
Mesin Waktu dari Kardus
di halaman belakang, waktu dipotong-potong
oleh tangan-tangan kecil yang menjahit senja
mereka duduk dalam kardus bekas
—menyebutnya: mesin waktu
roda-rodanya dari tutup botol, setirnya piring plastik
dan jam di dada mereka
hanya tahu satu arah: ke depan
tiap “brum-brum” adalah deklarasi bangsa masa depan
tiap “cuit” dan “he-he-he” adalah peluit upacara imajinasi
tapi lihatlah, mesin itu tak berjalan—
ia mengendap, lalu lenyap
dalam tatapan ibu yang menghapus cucian
dalam pandang ayah yang menjadi langit di sore hari
anak-anak itu terbang ke masa depan
dengan bensin harapan dan oli khayalan
(aku yang dulu, masih di sana—
membetulkan roda,
bermain tuhan-tuhanan)
2025
Atlas Kecil Bernama Bumi
sebuah kepala anak-anak
lebih luas dari benua
tiap lipatan dahinya
adalah patahan tektonik
pikirannya berkeliaran
seperti satelit liar
menandai daratan khayal:
negara kapur,
hutan permen,
sungai berisi boneka-boneka tidur
ia berjalan menyusuri peta sekolah
dengan telunjuk penuh noda tinta
mengira tiap pulau adalah tempat bermain
Indonesia—
dalam bola dunianya
hanyalah goresan merah
yang bisa dihapus, digambar ulang, dan dicat warna pelangi
sebab dunia ini milik siapa?
anak-anak akan menjawab:
“kami sedang menggambarnya”
2025
Liturgi di Selembar Layang-layang
langit hari ini penuh suara:
bukan petir, bukan burung—
melainkan doa dari layang-layang kertas
di tubuhnya,
tertulis puisi dengan ejaan belum sempurna
dari anak yang tak tahu
bahwa Tuhan
selalu mendengar suara dengan logat terbata
tiap helai benangnya
menjuntai sampai bumi:
ke warung,
ke lumpur,
ke jendela sekolah yang patah engsel
aku membaca dada layang-layang itu seperti kitab
hurufnya tak berbaris, tapi melayang:
mimpi jadi dokter, pilot, bahkan tukang es
dan angin, jadi muadzin
yang memanggil semua harapan ke langit
tak ada ibadah yang lebih suci
daripada satu sore,
saat langit menjadi kanvas bocah-bocah
dan mereka menuliskan masa depan
dengan benang
dan tangan kecil penuh luka
2025
Ensiklopedia Anak yang Belum Ditulis
halaman 1: suara pertama yang kau tangkap adalah nyamuk
halaman 2: suara kedua adalah teriakan ibu melarang hujan
halaman 3 hingga 27: kamu menyangka dunia ini
berputar karena sepeda roda tiga
halaman 58: kamu menggambar keluarga dengan matahari tersenyum
halaman 112: kamu sadar, tak semua rumah punya jendela
di indeks belakang:
kamu menulis:
“kalau aku besar nanti, aku mau bikin negara
yang isinya cuma hari Minggu dan taman bermain.”
lalu seseorang mengambil buku itu darimu
dan menggantinya dengan buku rapor
tapi kamu menyelipkan halaman yang hilang
di balik kuku-kuku kecilmu,
agar suatu saat,
bila dewasa terlalu dingin,
kamu bisa kembali
membaca dirimu sendiri
2025
Indonesia dalam Bola Plastik
ada sebuah republik
berputar di antara kaki-kaki mungil
di lapangan merah bata
Indonesia sore ini
bukan peta dalam kelas IPS
bukan bendera di ujung tiang
tapi bola plastik seharga sepuluh ribu
ia meluncur, memantul
dan dicintai lebih dari semua pidato
pada satu tendangan,
sebuah provinsi lepas dari orbit
pada lainnya, mereka bersorak:
“GOOOL!”
tidak ada parlemen, tidak ada sengketa tanah
hanya sepatu bolong,
dan gawang dari sandal jepit
yang jadi konstitusi mereka
dan waktu itu, sungguh:
bangsa ini damai
bahagia
utuh
meski tanpa satu pun aturan
2025
Penulis: Fileski Walidha Tanjung, penyair kelahiran Madiun, 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media nasional.
Editor: Rara Zarary


















