
Tebuireng.online— Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Timur yang terdiri dari rombongan Surabaya, Malang, dan Jombang melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, pada Sabtu (7/3/2026). Sekitar 50 orang hadir dalam kegiatan tersebut untuk melakukan tabur bunga di makam Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebagai bentuk penghormatan atas jasa beliau dalam memperjuangkan nilai pluralisme dan keberagaman bagi masyarakat Indonesia, khususnya etnis Tionghoa.
Rombongan tiba di kompleks makam sekitar pukul 14.00 WIB. Ketua panitia kegiatan dari INTI, Andi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam menjaga nilai toleransi dan keberagaman di Indonesia.
Baca Juga: Gusdurian Jombang Dampingi Masyarakat Tionghoa Ziarah ke Makam Gus Dur
“Kegiatan kami sesuai dengan visi dan misi untuk menjaga Indonesia dengan nilai keberagaman dan toleransi. Ini juga menjadi agenda rutin kami untuk berkunjung ke makam Gus Dur,” ujarnya.

Ia menambahkan, kunjungan ini juga bertepatan dengan suasana perayaan Cap Go Meh sehingga menjadi momentum bagi masyarakat Tionghoa untuk mengenang sosok Gus Dur yang dianggap berjasa besar bagi mereka.
“Dalam masa Cap Go Meh, memori masyarakat Tionghoa terhadap Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme Indonesia tidak bisa dipisahkan dari nama Tebuireng. Kami juga berterima kasih kepada teman-teman di Tebuireng yang menerima kedatangan kami dengan baik,” katanya.
Baca Juga: Gusdurian Jombang Dampingi PSMT Mojokerto Ziarahi Makam Gus Dur
Sebelum berkunjung ke Tebuireng, rombongan INTI terlebih dahulu singgah di Kelenteng Gudo, Jombang. Di sana mereka menyaksikan pertunjukan wayang potehi sekaligus mencicipi kuliner khas perayaan Cap Go Meh.
“Tadi kami sempat ke Kelenteng Gudo untuk berkunjung, mencicipi lontong Cap Go Meh, dan melihat wayang potehi. Ternyata banyak santri yang belajar menjadi dalang di sana,” tambah Andi.
Menurutnya, kegiatan mengenang Gus Dur ini juga berkaitan dengan peristiwa sejarah yang pernah dialami masyarakat Tionghoa di Indonesia.
“Setelah tragedi 1998, kami memutuskan untuk selalu mengenang Gus Dur hingga saat ini. Ini kegiatan kedua kami. Sebelumnya sekitar sepuluh tahun yang lalu kami juga datang ketika masih masa kepemimpinan Gus Sholah,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa gagasan berdirinya organisasi INTI tidak terlepas dari peran Gus Dur.
“Pencetus Perhimpunan Indonesia Tionghoa ini adalah Gus Dur. Beliau yang memberi nama Indonesia Tionghoa atau INTI,” katanya.
Kedatangan rombongan disambut oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, di ndalem pesantren. Dalam kesempatan tersebut, ia sempat menceritakan kenangan masa kecil Gus Dur di lingkungan keluarga pesantren.
Baca Juga: Jadi Simbol Pluralisme, Boen Hian Tong Ziarahi Makam Gus Dur
“Kami kepada Gus Dur itu kadang juga heran. Sejak kecil yang saya ingat, kalau Lebaran hari pertama biasanya keluarga kumpul di sini. Gus Dur itu orangnya lucu, memimpin dengan cara humor. Pergaulannya luas, tapi pemahaman agamanya kuat. Moderasi beragama memang diajarkan di sini,” tuturnya.
Ia juga menilai kegiatan silaturahmi seperti ini penting untuk terus menjaga persaudaraan lintas komunitas.
“Acara seperti ini penting untuk silaturahmi, agar hubungan seperti ini terus nyambung dan semakin akrab. Jaringan Gus Dur itu nasional, sementara Hasyim Asy’ari jaringannya internasional,” tambah Ketua PBNU tersebut.
Gus Kikin menegaskan bahwa warisan pemikiran dan sikap Gus Dur merupakan kelanjutan dari nilai-nilai yang diajarkan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
“Apa yang dilakukan Gus Dur adalah apa yang diajarkan oleh KH Hasyim Asy’ari. Gus Dur memberikan kebermanfaatan bagi umat. Karena itu, meskipun beliau sudah tiada, masih banyak orang dari berbagai kalangan yang menyayangi dan berziarah ke makamnya,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua INTI Jawa Timur, Stevanus Budi Wijaya, menyampaikan bahwa organisasinya juga akan menyalurkan seribu paket takjil bagi masyarakat melalui pos pantau di Jombang selama Ramadan.
“Yang saya ingat dan amalkan dari pesan Gus Dur adalah jiwa toleransinya. Beliau tidak pernah membeda-bedakan orang ketika ingin berbuat baik. Apa pun agamanya, tetap diperlakukan dengan baik tanpa saling menyinggung,” ujarnya.
Salah satu anggota rombongan, Meyfang, juga menilai pemikiran Gus Dur mampu merangkul seluruh kalangan agama.
“Pemikiran beliau benar-benar bisa menerima semua kalangan agama. Nasionalisme yang beliau ajarkan membuat kita selalu hidup rukun,” katanya.
Baca Juga: Belajar Toleransi dari Gus Dur, Menyelaraskan Fikih dengan Realitas Bangsa Majemuk
Hal serupa disampaikan oleh anggota INTI lainnya, Hay. Ia mengaku baru pertama kali berziarah ke makam Gus Dur dan merasakan ketenangan tersendiri.
“Baru pertama kali ke makam Gus Dur rasanya anyem, sejuk di hati. Beliau jadi salah satu hero saya, karena saya dari keluarga yang agamanya campur. Gus Dur menjadi role model bagaimana mengedepankan keberagaman tanpa membeda-bedakan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa nilai toleransi yang diajarkan Gus Dur juga ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari di tempat kerja.
“Kalau ada teman Muslim yang ingin ziarah ke wali, kami saling membantu menggantikan pekerjaannya. Begitu juga sebaliknya. Itu yang saya pelajari dari Gus Dur,” pungkasnya.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary


















