
Sejak kecil, aku sudah terbiasa menahan sesuatu yang tidak pernah benar-benar aku pahami. Bukan karena aku kuat, tapi karena aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Luka itu pertama kali aku rasakan saat masih duduk di bangku MI. Perihnya datang tiba-tiba, aneh, dan berbeda dari luka biasa. Aku ingat berdiri lama di kamar mandi, menatap cermin dengan bingung, seolah berharap bayangan di depanku bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi pada tubuhku sendiri.
“Ini cuma luka biasa…” bisikku pelan, mencoba terdengar yakin meski sebenarnya takut.
Aku mengambil obat luka yang ada di rumah, mengoleskannya dengan hati-hati. Rasa perihnya membuatku meringis, tapi aku bertahan. Aku percaya, seperti luka-luka lain, ini juga akan sembuh.
Tapi tidak.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Luka itu tidak hilang. Ia hanya berubah kadang nyeri, kadang diam, tapi selalu ada. Sejak saat itu, aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun: menahan tanpa suara.
Aku hampir pernah bercerita.
“Bu…” panggilku suatu sore, saat ibu sedang duduk di ruang tengah, wajahnya terlihat lelah setelah seharian bekerja.
“Iya, Lis?” jawabnya lembut.
Aku berdiri di depan pintu, ragu.
“Aku… aku mau bilang sesuatu…”
Ibu menoleh, tersenyum.
“Ada apa? Cerita saja.”
Aku menunduk. Kata-kata itu sudah di ujung bibir, tapi bayangan wajah ibu yang semakin lelah jika tahu, membuatku mundur.
“Enggak jadi, Bu… cuma capek…”
Ibu tertawa kecil.
“Istirahat ya. Jangan dipikirkan macam-macam.”
Aku mengangguk.
“Iya, Bu…”
Dan sejak itu, aku memilih diam.
Bukan karena tidak ingin sembuh, tapi karena takut menjadi beban.
Aku tumbuh bersama luka itu. SMP, SMA, hingga kuliah, ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia menjadi rahasia yang aku bawa ke mana pun aku pergi, sesuatu yang selalu aku sembunyikan bahkan dari diriku sendiri.
Di kamar kos saat kuliah, aku pernah memberanikan diri mencari tahu.
“Kalau aku cari di internet…” gumamku pelan.
Tanganku gemetar saat mengetik kata demi kata.
Beberapa detik kemudian, layar ponselku dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang membuat napasku tercekat.
“Infeksi serius… penyakit kronis…”
Aku langsung menutup layar.
“Enggak… enggak mungkin…” bisikku cepat, seperti menyangkal sesuatu yang belum tentu benar.
Aku memeluk lututku, duduk di sudut kamar yang sempit.
“Kalau ke dokter… nanti mahal… nanti ditanya macam-macam… nanti…” aku menggeleng.
Aku tidak siap.
Aku tidak siap menghadapi kemungkinan terburuk, dan lebih dari itu—aku tidak siap melihat orang tuaku khawatir.
Jadi aku memilih diam… lagi.
Aku mencoba berbagai obat herbal secara sembunyi-sembunyi. Kadang ada perubahan kecil, cukup untuk memberiku harapan. Tapi kemudian luka itu kembali, seperti mengingatkan bahwa ia belum selesai.
Aku mulai terbiasa hidup dengannya.
Seolah-olah itu bagian dari diriku.
Aku bertemu Bima di tempat yang paling sunyi—perpustakaan kampus, di sudut yang jarang dijamah orang. Aku datang ke sana bukan hanya untuk belajar, tapi juga untuk bersembunyi. Dari dunia, dari pertanyaan, dari diriku sendiri.
Hari itu aku sedang membaca, atau setidaknya mencoba, ketika seseorang menarik kursi di depanku.
“Maaf… boleh duduk di sini?”
Aku menoleh. Seorang laki-laki dengan wajah tenang dan mata yang tidak banyak bicara.
“Iya… silakan…”
Ia duduk tanpa banyak kata. Hanya membuka buku dan tenggelam dalam dunianya sendiri.
Hari itu tidak ada yang istimewa.
Tapi keesokan harinya, ia datang lagi.
Dan hari berikutnya.
Sampai akhirnya, ia mulai berbicara.
“Kamu sering di sini ya?”
