabannya.

*Mahasiswa Unhasy Jombang.

SebelumnyaSebuah Nasihat Penyembuh Penyakit Hati
BerikutnyaWaspada Dosa Jariyah! Dosa Sedikit Mengalir Jadi Bukit