Huruf-huruf yang Menari

27
Ilustrasi gadis kecil yang memiliki dunianya sendiri (sumber: ai/ra)

Sejak berumur tiga tahun, Nina sudah memegang pensil seperti memegang rahasia. Tangannya kecil, jari-jarinya pendek, tetapi ia menggenggam pensil itu dengan kesungguhan yang jarang dimiliki anak seusianya. Saat anak-anak lain belajar mengucapkan kalimat panjang, Nina belajar membuat garis-garis kecil yang berubah menjadi huruf.

Ibunya pertama kali menyadari itu ketika suatu sore menemukan buku gambar Nina penuh oleh tulisan yang belum rapi, tetapi anehnya sudah membentuk kalimat.

Aku melihat kupu kupu biru
dia terbang pelan
aku ingin ikut

Tulisan itu miring, beberapa huruf terbalik, tetapi jelas. Sangat jelas untuk anak tiga tahun.

Nina tidak banyak bicara. Bahkan ketika namanya dipanggil berkali-kali, ia sering hanya menoleh sebentar lalu kembali tenggelam dalam dunianya. Di taman bermain, ia lebih suka duduk di bangku kayu sambil memperhatikan bayangan pohon daripada berlari bersama anak-anak lain.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ketika anak-anak lain tertawa keras, Nina sering menutup telinganya.

Suara terlalu ramai bagi Nina.

Dunia sering terasa terlalu penuh bagi Nina.

Tetapi di atas kertas, dunia itu menjadi lebih tenang.

Ibunya mulai menyediakan buku-buku kecil untuknya. Awalnya buku gambar, lalu buku tulis dengan garis-garis tipis. Nina menulis hampir setiap hari. Ia tidak selalu menulis dengan cepat. Kadang ia duduk lama, menatap halaman kosong seperti sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar orang lain.

Baru kemudian pensilnya bergerak.

Perlahan.

Hati-hati.

Seperti seseorang yang sedang menyalin mimpi sebelum mimpi itu hilang.

Saat Nina berumur empat tahun, ia sudah memiliki tiga buku kecil. Ibunya menyebutnya buku rahasia Nina, meski sebenarnya Nina tidak pernah menyebutnya begitu. Baginya, buku itu hanyalah tempat di mana kata-kata bisa hidup tanpa membuatnya lelah.

***

Suatu malam, ibunya membacakan salah satu tulisan Nina.

Aku mimpi ada tangga panjang di langit
aku naik pelan pelan
di atas ada cahaya seperti rumah

Ibunya terdiam lama.

Tulisan Nina tidak seperti tulisan anak-anak lain. Ia tidak menulis tentang mainan atau permen. Ia menulis tentang langit, cahaya, mimpi, dan perasaan yang bahkan sering sulit dijelaskan oleh orang dewasa.

Nina jarang bisa menjelaskan apa yang ia rasakan ketika ditanya langsung.

“Nina sedih?” tanya ibunya suatu hari.

Nina hanya mengangkat bahu.

Tetapi malamnya ia menulis.

Hari ini hatiku seperti hujan kecil
tidak deras
tapi dingin

Dari situlah ibunya mulai mengerti.

Nina mungkin tidak selalu bisa berbicara dengan suara, tetapi ia berbicara dengan kata-kata yang ia tulis.

Ketika Nina berumur lima tahun, buku-bukunya sudah bertambah menjadi tujuh. Sebagian berisi mimpi tidurnya. Sebagian lagi berisi pengamatan kecil yang ia lihat sepanjang hari.

Semut membawa nasi
mereka tidak bicara
tapi mereka tahu jalan pulang

Kadang ia menulis tentang hal-hal yang bahkan tidak pernah ia ceritakan sebelumnya.

Aku takut suara motor keras
seperti petir dekat telinga

Ibunya membaca semua tulisan itu dengan hati yang sangat pelan, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.

Ibunya tidak pernah memaksa Nina berbicara lebih banyak. Ia tidak pernah berkata, “Nina harus seperti anak lain.”

Sebaliknya, ia berkata,
“Nina punya cara sendiri untuk bicara.”

***

Suatu sore, ketika Nina berumur enam tahun, ibunya membawa pulang sebuah laptop kecil. Nina memandang benda itu lama sekali.

Ibunya membuka sebuah halaman sederhana.

“Nina mau menulis di sini juga?” tanya ibunya lembut.

Nina tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk di kursi kecil, lalu mengetik perlahan. Jari-jarinya masih mencari-cari huruf di papan ketik, tetapi matanya fokus seperti biasa.

Tulisan pertama di blog kecil Nina hanya tiga kalimat.

Hari ini langit seperti kertas biru
aku ingin menulis di langit
tapi aku menulis di sini saja

Ibunya tersenyum, tetapi matanya berkaca-kaca.

Blog itu tidak punya banyak pembaca. Hanya beberapa teman ibunya, seorang guru, dan dua orang sepupu Nina yang sesekali membuka halaman itu.

Namun bagi Nina, angka pembaca tidak pernah penting.

Yang penting adalah halaman kosong yang bisa diisi.

Setiap malam sebelum tidur, Nina sering duduk di meja kecilnya. Lampu meja kuning menyala hangat. Di depannya ada satu buku diary yang belum penuh.

Ia membuka halaman baru.

Kadang ia menulis mimpi yang baru saja ia lihat saat tidur siang.

Aku mimpi berjalan di hutan sunyi
pohon pohon tinggi seperti penjaga
tapi mereka baik

Kadang ia menulis impiannya.

Aku ingin membuat buku yang sangat tebal
supaya semua pikiranku punya rumah

Kadang ia menulis hal-hal yang bahkan ibunya tidak tahu ia rasakan.

Anak anak di taman tertawa bersama
aku berdiri jauh
tapi aku tidak marah
aku hanya berbeda jalan

Tulisan Nina tidak panjang, tetapi setiap kalimatnya seperti pintu kecil menuju dunianya.

Ibunya selalu duduk tidak jauh darinya, kadang membaca buku, kadang hanya memperhatikan Nina menulis.

Sesekali Nina berhenti.

Ia menggigit ujung pensil.
Menatap jendela.

Lalu kembali menulis.

Proses itu bisa berlangsung lama. Satu halaman kadang membutuhkan setengah jam. Bukan karena Nina tidak tahu harus menulis apa, tetapi karena ia memilih kata dengan hati-hati, seperti memilih batu kecil untuk menyusun jalan.

Saat tulisan selesai, Nina sering mendorong bukunya sedikit ke arah ibunya.

Bukan untuk dipuji.

Hanya untuk dibaca.

Ibunya selalu membaca dengan pelan, seperti membaca surat dari tempat yang jauh.

Suatu malam, Nina menulis sesuatu yang berbeda.

Jika kata kata adalah jembatan
maka aku sedang membangunnya
pelan pelan
supaya dunia bisa datang

Ibunya menutup buku itu perlahan.

Ia menatap Nina yang sudah kembali menulis sesuatu di halaman berikutnya.

Anak kecil itu masih sulit berbicara panjang. Ia masih sering berdiri di pinggir keramaian. Ia masih menutup telinga ketika suara terlalu keras.

Tetapi di atas kertas, Nina tidak pernah sendirian. Di sana ada langit yang ia gambar dengan kata.

Ada mimpi yang ia simpan. Ada perasaan yang akhirnya menemukan tempat. Dan dari halaman-halaman kecil itu, dunia mulai menemukan jalan untuk sampai kepada Nina.



Penulis: Ummu Masrurah