Aku mengangguk.
“Iya…”
“Aku juga,” jawabnya singkat.
Kami tidak langsung dekat. Percakapan kami sederhana, bahkan seringkali berhenti di tengah. Tapi ada sesuatu yang membuatku nyaman—ia tidak pernah memaksaku menjadi lebih dari yang aku mau.
Suatu hari, hujan turun deras saat kami keluar dari perpustakaan.
Aku berdiri di teras, menunggu reda.
Bima datang dengan payung.
“Mau pulang?” tanyanya.
Aku ragu.
“Iya… tapi hujannya…”
Ia membuka payungnya.
“Bareng saja.”
Aku mengangguk pelan.
Kami berjalan berdampingan. Hujan deras di luar, suara air jatuh seperti musik yang anehnya menenangkan.
Di tengah jalan, ia berkata pelan,
“Lisa… kamu kelihatan kuat.”
Aku menoleh.
“Kok tahu?”
Ia tersenyum tipis.
“Orang yang terlalu diam biasanya menyimpan banyak hal.”
Langkahku sempat terhenti.
Aku tidak menjawab.
Tapi sejak saat itu, aku tahu Bima melihatku.
Bukan hanya apa yang aku tunjukkan.
Saat ia melamarku, aku justru diliputi ketakutan.
Malam sebelum lamaran, aku duduk di samping ibu.
“Bu…”
“Iya, Lis?”
“Kalau Lisa nikah… Ibu ikhlas?”
Ibu tersenyum hangat.
“Selama kamu bahagia, Ibu ikhlas.”
Aku menunduk.
“Kalau Lisa punya kekurangan?”
Ibu menatapku.
“Semua orang punya kekurangan, Nak.”
“Kalau… kekurangannya berat?”
Ibu mengusap kepalaku.
“Yang penting dia menerima kamu apa adanya.”
Air mataku jatuh.
“Kalau dia belum tahu semuanya, Bu?”
Ibu terdiam sejenak.
“Jangan simpan luka terlalu lama, Lis… nanti kamu yang lelah…”
Aku tidak menjawab.
Karena aku tahu… aku sudah terlalu lama menyimpannya.
Setelah menikah, aku akhirnya tidak bisa lagi bersembunyi.
“Bim…” suaraku gemetar suatu malam.
“Iya, Lis?”
“Aku… punya luka… dari kecil… belum sembuh…”
Aku menunduk.
“Aku takut kamu jijik…”
Hening.
“Lisa… lihat aku.”
Aku mengangkat wajah pelan.
Matanya tidak berubah.
Tidak ada jijik.
Tidak ada marah.
Hanya khawatir.
“Kenapa kamu sendirian selama ini?”
Air mataku jatuh.
“Aku takut jadi beban…”
Bima menggenggam tanganku erat.
“Kamu bukan beban.”
Tangisku pecah.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian.
Bima membawaku ke luar negeri, dengan alasan liburan.
Namun di balik itu, ia sudah menyiapkan semuanya.
“Kita cari tahu, ya…” katanya pelan.
Aku hanya bisa mengangguk.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar berharap.
Namun sebelum semuanya selesai, kabar itu datang.
“Lisa… Ibumu meninggal…”
Duniaku runtuh.
“Bim… aku mau pulang…”
Operasi itu batal.
Jawaban itu tertinggal.
Dan aku pulang… hanya untuk kehilangan.
Waktu berjalan.
Luka itu masih ada.
“Kita coba lagi ya, Lis…” kata Bima.
“Kamu nggak capek?” tanyaku.
“Aku nggak mau kamu terus sakit,” jawabnya.
Namun hidup kembali membuatku berhenti.
“Bim…” aku menyerahkan test pack.
“Aku… hamil…”
Ia terdiam.
Aku menangis.
“Operasinya gimana…”
Ia menggenggam tanganku.
“Kita tunda…”
Aku menutup wajahku.
“Aku takut…”
Ia memelukku erat.
“Kita jalanin bareng…”
Aku tidak tahu bagaimana hidupku akan berjalan. Aku tidak tahu luka ini akan sembuh atau tidak. Yang aku tahu, aku masih hidup dan masih bertahan. Sebagai perempuan yang menyimpan luka. Dan kini… menjadi rumah bagi kehidupan.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















