Romantisasi Kesendirian

39
Sebuah ilustrasi kessendirian dalam kesunyian (sumber: freepik)

Setelah Sendiri
Aku sendiri
Bersama hujan turun, kupikir aku tidak sendiri
Hujan yang turun bersama
berbalik berlawanan denganku

Aku sendiri
Air mengalir dari hulu ke hilir
Aku merenung, di bawah sinar rembulan
Mataku sayu
Ternyata aku sendiri

Hujan tak selalu air
Rasa dingin datang
Tulang ngilu, emosi kacau
Pikirpun entah melayang kemana
Hujan membawa suara khasnya

Dengan rintikan air yang mengenai bumi secara bersamaan
Bingung sangat mendominasi
Angan yang memojokkan
Menjatuhkan jiwa ke dalam lembah gelap


Kenangan Musim Hujan
Sumilir angin meniup kelopak mata
Aroma hujan yang tak henti datang
Bak ayam goreng dipinggir jalan
Hawa sejuk bercampur gemuruh perut

Bunyi tek tek an abang bakso memanggil
Dengan rasa kantuk, kuambil payung
Dan tanpa disadari gerobak motor hanya menyisakan asap.


Perjalanan Bermakna
Rasa takut
Datang tanpa suara,
Mengetuk hati
Saat langkah hendak dimulai.

Ia melukis bayangan kegagalan
Di kepala yang lelah,
Membuat diam terasa aman
Meski tak pernah benar-benar tenang.

Keberanian
Bukan tentang tak pernah takut,
Melainkan memilih berjalan

Meski hati bergetar.
Ia tumbuh dari doa,
Dari keyakinan kecil
Yang terus dipelihara,

Hingga langkah sederhana
Menjadi perjalanan yang bermakna.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary

 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online