Puisi-puisi Ekologi

60
sumber ilustrasi (ai\ra)

Hutan Mengingat Doa
Di dada bumi, hutan pernah menjadi kitab hijau yang dibaca angin.
Kini gergaji menulis luka pada batang ranting dahan sunyi.
Burung kehilangan alamat rumahnya.
Namun tanah masih berbisik
barang siapa menanam kesabaran, Tuhan menumbuhkan kembali pohon harapan di halaman masa depan umat manusia.

Sungai Menelan Plastik
Sungai berjalan seperti ibu tua membawa kantong plastik dari dosa kota.
Airnya sesak oleh kemasan keserakahan.
Ikan-ikan membaca takdir pahit di perutnya.
Namun arus sungai itu tetap berdoa:
jika manusia belajar sederhana, Tuhan akan mencuci dunia dengan hujan yang subur.

Langit Menggigil
Langit kini seperti dahi anak kecil yang demam.
Asap pabrik menempel seperti kompres panas di wajahnya.
Matahari menatap cemas pada bumi yang berkeringat.
Namun angin menyampaikan pesan
orang-orang yang merawat bumi akan dipeluk oleh rahmat Tuhan.

Kota yang Tersengal
Kota tumbuh seperti bayi raksasa yang terus lapar
Rumah bertumpuk di punggung bumi
Manusia saling mendesak seperti doa yang terburu-buru.
Namun langit teguh menahan badai:
barang siapa yang berbagi roti, Tuhan membuka ruang damai di dada kehidupannya.

Bumi yang Khusyuk Berdoa
Pada akhirnya bumi duduk seperti ibu yang menunggu anak-anaknya pulang.
Hutan, sungai, langit, kota, semua berkumpul.
Mereka mengangkat tangan kepada Tuhan.
Dari kesabaran manusia-manusia yang tidak serakah,
tumbuhlah masa depan: dari kebahagiaan yang sederhana, merasa cukup, dan bersyukur dalam damai.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

10 Maret 2026, GKJW Madiun



Penulis: Fileski Walidha Tanjung
Editor: Rara Zarary