DUCH, ALTRUIS–NYA YAI KA’

Inilah sisi human interest yang mengundang daya tarik tersendiri. Karakter Yai Ka’ yang dililit dan berbalut tebal pakain kezuhudan, kewara’-an dan keqana’ah-an, ternyata begitu mudah koyak emosinya dan larut dalam perasaan yang membelit orang lain. Mudah dipantik rasa haru, simpati dan berempati. Tak ubahnya, “fact of caring about the needs of other people more than your own”. Itulah yang lazim disebut dengan “al-itsar” atau rame rame oleh Marcauly–Berkowitz dan Walstern–Piliavin disebut altruis.

Mungkin, altruis yang melekat pada diri Yai Ka’ juga dipengaruhi oleh “Latief” yang menempel sebagai kelengkapan nama Yai Ka’. “Latief” yang bersambung dengan dan diletakkan di akhir “Ishaq” memiliki makna “syu’urun latifah” bagi pemilik nama itu. Artinya, Yai Ka’ adalah sosok penyandang perasaan yang lembut. Ya, itu altruis. Lebih nyata lagi ilustrasinya, beliau acapkali tak bisa menahan perasaannya dan menitikkan air matanya saat datang khabar santri yang dikenalnya dengan baik meninggal dunia.

Misalnya, ketika kiai muda yang jagoan baca kitab kuning asal Madura meninggal dunia, Husaini Ma’shum. Selang beberapa tahun, kakaknya yang sempat meneruskan di al-Jami’ah al-Islamiyah bi al-Madinah menyusul. Begitu pula, kala menerima khabar Mansur meninggal dunia. Begitu ekspresif wajah Yai Ka’ menyembulkan kesedihannya. Maklum, santri Yai Ka’ sangat dekat, humoris dan sering “menakali” beliau dengan canda dan pertanyaan usil.

 Bila ke Jakarta, Mansur yang selelalu menemani dan Yai Ka’ menginap di rumahnya. Dan, yang beliau dan saya berbarengan menangis pada waktu mengabarkan adik kandung saya yang meninggal selepas meraih Lc dari studinya Universitas Islam Madinah. Adik saya jauh lebih lama dan lebih dekat dengan Yai Ka’, defender kesayangan beliau jika bermain bola. “Terus anake Syafi’ karo sopo, Di ?”, tanya Yai Ka’. Waktu itu, Bella Imania masih kecil dan selepas Aliyah peroleh beasiswa dan kuliah di al-Ahqof University, Yaman.

(Catatan:  H. Cholidy Ibhar santri Tebuireng angkatan 1970-1980. Kini menjadi Dosen di IAINU dan Direktur Local Govermen Reseach dan Consulting, tinggal di Kebumen Jawa Tengah)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
SebelumnyaObituari Bersama KH. Ishaq Latif (79)
BerikutnyaObituari Bersama KH. Ishaq Latif (81)