Puisi Hari Anak Nasional

126
Ilustrasi anak-anak dan sebuah cerita (sumber: pixabay)

Mesin Waktu dari Kardus
di halaman belakang, waktu dipotong-potong
oleh tangan-tangan kecil yang menjahit senja

mereka duduk dalam kardus bekas
—menyebutnya: mesin waktu

roda-rodanya dari tutup botol, setirnya piring plastik
dan jam di dada mereka
hanya tahu satu arah: ke depan

tiap “brum-brum” adalah deklarasi bangsa masa depan
tiap “cuit” dan “he-he-he” adalah peluit upacara imajinasi

tapi lihatlah, mesin itu tak berjalan—
ia mengendap, lalu lenyap
dalam tatapan ibu yang menghapus cucian
dalam pandang ayah yang menjadi langit di sore hari

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

anak-anak itu terbang ke masa depan
dengan bensin harapan dan oli khayalan

(aku yang dulu, masih di sana—
membetulkan roda,
bermain tuhan-tuhanan)

2025


Atlas Kecil Bernama Bumi
sebuah kepala anak-anak
lebih luas dari benua

tiap lipatan dahinya
adalah patahan tektonik

pikirannya berkeliaran
seperti satelit liar
menandai daratan khayal:
negara kapur,
hutan permen,
sungai berisi boneka-boneka tidur

ia berjalan menyusuri peta sekolah
dengan telunjuk penuh noda tinta
mengira tiap pulau adalah tempat bermain

Indonesia—
dalam bola dunianya
hanyalah goresan merah
yang bisa dihapus, digambar ulang, dan dicat warna pelangi

sebab dunia ini milik siapa?
anak-anak akan menjawab:
“kami sedang menggambarnya”

2025


Liturgi di Selembar Layang-layang
langit hari ini penuh suara:
bukan petir, bukan burung—
melainkan doa dari layang-layang kertas

di tubuhnya,
tertulis puisi dengan ejaan belum sempurna
dari anak yang tak tahu
bahwa Tuhan
selalu mendengar suara dengan logat terbata

tiap helai benangnya
menjuntai sampai bumi:
ke warung,
ke lumpur,
ke jendela sekolah yang patah engsel

aku membaca dada layang-layang itu seperti kitab
hurufnya tak berbaris, tapi melayang:
mimpi jadi dokter, pilot, bahkan tukang es

dan angin, jadi muadzin
yang memanggil semua harapan ke langit

tak ada ibadah yang lebih suci
daripada satu sore,
saat langit menjadi kanvas bocah-bocah
dan mereka menuliskan masa depan
dengan benang
dan tangan kecil penuh luka

2025


Ensiklopedia Anak yang Belum Ditulis
halaman 1: suara pertama yang kau tangkap adalah nyamuk
halaman 2: suara kedua adalah teriakan ibu melarang hujan

halaman 3 hingga 27: kamu menyangka dunia ini
berputar karena sepeda roda tiga

halaman 58: kamu menggambar keluarga dengan matahari tersenyum
halaman 112: kamu sadar, tak semua rumah punya jendela

di indeks belakang:
kamu menulis:
“kalau aku besar nanti, aku mau bikin negara
yang isinya cuma hari Minggu dan taman bermain.”

lalu seseorang mengambil buku itu darimu
dan menggantinya dengan buku rapor

tapi kamu menyelipkan halaman yang hilang
di balik kuku-kuku kecilmu,
agar suatu saat,
bila dewasa terlalu dingin,
kamu bisa kembali
membaca dirimu sendiri

2025


Indonesia dalam Bola Plastik
ada sebuah republik
berputar di antara kaki-kaki mungil
di lapangan merah bata

Indonesia sore ini
bukan peta dalam kelas IPS
bukan bendera di ujung tiang
tapi bola plastik seharga sepuluh ribu

ia meluncur, memantul
dan dicintai lebih dari semua pidato

pada satu tendangan,
sebuah provinsi lepas dari orbit
pada lainnya, mereka bersorak:
“GOOOL!”

tidak ada parlemen, tidak ada sengketa tanah
hanya sepatu bolong,
dan gawang dari sandal jepit
yang jadi konstitusi mereka

dan waktu itu, sungguh:
bangsa ini damai
bahagia
utuh
meski tanpa satu pun aturan

2025


Penulis: Fileski Walidha Tanjung, penyair kelahiran Madiun, 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media nasional.
Editor: Rara Zarary