Rumah Layak Huni

44
Rumah Karyadi- Ilustrasi Rumah Seorang Seniman

Senyum yang Tak Tulus
Aku melihat kalian tersenyum,
Lebih putih dari gigi,
Lebih palsu dari doa yang dipasang demi gengsi.

Kalian bicara lembut,
Seolah hati kalian seluas langit,
Padahal di balik bibir manis itu
Tersimpan racun yang siap menetes
Pada siapa pun yang tidak kalian suka.

Aneh,
Bagaimana manusia bisa terlihat begitu baik
Di depan orang yang mereka rencanakan untuk jatuhkan.

Dan aku hanya diam,
Menyaksikan topeng-topeng itu saling menyapa,
Seolah semuanya baik-baik saja.

Padahal aku tahu
Lebih baik menyendiri
Daripada duduk di lingkaran penuh kebusukan
Yang dikemas dalam kesopanan palsu.


Halus Tapi Menikam
Ada yang menusuk dengan kata,
Ada yang menghina dengan nada,
Tapi kalian berbeda:
Kalian menyerang lewat kebaikan pura-pura.

Tidak ada teriakan,
Tidak ada marah,
Hanya senyum yang dibentuk seperti ayat
Padahal maksudnya lebih gelap
Dari malam tanpa bulan.

Aku dulu bingung,
Mengira aku berlebihan.
Tapi lama-lama aku paham:
Bukan aku yang sensitif,
Kalian yang manipulatif.

Sekarang aku tak lagi bingung,
Hanya muak.

Dan muak
Kadang lebih jujur daripada sabar.


Tempat yang Tak Lagi Layak
Aku tidak benci kalian,
Karena benci hanya mengikatku kembali.

Aku hanya jijik
Pada sikap manis yang rasanya pahit
Begitu punggungku berbalik arah.

Aku lelah tersenyum demi menjaga suasana,
Lelah pura-pura tidak tahu,
Lelah pura-pura tidak terluka
Padahal aku tahu semuanya.

Jadi biarkan aku pergi,
Bukan karena kalian menang,

Tapi karena aku sadar:
Aku terlalu tulus
Untuk tetap bertahan di tempat
Yang menganggap kejujuran sebagai kelemahan
Dan kepura-puraan sebagai etika.

Kadang,
Meninggalkan bukan kehilangan
Tapi penyelamatan diri.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary

 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online