
Hujan turun tanpa jeda sejak tiga hari lalu. Langit seakan memerah karena terlalu lelah menampung awan gelap yang terus bergulung. Sungai di kaki bukit itu meluap, membawa arus deras yang menghantam segala yang dilewatinya. Tanah yang jenuh air tak lagi kuat menahan beban, sampai akhirnya longsor besar terjadi. Dan di tengah bencana itu, seorang bocah laki-laki berusia sembilan tahun bernama Raga kehilangan semuanya: rumahnya, kampungnya, dan kedua orang tua yang selalu memeluknya setiap malam.
Ketika fajar menyingsing, Raga berdiri di antara puing-puing lumpur yang dingin. Di tangannya, hanya ada sepotong roti yang sudah remuk dan basah oleh air hujan. Roti yang ditemukan di balik tas sekolahnya, terselamatkan oleh keajaiban kecil di tengah bencana besar. Tubuh kecilnya menggigil, bukan hanya karena dingin, tapi karena ketakutan yang merayapi dada.
“Ibu… Ayah…,” bisiknya sambil memandang ke arah longsoran besar yang kini menutup seluruh bagian rumahnya.
Tidak ada jawaban. Hanya suara hujan yang menampar tanah dan desisan angin yang merobek kesunyian.
***
Sudah sehari penuh Raga menyusuri jalanan yang dipenuhi genangan lumpur dan reruntuhan. Tim SAR tak mengizinkannya tinggal di lokasi bencana, terlalu berbahaya, terlalu menyakitkan. Tapi ke mana ia harus pergi? Tidak ada keluarga dekat, tidak ada rumah singgah, dan semua tetangga yang dikenalnya sibuk dengan duka masing-masing.
Raga berjalan seperti bayangan kecil yang tersesat di dunia yang terlalu besar. Langkahnya melemah. Perutnya keroncongan. Setiap kali ia mengangkat roti itu, ia ingin menggigitnya sampai habis. Namun entah mengapa ia menahan diri, seolah dengan menjaga sisa roti itu, ia menjaga harapan bahwa ayah ibunya akan muncul dan berkata, “Raga, sini makan bersama kami.”
Di tepi jalan raya kota kecil itu, sebuah lampu jalan berkedip. Raga duduk di bawahnya sambil memeluk lutut. Ia menatap orang-orang yang lalu lalang. Beberapa menatapnya iba, beberapa mengabaikannya seperti ia angin lalu. Raga terlalu lelah untuk meminta tolong, terlalu hancur untuk bercerita.
Hingga seorang lelaki berpakaian sederhana berhenti tepat di depannya. Lelaki itu berusia sekitar tiga puluh tahun, mengenakan jaket hitam lusuh, dan membawa tas selempang besar. Raga mengangkat wajahnya perlahan.
“Kamu sendirian di sini?” tanya lelaki itu lembut.
Raga tidak menjawab. Matanya hanya memandang kosong, lalu kembali menatap roti di tangannya.
Lelaki itu berjongkok. “Namamu siapa?”
Keheningan merayap. Baru setelah beberapa detik, suara kecil itu muncul. “R… Raga.”
“Raga… kamu sudah makan?” Raga menggeleng pelan.
“Boleh Kakak duduk di sini?” tanya lelaki itu.
Raga kembali mengangguk.
Lelaki itu duduk di sampingnya, namun dengan jarak cukup, agar bocah itu tidak merasa terancam. “Kakak Pama,” katanya sambil tersenyum kecil. “Kamu tinggal di mana, Raga?”
Pertanyaan itu seperti menusuk dada Raga. Bibirnya bergetar. Tangannya yang memegang roti ikut bergetar.
“Rumah… rumahku… hilang,” ucapnya hampir tak terdengar.
Pama terdiam. Dalam sorot mata bocah itu, ia melihat sesuatu yang lebih dari sekadar kehilangan. Itu adalah kehancuran.
“Ayah sama Ibu… ikut hilang juga,” lanjut Raga, suaranya pecah seperti kaca yang jatuh ke lantai. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai mengalir perlahan.
