
Rasa yang Kehilangan Warna
Hari-hari berjalan
tanpa pahit, tanpa manis.
Segalanya terasa cukup,
namun tak pernah benar-benar sampai.
Tawa singgah sebentar,
lalu pergi tanpa jejak.
Sedih pun datang seadanya,
tak cukup dalam
untuk disebut luka.
Seperti makanan yang dimasak sempurna
namun lupa diberi rasa—
hidup tetap mengenyangkan,
hanya saja
tak lagi diingat.
Hidup yang Kehilangan Gairah
Pagi datang
tanpa dorongan untuk disambut.
Langkah tetap diambil,
tapi hati tak ikut berangkat.
Tak ada benci pada hidup,
hanya lelah yang terlalu lama
dibiarkan duduk di dada.
Semangat tak mati,
ia hanya menyingkir,
menunggu dipanggil kembali.
Mungkin ini bukan akhir dari nyala,
melainkan jeda panjang
sebelum api
belajar bernapas lagi.
Gundah Seorang Hamba
Doa sering tersangkut di dada,
tak sepenuhnya naik,
tak juga hilang.
Ada rindu yang bingung
menyebut nama-Nya
dalam keadaan yang rapuh.
Hamba berjalan tertunduk,
membawa salah,
membawa harap,
dalam satu genggaman yang sama.
Iman kadang menguat,
kadang limbung
namun tak pernah benar-benar pergi.
Di antara gundah dan pasrah,
terselip keyakinan kecil:
bahkan hati yang letih
masih didengar
ketika ia memilih
untuk kembali.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















