Pahami Karakter Santri, Calon Pembina Tebuireng Dibekali Ilmu Psikologi Perkembangan

35
Dr. Hj. Wiwin Hendriyani, M.Si., memberikan pembekalan materi pengasuhan (parenting) bagi peserta Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Calon Kader Pembina Santri Pesantren Tebuireng, Ahad (5/4/2026). Foto: Fatih

Tebuireng.online- Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (HIMPSI) sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Dr. Hj. Wiwin Hendriyani, M.Si., memberikan pembekalan materi pengasuhan (parenting) bagi peserta Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Calon Kader Pembina Santri Pesantren Tebuireng, Ahad (5/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di Balai Diklat Pesantren Tebuireng, Jombok, Ngoro, Jombang, tersebut diikuti peserta dengan antusiasme tinggi.

Dalam pemaparannya, Dr Wiwin menekankan pentingnya memahami karakter santri melalui sudut pandang psikologi perkembangan. Karakter seseorang, menurutnya, tidak terbentuk secara instan, melainkan dipengaruhi oleh faktor lingkungan keluarga, pendidikan, hingga pengalaman hidup.

“Penting bagi para pembina santri untuk memahami latar belakang serta keragaman karakter yang dimiliki oleh setiap santri,” ujar Dr Wiwin.

Pemahaman mendalam terhadap karakter santri dinilai akan memudahkan pembina dalam menentukan pendekatan yang tepat. Hal ini diharapkan mampu menciptakan suasana pembinaan yang efektif, kondusif, dan humanis. Dr Wiwin mengingatkan bahwa setiap anak memiliki keunikan yang tidak dapat disamaratakan dalam proses pengasuhan.

Selain aspek santri, Dr Wiwin juga menyoroti pentingnya kecerdasan emosional bagi para pembina. Pembina santri tidak hanya dituntut untuk membimbing, tetapi juga harus mampu mengelola emosi diri dengan baik.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Pembina santri harus memiliki kemampuan pengendalian diri yang kuat agar tidak mudah terpancing emosi dalam menghadapi situasi yang kurang menyenangkan,” tegasnya. Kestabilan emosi pembina dianggap sebagai faktor penentu keberhasilan proses pembinaan di lingkungan pesantren.

Dalam konteks kepengasuhan yang efektif, Dr Wiwin menawarkan formula kombinasi antara dukungan (support) dan pengawasan (control). Keseimbangan keduanya merupakan kunci utama dalam membentuk karakter. Dukungan akan membuat santri merasa dihargai, sementara pengawasan memastikan perilaku mereka tetap selaras dengan nilai-nilai pesantren.

Meski demikian, Dr Wiwin menegaskan bahwa pondasi utama karakter tetap berada di tangan orang tua. Pesantren dan lembaga pendidikan lainnya berfungsi sebagai pendukung dan penguat.

“Apabila orang tua tidak mampu memberikan teladan yang baik, maka proses pendidikan di lembaga (pesantren) tidak akan berjalan maksimal,” imbuhnya. Oleh karena itu, sinergi antara orang tua dan lembaga pendidikan menjadi mutlak diperlukan untuk menciptakan generasi berkualitas.

Menutup sesi materi, Dr Wiwin berharap para calon pembina tidak hanya menyerap ilmu ini sebagai teori semata, tetapi mampu mengimplementasikannya secara nyata dalam tugas sehari-hari.

“Saya berharap ilmu ini bukan sekadar pengetahuan untuk menguatkan psikologi diri sendiri dan santri, tetapi juga dapat diterapkan dalam keluarga dan lingkungan sekitar guna mencetak generasi yang berkarakter optimal dan berakhlak mulia,” pungkasnya.

Baca Juga: Dr. Ferry Wirawan Tedja Tekankan Servant Leadership bagi Calon Pembina Santri Tebuireng


Pewarta: Fatih Maulana

Editor: Sutan