
Ada wangi citrus dari kamar sebelah—nyiprat menampar hidung tanpa sopan. Harjo lagi-lagi menyemprot parfum itu. Entah dia yang pakai parfum, atau parfumnya yang pakai dia. Saya sempat mengira wanginya akan cepat hilang. Nyatanya tidak.
Ia menempel di seprei, di baju, bahkan di pikiran. Dan sore itu, entah kenapa, saya merasa wangi itu seperti sebuah sinyal kecil, samar, tapi mengganggu—tentang sesuatu yang sedang berubah dalam diri saya, meski belum sepenuhnya saya sadari.
***
Dulu, saya adalah manusia paling penakut. Saya terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain sampai lupa bahwa perasaan saya juga layak dijaga. Saya begitu takut melukai lewat kata-kata, hingga sering kali memilih diam—sambil mengacungkan ibu jari sebagai simbol, “I’m good”.
Seorang teman pernah berkata, “kalau jadi baik harus menghilangkan diri sendiri, apa artinya baik?”
Waktu itu saya tertawa. Tawa yang lebih mirip sebagai mekanisme bertahan daripada tanda setuju. Kalimat itu terasa seperti perban yang dicabut paksa. Dan seperti luka yang akhirnya terkena udara, mungkin memang sudah seharusnya begitu.
***
Beberapa bulan terakhir, ada sesuatu yang berubah. Saya mulai berani menegur orang. Mulai berani berkata “tidak”, mulai berani mengakui suara sendiri. Tapi di satu sisi, saya sadar: ini bukan cuma tegas. Ini mulai keras.
Saya sering bertanya dalam hati, “apakah saya sedang tumbuh, atau justru tersesat sambil merasa naik kelas?”
Mungkin karena Harjo.
Harjo bukan hanya blak-blakan; dia seperti antitesis dari segala hal yang selama ini saya simpan rapat. Kalau saya memikirkan sepuluh kali dampak sebelum bicara, Harjo bisa berbicara sepuluh kalimat sebelum sempat berpikir satu dampak.
Anehnya, di balik sikapnya yang terkesan ngasal itu, ada kejujuran yang hangat. Tidak dibuat-buat. Tidak berpura-pura bijak.
***
Suatu sore, sambil mengaduk teh di balkon kontrakan, ia berkata santai, “kalau hidup nggak bikin orang lain ikut ngerasain sesuatu, buat apa hidup? Makan aja punya tujuan buat kenyang. Masa iya hidup nggak punya arti? RUGI DONG…”
Kalimat itu sederhana, tapi menempel.
Seperti parfum citrusnya—menyengat, dan sulit dilupakan.
Sore itu, kami bertengkar.
Awalnya sepele. Saya menegur Harjo yang telat shalat. Ia masih duduk, menikmati malasnya sendiri. Entah kenapa, refleks saya keluar terlalu cepat.
“Jo, jam berapa ini? Katanya mau ngubah dunia. Gimana ceritanya ngubah dunia kalau shalat aja masih lo tinggal? Masa Depan lo, dilihat dari cara Sholat lo!”
Nada saya tinggi. Bahkan Terlalu menghakimi.
Bahkan sebelum Harjo bicara, saya tahu ada sesuatu yang salah dalam cara saya mengucapkannya.
Dia menoleh. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam. Seakan berkata “Wihhhh, ente yang ngatur bumi kah? Avatar lo?!”
***
Kalimat yang merepresentasi pikirannya itu keluar nyata dari mulutnya:
“Lo pikir semua orang harus kayak lo?”
“Bukan harus, sih..” jawab saya cepat. “Tapi memang sudah seharusnya!”
Kalimat itu keluar tanpa jeda. Tidak ada empat detik untuk empati.
Harjo menghela napas.
“Masalah shalat, gue setuju. Tapi cara lo ngingetin… seakan lo yang nentuin arah hidup orang. Pren!!”
Saya terdiam.
“Hati-hati pren!” lanjutnya.