Pama menghela napas panjang. Ia mengangkat tangan, hendak mengusap kepala bocah itu, namun ia menahan diri—bukan karena tidak ingin, tapi karena ingin menghormati ruang Raga. “Kamu sudah berjuang sejauh ini, Raga. Kamu hebat.”
Raga menangis tanpa suara. Tubuhnya berguncang. Roti di tangannya jatuh ke tanah.
Pama pelan-pelan mengambil roti itu. “Ini milikmu ya?”
Raga mengangguk sambil sesenggukan. “Itu… sisa… sisa roti yang Ibu kasih… kemarin pagi… sebelum semuanya… hilang…”
Pama menatap roti itu lama sekali. Basah. Hancur. Tapi bagi Raga, roti itu adalah kenangan terakhir yang masih hidup.
“Raga,” ujar Pama pelan, “boleh Kakak bantu kamu cari tempat aman?”
Raga tersedu lagi. “Aku takut…”
Pama mendekat sedikit. “Kamu nggak harus kuat sendirian. Kadang… Tuhan kirim orang untuk membantu kita melanjutkan langkah. Kakak bisa antar kamu ke tempat pengungsian. Di sana hangat, ada makanan, ada selimut.”
Raga memeluk dirinya sendiri lebih erat. “Tapi… kalau Ayah dan Ibu cari aku… gimana?”
Pama tersenyum tipis. “Kita akan tinggalkan pesan buat tim penyelamat. Kalau keluargamu datang, mereka akan tahu kamu selamat.”
Raga menatap Pama. Ada sesuatu di mata lelaki itu—kejujuran, kehangatan, dan sesuatu yang membuat Raga merasa tak lagi sendirian. Perlahan ia mengangguk.
Pama berdiri dan mengulurkan tangan. “Ayo, Raga. Kakak temani.”
Bocah itu ragu sejenak, lalu meraih tangan Pama. Tangannya dingin, tapi genggamannya erat seperti seseorang yang untuk pertama kalinya menemukan tempat untuk bersandar.
***
Perjalanan menuju tempat pengungsian cukup jauh. Pama berjalan pelan, menyesuaikan langkah dengan langkah kecil Raga yang goyah karena lelah. Lampu-lampu kota mulai menyala, membuat bayangan mereka memanjang di trotoar.
“Pama…,” panggil Raga pelan.
“Iya?”
“Kakak… kenapa mau bantu aku?”
Pama tersenyum, tapi tidak segera menjawab. Ia menatap langit gelap yang masih menyimpan sisa badai.
“Dulu,” katanya lirih, “Kakak juga pernah kehilangan rumah. Dan ada orang yang menolong Kakak. Waktu itu Kakak berjanji… kalau suatu hari bertemu seseorang yang membutuhkan tangan… Kakak akan melakukan hal yang sama.”
Raga menatap lelaki itu lama sekali. Lalu ia berkata pelan, “Terima kasih.”
Pama tersenyum. “Sama-sama, Raga.”
***
Di depan gedung pengungsian, suara anak-anak lain terdengar, juga aroma bubur panas yang mengepul dari dapur umum. Selimut-selimut tebal menunggu di tumpukan.
Raga menggenggam tangan Pama lebih erat saat melihat keramaian. “Pama… jangan pergi dulu.”
Pama menepuk kepalanya perlahan. “Kakak di sini.”
Raga menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya sejak tragedi itu, ia merasa sedikit aman. Sedikit hangat.
Saat petugas menghampiri mereka, Pama berbisik, “Mulai sekarang, kamu tidak sendirian lagi.”
Raga menatap roti basah di tangan Pama. “Boleh… aku simpan? Buat kenangan Ibu…”
Pama mengangguk. “Tentu boleh.”
Di malam penuh luka itu, seorang anak kecil akhirnya menemukan setitik cahaya, dari seorang asing yang Tuhan kirim tepat ketika semua harapan hampir padam.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















