Ilustrasi Polarisasi Politik

Buku berjudul Bintang Daud di Jazirah Arab: Relasi Politik Nabi Muhammad dengan Yahudi di Madinah yang dikarang oleh Khoirul Anwar menjelaskan secara detail tentang hubungan diplomatis antara Nabi Muhammad saw dan Yahudi. Buku tersebut membahas 3 hal, yaitu Perjumpaan suku Quraisy dengan Yahudi Madinah pada masa pra-Islam, relasi politik Nabi Muhammad dengan Yahudi di Madinah, dan kontribusi Yahudi terhadap kekuasaan Nabi Muhammad.

Dijelaskan bahwa, sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw. ke Madinah, terdapat 3 suku besar yang hidup di sana, termasuk Yahudi. Saat Nabi Muhammad Saw. memasuki Madinah, semua bergembira termasuk umat Yahudi yang menyambut dengan sambutan istimewa. Salah satu riwayat yang terkenal untuk mengisahkan cerita ini adalah dari Ibnu Hisyam.

Bahkan dikisahkan jika wilayah Yastrib berganti nama menjadi Madinah berasal dari kontribusi Yahudi. Orang Yahudi memberi nama kota Yastrib dengan nama “Medinta” yang berasal dari kata Aramic, yang kemudian di-Arab-kan menjadi Madinah. Kumpulan riwayat tersebut seolah menarik satu kesimpulan penting, yaitu Nabi Muhammad melakukan diplomasi cantik dengan Yahudi untuk menyusun kekuatan.

Meskipun keduanya berbeda soal keyakinan, namun dalam permasalahan menjaga Kota Madinah, keduanya memiliki visi yang sama. Tercatat dalam sejarah, bahwa Nabi Muhammad melakukan perjanjian damai dengan Yahudi. Meminta bantuan Yahudi untuk ikut serta dalam peperangan, baik secara materi, pikiran, maupun tenaga. Dan pihak Yahudi menyambut baik tawaran Nabi Muhammad Saw.

Perang Uhud merupakan saksi bagaimana Nabi Muhammad Saw. secara terang-terangan meminta bantuan Yahudi, terkhusus Yahudi bani an-Nadlir untuk ikut dalam peperangan. Bahkan riwayat ternama dari Ibnu Ishaq mengkonfirmasi bahwa Mukhairiq seorang Rabbi Yahudi memberikan sebuah ultimatum untuk menolong Nabi Muhammad. Hal ini jelas menggambarkan hubungan politik yang cukup romantis antara Islam dan Yahudi itu sendiri.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Penyebab Polarisasi Politik di Indonesia

Salah satu pidato terkenal dari Presiden Joko Widodo ialah amanat untuk selalu menjaga persatuan. Hal itu menjadi penting karena polarisasi yang ada di Indonesia sangat rentan terjadi, sebab perbedaan hampir ada di setiap sisi; baik suku, agama, maupun budaya. “Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam sebuah demokrasi, tetapi masalah timbul saat perbedaan ini dijadikan alasan untuk memecah belah masyarakat,” ucap Presiden Joko Widodo.

Maka akan sangat penting untuk menemukan titik persatuan di antara masyarakat, seperti keinginan untuk menjaga negara, mewujudkan kehidupan yang makmur, atau alasan kuat lainnya yang mampu mempersatukan seluruh elemen masyarakat. Konsensus persatuan ini juga perlu disebarkan melalui media maya.

Media maya yang menjadi sumber informasi, bisa berbalik arah menjadi ladang disinformasi yang dimanfaatkan sejumlah pihak untuk memecah rakyat Indonesia. Menurut aktivis media sosial seperti Aulia Halimatussadiah, media sosial bisa menjadi alat yang kuat untuk menyebarkan pandangan politik, tetapi juga bisa menjadi sarana yang memperdalam kesenjangan di antara kelompok-kelompok yang berbeda. Dua hal ini merupakan penyebab tumbuh suburnya polarisasi politik di Indonesia. Nilai-nilai perbedaan yang disalahpahami oleh masyarakat, dan kemudian disebarluaskan melalui media maya, adalah penyebab kuat polarisasi itu terjadi.

Akibatnya banyak terjadi perang argumen yang melahirkan kebencian, pencemaran nama baik, dan hal lain yang memicu pertengkaran antara kedua pihak. Keduanya sama-sama kuat memegang keyakinan masing-masing, serta secara serampangan memaksakan keyakinan tersebut pada lawan politiknya.

Mencontoh Politik Nabi dengan Yahudi

Corak politik yang digelar oleh Nabi dan orang Yahudi adalah contoh yang harus diterapkan dalam perpolitikan Indonesia. Tentang bagaimana Nabi memandang bahwa politik tidak seharusnya memaksakan semua kehendaknya kepada pihak yang berseberangan. Politik merupakan wadah untuk mencapai kesepakatan bersama.

Politik menjadi kendaraan yang bisa dikendarai semua orang untuk mencapai tujuan besar, seperti kemakmuran, keamanan, dan cita-cita luhur lainnya. Seperti Nabi Muhammad yang bisa meninggikan Islam dengan mengikutkan orang Yahudi dalam perjuangannya, masyarakat Indonesia juga bisa mencapai kemakmuran bangsanya dengan merangkul semua orang tanpa memandang latar belakangnya.

Politik yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw bisa menjadi acuan dasar yang bisa diterapkan masyarakat Indonesia. Wajah politik yang demokratis, wajah politik yang merangkul, wajah politik yang menguntungkan semua orang, dan wajah politik yang melibatkan semua orang untuk mencapai tujuan besar.


Ditulis oleh Muhammad Nur Faizi, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta