Bekali Calon Pembina Santri Tebuireng, Ning Zuyyina Choirunnisa Tekankan Pentingnya “Problem Solving”

48
Dr. Zuyyina Choirunnisa, S.M., M.S.M., memberikan pembekalan mengenai kemampuan pemecahan masalah (problem solving) bagi peserta Diklat Calon Kader Pembina Santri Pesantren Tebuireng, Sabtu (4/4/2026). Foto: Fatih

Tebuireng.online- Manajer Executive Learning Hub Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga sekaligus dzuriyah KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Dr. Zuyyina Choirunnisa, S.M., M.S.M., memberikan pembekalan mengenai kemampuan pemecahan masalah (problem solving) bagi peserta Diklat Calon Kader Pembina Santri Pesantren Tebuireng, Sabtu (4/4/2026). Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diikuti para peserta dengan antusiasme tinggi.

Dalam pemaparannya, Ning Zuyyina menjelaskan bahwa problem solving adalah kemampuan krusial yang harus dimiliki setiap pembina santri untuk menghadapi dinamika kehidupan pesantren. Menurutnya, setiap permasalahan yang muncul tidak dapat dihindari, namun harus dihadapi dengan langkah yang tepat.

“Setiap permasalahan harus dihadapi dengan cara yang sistematis dan bijaksana,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penyelesaian masalah tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tetapi juga melibatkan aspek emosional dan spiritual. Seorang pembina santri dituntut mampu berpikir jernih dan mengelola emosi dengan tetap mempertimbangkan nilai moral serta keagamaan dalam setiap pengambilan keputusan.

“Dengan demikian, solusi yang dihasilkan tidak hanya efektif, tetapi juga membawa kebaikan bagi semua pihak,” tambahnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam sesi tersebut, Ning Zuyyina menguraikan tahapan terstruktur dalam pemecahan masalah, mulai dari identifikasi masalah, analisis penyebab, penentuan alternatif solusi, hingga pengambilan keputusan. Ia memperingatkan agar proses tersebut dilakukan secara terencana guna mencegah munculnya masalah baru di kemudian hari.

Ia juga mengingatkan pentingnya sikap objektif dalam menghadapi persoalan santri. Pembina diharapkan tidak terburu-buru mengambil keputusan sebelum memahami situasi secara menyeluruh. Pendekatan yang tenang dinilai akan menjaga hubungan baik antara pembina dan santri serta menciptakan suasana pesantren yang kondusif.

Selain itu, komunikasi efektif disebut sebagai kunci utama. Kemampuan mendengarkan secara aktif dan rasa empati terhadap santri menjadi instrumen penting agar solusi yang diambil tepat sasaran.

Sebagai dzuriyah Hadratussyaikh, Dr. Zuyyina mengajak para peserta untuk meneladani nilai-nilai yang diajarkan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Ia menegaskan bahwa kesabaran, kebijaksanaan, dan keikhlasan merupakan landasan utama dalam menyelesaikan setiap persoalan di lingkungan pesantren.

Menutup penyampaiannya, ia berharap materi ini menjadi bekal nyata bagi para peserta dalam menjalankan tugas sebagai pembina santri.

“Saya berharap para peserta mampu mengimplementasikan kemampuan problem solving ini tidak hanya di pesantren, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat agar menjadi pribadi yang tangguh dan mampu memberikan solusi bagi kemaslahatan banyak orang,” pungkasnya.

Baca Juga: Pahami Karakter Santri, Calon Pembina Tebuireng Dibekali Ilmu Psikologi Perkembangan


Pewarta: Fatih Maulana

Editor: Sutan