Preman Penjaga Sandal

57
Ilustrasi kisah seorang preman

Adzan pertama berkumandang dalam terik tak berawan. Joko hanya menatap curiga kepada warkop yang kini lengang. Orang-orang kekar yang dulu biasanya duduk di bangku panjang pun tak terlihat lagi. Terminal yang biasanya tercecer preman-preman di ruang tunggu dan pangkalan bus, kini lengang, hanya ada sopir dan kenek bus yang menunggu kursinya dipenuhi penumpang. Pada mulanya ia mengira telah ada peperangan besar atau mereka telah digiring ke jeruji besi seperti yang dialaminya.

Sejenak Joko berpaling, kini pandanganya ke seberang jalan. Terlihat orang-orang berjalan searah, diantara mereka ada lelaki 50an yang melempar senyum kepadanya. Dia adalah Usman, teman sepermainannya dulu. Usman juga yang menjebloskanya ke penjara. Ada sedikit rasa dendam atas kekalahnya kala itu. Dibalik itu dia juga menyimpan rasa bahagia karena melihat teman lamanya lagi.

Sepanjang mata memandang, kenangan kelam itu masih tertanam kuat, ketika ia dibuat sekarat karena merampok salah seorang santri milik Usman. Pada mulanya Usman hanya ingin mengambil barang yang sudah dirampas paksa, namun Joko malah berbalik menantang duel. “Kita sama sama pendekar, kebenaran berpihak pada golok siapa yang lebih tajam!” cetusnya.

Usman tak langsung mengiyakan ajakan itu, ia masih menganggap Jaka sebagai teman kecilnya. “Aku mengenalmu sejak kecil, tak patutlah kita saling melukai. Tolong kembalikan barang itu, bertobatlah!”

“Tau apa kau heh!” Joko melemparkan sebilah golok, “Bersiaplah kawan!”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Berjanjilah jika kau kalah, tinggalkan dunia gelap ini!” Usman tak mengambil golok itu.

“Dengan tangan kosongmu, jangan harap aku kalah heh” decit Joko.

Tak satu pun sabetan golok berhasil menyentuh tubuh Usman. Dengan gerakan lincah bak belut, ia menghindar dari setiap serangan, sementara wajahnya memerah, menahan amarah bercampur pilu. Dalam sekejap, serangan baliknya menghantam keras, mematahkan dua tulang rusuk dan rahang kanan Joko. Tubuh kekar itu terkapar di tanah, tak berdaya.

Dalam keremangan pandangan Joko yang kesakitan, ia samar-samar melihat tetes air mata mengalir di wajah Usman. “Maafkan aku, Joko,” bisik Usman lirih, penyesalan membekas di suaranya.

Ia berlutut di samping tubuh temannya yang kini tak berdaya, teman yang dulu selalu bermain bersamanya di masa kecil. Dengan suara bergetar, Usman berjanji, “Aku tak akan pernah lagi menggunakan kemampuan silatku. Aku telah melukai sahabatku sendiri, aku tak akan mengulanginya.”

Tak satu pun dari para preman anak buah Joko berani ikut campur, mereka sadar betul risiko terlibat dalam pertarungan dua singa yang sedang mengadu kekuatan. Setelah kejadian itu, Joko sekarat selama 10 bulan. Saat tersadar ia mendapati dua polisi yang siap menangkap dedengkot preman itu yang bertahun-tahun menjadi buronan.

***

Adzan kedua telah berkumandang, belum ada satupun balakurawanya terlihat. Joko melangkah menuju warkop yang sedari tadi dipandangnya. Hanya ada Mak Surti yang melamun sebelum tersadar ada Joko yang telah duduk di bangku panjang. “Loh, sejak kapan kau keluar penjara?” katanya.

“Semalam mak. Kemana orang-orangku pergi?”

“Aku senang mereka semua jadi rajin jum’atan. Ini berkat Kiai Usman.”

Seketika mata Joko terbuka lebar, sedikit seringai dimulutnya. “Kurang ajar!” wajahnya memerah, alisnya berkerut, tangannya mengepal erat menggebrak bangku panjang.

“Dasar munafik! Dia telah mengingkari janji!” pekiknya

Suara Joko menggema, menggelegar seperti petir, membuat lutut Mak Surti terasa lemas. Entah janji apa yang dilanggar pendakwah itu yang telah membakar emosi Joko, pikirnya. Mak Surti hanya bisa menatap lebar ketika Joko beranjak ke arah masjid. Ia tahu badai kemarahan itu bisa menghancurkan segalanya, termasuk dirinya jika terjebak di jalur salah.

Dari kejauhan, terdengar lantang suara Usman tengah menyampaikan khutbah. Suara itu menambah bara api kemarahan Joko. Langkahnya semakin cepat. Sesampainya di gapura masjid, ia tercengang dengan apa yang dilihatnya. Beberapa preman sedang menata sandal yang kini sebagian sudah tertata rapi.

Amarahnya semakin memuncak, namun ia masih sadar, tak ingin mengganggu kekhusuykan mereka yang sedang mendengarkan khutbah. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menjaga ketenangannya meskipun hatinya bergolak. “Keterlaluan! Apa salah anak buahku hingga diperlakukan seperti ini!?” gerutunya dalam hati.

