Pendidikan Karakter Media Pencegah Radikalisme Santri

300
H. Haris Supratno, Wakil Rektor 1 Unhasy, menyampaikan beberapa hasil penelitiannya dalam seminar bedah pemikiran 3 Rektor Unhasy, Sabtu (17/03/18) di Pesantren Tebuireng. (Foto: Masnun)

Tebuireng.online- Dalam seminar bedah pemikiran 3 Rektor Unhasy, H. Haris Supratno, Wakil Rektor 1 Unhasy, menyampaikan beberapa hasil penelitiannya tentang pendidikan karakter dan multikultural sebagai media pencegah radikalisme santri. Menurutnya, penelitian ini dilakukan dan diangkat menjadi salah satu materi  karena sementara ini umat Islam selalu menjadi kambing hitam dengan berbagai tuduhan terorisme yang terjadi di Indonesia.

“Teror yang terjadi selalu identik dengan umat Islam dan santri. walaupun sebenarnya itu tidak benar, karena mungkin saja hanya satu atau dua oknum dari beberapa oknum yang memang terorisnya itu umat Islam dan santri,” terangnya dalam seminar bedah pemikiran Rektor Unhasy di Pesantren Tebuireng, Sabtu (17/03/18).

Menurutnya, dunia barat selalu menghubungkan bahwa teroris itu adalah umat Islam, ini yang perlu dijawab. Apakah betul bahwa Islam itu identik dengan teroris? apakah santri itu merupakan  hateksi dari teroris? kalau seorang ilmuan tidak akan langsung menjawab “tidak” tapi menjawabnya dengan data dan hasil penelitian dari ini latar belakang materi yang disajikan dan menjabaran hasil penelitian.

“Makna pendidikan karakter itu sebenarnya juga hampir sama dengan makna budi pekerti atau makna etika namun hanya pemerintah Indonesia sedang ingin mengemas zaman pemerintahan  SBY yang menggunakan istilah pendidikan karakter  yang lebih luas dari etika tapi mungkin sama dengan akhlak,” terangnya.

Akhlak, lanjut H. Haris, juga sudah menyeluruh mencakup sikap, perilaku, tutur bahasa seseorang. Menurutnya, zamannya Jokowi istilah pendidikan karakter karena kelemahan pemimpin kita itu tidak mau menggunakan program dari pemimpin terdahulu walaupun maknanya sama saja. Sekarang menggunakan revolusi mental.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Sehingga di situ saya mencoba untuk mengemas dari zamannya pemerintahannya pak SBY sampek pak Jokowi sehingga judulnya pendidikan karakter multikultural  dan kewirausahaan sebagai model gerakan revolusi mental untuk pencegahan radikalisme,” imbuhnya.

🤔  Para Ulama Ketika "Bersama" Allah SWT

Ia mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan nasional itu untuk menanamkan keimanan budi pekerti dan akhlakul kharimah, agar generasi muda menjadi manusia yang cerdas, kreatif, sehat, dan berbudaya.

“Oleh karena itu karakter menjadi pondasi dasar di dalam pendidikan nasional. Pendidikan Nasional tidak hanya mencerdaskan, justru yang pertama adalah penanaman keimanan, ketakwaan itulah sehingga misi Universitas Hasyim Asy’arin (Unhasy) juga sama untuk menjadikan Unhasy sebagai wadah untuk mencetak “generasi insan kamil,” jelasnya.

Diakhir penyampaian materi, ia menjelaskan bahwa generasi insan kamil itu generasi yang sempurna, tidak hanya menguasai ilmu umum saja tetapi juga harus dilandasi ilmu agama yang kuat, dan tidak hanya ilmu agama saja tapi ilmu umum juga.

“Jadi orang-orang yang sukses di negeri kita ini pada umumnya memiliki dua ilmu, yaitu ilmu agama dan ilmu umum,” pungkasnya.


Pewarta: Tika Herlina

Editor/Publisher: Rara Zarary