Ilustrasi : www.google.com

Oleh: Silmi Adawiyah*

Ketika terucap kata cerdas, mungkin asumsi banyak orang adalah mereka yang memiliki IPK tinggi, bijak mengambil keputusan, dan mendapatkan penghargaan internasional.

Memang tak ada yang salah dengan mereka yang memandang cerdas dengan kacamata seperti itu, namun alangkah bijaknya jika kita mengartikan cerdas tidak hanya urusan dunia, namun juga urusan akhirat. Tersurat dalam QS AnNisa ayat 78:


أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lantas apa hubungannya orang yang cerdas dengan ayat kematian tersebut? Rupanya cerdas menurut Rasulullah adalah mereka tidak hanya mengingat dunia, malainkan lebih sering mengingat kematian, yang begitu disebabkan mereka mengerti bahwa banyak yang harus dipersiapkan untuk kematian. Berkiblat pada hadis Nabi yang dikisahkan dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda:

أَفْضَلُ الْمُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاس

“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang yang berakal.”

Orang cerdas memikirkan dan mempersiapkan kematian seakan-akan ia meninggal pada esok hari. Karena itu mereka bersungguh-sungguh melakukan kebaikan dan ketakwaan. Ketika kematian disebutkan, mereka terdiam seakan-akan mereka sedang menghadapinya, mereka mengeluhkan betapa kurangnya persiapan untuk berjumpa dengan kematian.

Dengan begitu, orang cerdas yang semacam ini akan terus berada di jalan-Nya. Sekali saja ia melanggar aturan Allah, ia akan teringat kembali akan bayang-bayang kematian yang siap menjemputnya. Sebab itulah ia tidak terlalu sering berada dalam puncak kebahagiaan, sebab yang sering diingatnya adalah kematian. Hal tersebut senada dengan hadis Nabi yang berbunyi:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِى الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.”

*Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumnus Unhasy dan Santri Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang.

SebelumnyaKhofifah Suarakan Peningkatan Sumber Daya Manusia
BerikutnyaSa’ad bin Ubadah, Pemimpin Bergelar Al-Kamil