tebuireng.online™— Setelah pertemuan pertama yang dilaksanakan minggu yang lalu, Jum`at (3/15) sekolah menulis jilid 3 melaksanakan pertemuan kedua dengan pemateri Saiful Amin Ghofur (Pimpinan Umum, Penerbit Kaukaba Yogyakarta) dan Aminuddin, melanjutkan materi sastra. Pada pertemuan perdananya, Mas Saiful, panggilan akrabnya bercerita tentang sepak terjangnya di dunia tulis-menulis.

“Memang untuk menjadi penulis itu tidak mudah, terutama dalam hal mentalitas”. Ketahanan seorang penulis untuk terus menulis dan menulis dibutuhkan. Seorang penulis juga harus banyak membaca, sebab menulis tanpa membaca, maka tulisan itu tidak ada isi atau bobotnya. Begitupun sebaliknya membaca saja tanpa menulis, ide yang ada di otak kita akan pecah dan hilang. “Sepandai apapun seseorang jika tidak menulis, maka mereka akan hilang”, tambah beliau.

Mas Saiful memberikan lembaran kertas kepada para peserta yang berupa Esai yang ditulis langsung oleh beliau dengan judul “Menulis Dengan Cinta Dan Prahara Pulau Dewata”. Para peserta disuruh membaca lead awal pada esai “Prahara Pulau Dewata” yang berbunyi “Jean Couteau sewaktu berkunjung ke Bali sempat geleng-geleng kepala. Couteau mendaraskan kekaguman anomalis ketika melihat seorang pemuda membeli bensin. Saat membayar pemuda itu bukannya merogoh saku, tapi justru membuka resletling dan menarik lembaran uang dari dalamya. Kala ditanya, ia menjawab seraya mengarahkan jemari telunjuk : dari sinilah uang merunyak tak kurang-kurang.”

Dari lead tersebut peserta disuruh memahami terlebih dahulu apa pendapat mereka tentang lead tersebut. Masing-masing dari mereka pasti berbeda pandangan atau pemikiran. “Kalau bisa ketika kita menulis sebuah esai, gunakan lead yang menarik, sebab setiap Redaktur sebuah media mempunyai ciri khas masing. Akan tetapi untuk menghasilkan lead yang berkualitas kalian butuh proses”, katanya.

Beliau juga mencontohkan bagaimana kita memandang obyek dari sisi yang berbeda. Beliau meletakkan peci hitam di atas meja. Dan disitu para peserta disuruh melihat dari posisi duduk mereka. Ada yang mengatakan melihat warna hitam, yang lainnya mengatakan ada gambar berwarna kuning.“ Kita dapat ambil kesimpulan bahwa ketika menulis sebuah esai, kita dapat melihat obyek dari sudut yang berbeda-beda”, tutur beliau.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam akhir pertemuan Mas Saiful Amin berpesan bahwa kita harus menjadi penulis sekaligus editor yang keji bagi tulisan kita. Dan juga cobalah menulis semua jenis tulisan baik itu opini, esai cerpen puisi, maupun resensi. Jika sudah mencoba semuanya, maka nanti bisa memilih atau fokus pada satu jenis tulisan. Beliau mengandaikannya dengan orang yang makan, selagi muda kita bisa mencoba semua jenis makanan, akan tetapi ketika sudah tua maka kita akan memilih salah satu dari jenis makanan tersebut, karena kondisi tubuh yang rentan akan segala macam penyakit.© (fatih)

SebelumnyaSantri Husada Tebuireng: Berbagi Cinta Kasih Lewat Donor Darah
BerikutnyaPembukaan Cerita Menawan, Pembaca Penasaran