Seruan iqamah dilantunkan, mereka yang semula duduk kini berdiri mengucap takbir. Joko termenung, berdiri di gapura masjid. Menyusun siasat, jangan sampai ia dibuat sekarat lagi. Bagaimanapun juga, Usman masih seorang jawara silat yang belum tertandingi. Joko berubah pikiran, belum mau bertemu anak buahnya sebelum tahu penyebab sebenarnya mereka melaksanakan jumatan.

Suara salam dari imam menandai selesainya sholat. Orang-orang mulai berhamburan keluar masjid, memenuhi pelataran dengan langkah terburu-buru. Di antara kerumunan itu, Joko memperhatikan dengan saksama, memastikan bahwa preman-preman benar-benar meninggalkan masjid. Dengan sigap, ia segera mencari tempat bersembunyi, menunggu Usman keluar tanpa menarik perhatian siapa pun.

Masjid sudah lengang, menyisakan beberapa lelaki tua yang menghitung pundi-pundi uang dari kotak amal berjalan. Terlihat Umar duduk diantara mereka. Joko masih teringat bagaimana Umar membuatnya terkapar, dengan hati-hati ia mendekat dan meminta penjelasan. “Kau mengancaman apa hingga membuat anak buahku mau jumatan heh?” decaknya.

“Tak ada ancaman kawan, itu atas kemauan mereka sendiri.”

“Ah jangan bohong! Aku juga melihat diantara mereka ada yang menata sandal di pelataran.”

“Ia bekerja menjaga sandal,” kata Umar dengan nada santai namun tegas. “Dia menerima upah untuk pekerjaannya itu, sama seperti dulu orang-orangmu yang kini ikut mengisi shaf shaf jumatan.”

Joko mengenal Usman sejak kecil—sosok yang selalu teguh memegang kata-katanya. Namun, meski begitu, hatinya belum sepenuhnya yakin. Dengan napas tersengal, ia berkata, “Aku belum sepenuhnya percaya! Mulai Jumat depan, aku sendiri yang akan berjaga!” Selama belum merasakanya sendiri, ia tak mau dulu bertemu dengan anak buahnya. Preman-preman pasti sudah ditundukkan jawara silat itu, pikirnya. Ia harus memastikan sendiri, apakah janji Usman benar adanya atau hanya sekadar kata-kata.

Tak terasa sepekan sudah terlewat. Jumat telah kembali, adzan pertama sudah memasuki waktunya, orang-orang berdatangan, memenuhi setiap ruangan. Umar menaiki mimbar, disambut adzan kedua yang dikumandangkan. Joko datang paling akhir duduk di undak-undakan di muka serambi. Ia hanya menunggu usainya serangkaian ibadah, seiring selesainya setiap rangkaian ibadah, tak disangka timbul ketenangan di hati. Ia tak pergi sebelum masjid lengang, Usman menghampirinya. “Ini upahmu kawan.” Ucapnya.

“Pekan depan aku akan berjaga lagi.” Pinta Joko.

Seiring berlalunya waktu, jumat demi jumat Joko menjalankan pekerjaan barunya itu. Ia mengamati setiap orang yang keluar dari serambi. Ia mengedarkan pandangan, matanya menangkap sosok-sosok yang dulu gemetar ketakutan setiap kali bertemu dengannya. Timbul perasaan ganjil di hati. Bukankah mereka yang seharusnya menjaga sandalku? Pikirnya.

Seperti biasa, setelah masjid lengang dan para jamaah mulai meninggalkan serambi, Joko menemui Usman. Wajahnya tampak serius. Ia menatap Usman dengan mata yang penuh tekad. “Aku ingin berhenti menjaga sandal,” ucapnya, suara penuh keyakinan. “Aku ingin bergabung dalam shalat Jumat bersama jamaah lainnya. Sebagai seorang dedengkot preman, sandalku lah yang seharusnya dijaga.”

Usman menatap Joko sejenak, seolah merenungi setiap kata yang keluar dari mulut temannya itu. Setelah hening beberapa detik, Usman kemudian menjawab dengan nada tenang namun tegas, “Kalau kau ikut shalat, siapa yang akan menjaga sandal-sandal itu?”

Joko tersenyum sedikit, merendahkannya. “Ah, itu masalah gampang. Aku akan segera menemui anak buahku dan memerintah mereka untuk menggantikanku.”

Usman terkekeh pelan, lalu senyum lebar menghiasi wajahnya. Kegembiraan terpancar jelas, segala perubahan ini telah membawa kebahagiaan tersendiri baginya. Preman-preman yang dulu ia bayangkan duduk mengisi shaf-shaf, kini menjadi kenyataan. “Kawan, begitulah dulu preman-preman anak buahmu itu masuk ke dalam shaf-shaf ini, sama sepertimu sekarang.” pungkas Usman dengan suara penuh makna, menyadari betapa jauh perjalanan hidup mereka telah berubah.



Penulis: Fahmi Hasan Arrosyid, kelahiran Cilacap tahun 2002. Ia sedang menggiati sastra di Kota Jogja sembari kuliah dan bekerja untuk menghidupi mimpi. Selain itu juga mengabdi kepada salahsatu lembaga pendidikan islam yang ada di Desa Sardonoharjo, Sleman.