
Persimpangan Cahaya
kita berdiri di persimpangan,
membawa kitab dan tafsir masing-masing.
suara-suara berbeda
bertemu dalam ruang publik
yang sama.
ada yang ingin menang sendiri,
ada yang belajar mengerti.
multikultural bukan ancaman,
ia cermin
betapa luasnya ciptaan tuhan.
moderasi adalah keputusan sadar
untuk berdialog, bukan berteriak.
untuk merangkul, bukan menghakimi.
karena cahaya tak pernah redup
hanya karena dibagi.
Pelangi Iman
di langit negeri yang majemuk ini
azan, lonceng, dan mantra
naik bersama embun pagi.
tak ada warna yang saling meniadakan,
semuanya berpadu menjadi cahaya.
perbedaan bukan jurang,
melainkan jembatan yang belum selesai dibangun
kita sering takut pada warna lain,
padahal pelangi indah
karena tak memilih satu.
moderasi adalah langkah tenang di tengah riuh keyakinan.
teguh pada iman sendiri,
namun lapang memberi ruang bagi iman yang lain.
Menjadi Saudara Dalam Perbedaan
jika tuhan menghendaki seragam,
mengapa ia ciptakan warna?
jika ia ingin satu suara,
mengapa lahir ribuan bahasa?
maka perbedaan bukan kesalahan,
melainkan tanda kebesaran.
kita belajar menjadi saudara,
bukan karena sama,
tetapi karena sama-sama manusia.
moderasi beragama adalah
menghormati tanpa kehilangan keyakinan,
meyakini tanpa merendahkan,
beriman tanpa memusuhi.
di meja panjang kebangsaan,
kita duduk berdampingan— membagi roti, membagi cerita,
dan membagi masa depan.
karena damai bukan berarti serupa,
melainkan bersedia hidup bersama
Penulis: Raiya Adjie Pratama


















