
Jejak Fajar
Pagi itu Surya datang lebih awal dari biasanya.
Ia menyelinap di sela tirai kamarku,
memaksa mataku terbuka sebelum mimpi benar-benar selesai.
“Ayo bangun,” seolah begitu katanya.
Aku menggerutu pelan,
sedangkan Surya terus menebar kehangatan tanpa merasa bersalah.
Banyak orang menyambutnya dengan riang,
namun tak sedikit pula yang menghindari teriknya.
Surya tidak pernah marah.
Ia tetap datang setiap hari,
meski sering kali kehadirannya dianggap biasa.
Padahal tanpa dirinya,
langit tak akan berwarna,
pepohonan tak akan bertumbuh,
dan jalan-jalan tak akan menemukan arahnya.
Saat senja mulai tiba,
aku menatap cahaya yang perlahan menghilang.
“Besok datang lagi?” tanyaku dalam hati.
Dan Surya menjawab dengan caranya sendiri.
Ia tenggelam perlahan di ufuk barat,
meninggalkan janji yang tak pernah diucapkan:
“Aku akan kembali, seperti biasanya.”
Percakapan dengan Hujan
Siang itu hujan turun tanpa permisi.
Langit yang semula terang,
mendadak berubah menjadi abu-abu.
Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh,
sedangkan aku memilih diam di beranda.
Butir demi butir jatuh ke tanah,
memecah kesunyian yang sejak pagi menemaniku.
“Hari ini kau sedih?” tanyaku kepada hujan.
Ia tidak menjawab.
Hanya suara rintiknya yang semakin rapat.
Aku tersenyum kecil.
Mungkin hujan memang tidak pandai berbicara.
Ia lebih suka menunjukkan perasaannya dengan cara yang berbeda.
Kadang deras seperti amarah yang tertahan.
Kadang gerimis seperti rindu yang malu-malu.
Kadang datang tiba-tiba,
seperti kenangan yang tidak diundang.
Ketika hujan mulai reda,
aku menyadari sesuatu.
Tidak semua yang datang membawa basah akan membawa bencana.
Karena beberapa di antaranya hadir untuk membersihkan debu yang terlalu lama menempel.
Dan mungkin,
seperti hujan yang turun dari langit,
ada kesedihan yang Allah kirim bukan untuk menghancurkan,
melainkan untuk membuat hati kembali tumbuh.
Angin itu Sahabatku
Sore itu angin datang tanpa suara.
Aku tidak melihat wajahnya,
tidak mendengar langkahnya,
bahkan tidak tahu dari mana ia berasal.
Namun aku tahu ia ada.
Ia bermain di antara daun-daun yang menari,
menyentuh ujung kerudungku dengan lembut,
lalu pergi sebelum sempat kusapa.
Angin memang seperti itu.
Tidak suka menetap.
Tidak suka menjadi milik siapa-siapa.
Ia datang hanya untuk mengingatkan bahwa tidak semua hal indah harus dimiliki.
Kadang cukup dirasakan.
Aku pernah mencoba mengejarnya.
Tetapi semakin kukejar, semakin jauh ia menghilang.
Sampai akhirnya aku mengerti.
Angin tidak pernah diciptakan untuk ditangkap.
Ia diciptakan untuk mengajarkan kebebasan.
Dan sejak hari itu, aku berhenti menggenggam terlalu erat.
Karena beberapa hal memang akan lebih indah ketika dibiarkan berjalan sebagaimana mestinya.


