“Jangan-jangan yang keluar dari mulut lo bukan kebaikan. Tapi cipratan rasa paling bener yang lo anggap kebaikan!”
Kalimat itu seperti percikan minyak panas. Bukan hanya panas, tapi cukup meninggalkan bekas.
***
Malam itu saya pergi dari kontrakan. Bukan karena marah, tapi karena takut. Takut Harjo benar. Takut saya sedang berubah menjadi orang yang dulu paling saya hindari: orang yang merasa bersih, merasa suci, lalu lupa bercermin.
Saya menginap di masjid kampus. Masjid kecil, tapi hangat. Seolah tahu bahwa orang-orang datang ke sana membawa beban yang tak pernah mereka ceritakan.
Di sana saya bertemu Bu Ijah, penjaga masjid yang senyumnya selalu ada, meski lingkar hitam di bawah matanya menceritakan hidup yang tidak ringan.
***
Keesokan harinya, Saya berniat membantu Bu Ijah membersihkan masjid, “Bu, saya mau bantu bersih-bersih yaa, izin…”
“Wahh boleh dong mas, ndak usah izin.. Yuk ikut saya..” Jawab Hangat Bu Ijah.
Pagi itu saya membantunya membersihkan masjid.
Saat mengibas karpet terlalu keras, Bu Ijah menegur saya dengan suara lembut,
“Mas, pelan-pelan. Debunya nyiprat. Nanti malah ngotorin orang yang lewat. Ojo kesusu, alon-alon asal kelakon…”
Saya berhenti. Lalu berfikir.
Debu yang nyiprat!!
Parfum yang nyiprat!!
Kata-kata yang nyiprat!!
Saya duduk bersandar di tembok masjid, menatap karpet yang belum selesai saya bersihkan.
***
Di sana saya mulai sadar: mungkin selama ini saya terlalu fokus menjadi “bersih”—menghindari dosa, menghindari salah, berusaha agar tidak terlihat buruk—sampai lupa memikirkan dampak cara saya membersihkan diri.
Saya ingin jadi baik. Tapi mungkin yang keluar justru debu ego. Debu yang menyelamatkan diri sendiri, tapi membuat orang lain batuk.
Beberapa hari kemudian, saya pulang ke kontrakan. Harjo duduk di teras, menyeruput kopi dengan wajah santai.
“Wih, dari mana lo? Setau gue naik haji tuh ada waktunya deh, (bulan haji). Oh iyaa gue tau, lo abis umroh yaaa?” katanya bercanda.
Tanpa menggubris, saya langsung duduk di sampingnya.
“Jo, gue mau nanya. Lo pernah ngerasa berubah?”
“Berubah gimana maksudnya? Jadi Ultraman?” Jawab Harjo dengan nada nyeleneh.
“Gue serius nyong. Berubah yang rasanya bukan cuma beda, tapi kayak jadi orang lain.”
***
Harjo tersenyum.
“Wajar lah pren. Bumi aja muter kok, kita juga pasti berubah. Emang lo kira Ronaldo pas lahir langsung jadi pemain sirkus??” Jawabnya dengan nada komedi khas,
“Eh maksud gue pemain bola, engga kann?!” Harjo Melanjutkan, “Udah lah pren, yang penting kita sadar berubah ke arah mana. Mau nyiprat wangi atau nyiprat apek, dua-duanya pilihan.”
Saya mengangguk. “Gue cuma takut jadi orang yang sok bersih. Sok suci.”
***
“Eh Pren, Orang yang takut begitu,” katanya sambil menepuk bahu saya, “biasanya justru orang yang masih sadar sama dirinya. Arogan itu kadang datang dari keacuhan, ngerasa dirinya paling-paling: superior, paling pinter, paling bener.
Saya tertawa kecil.
“Gue cuma takut nyipratin kotoran yang gak gue sadarin.”
“Nah,” katanya, “barusan tuh gue ngerasain cipratan yang bener kok. Wangi banget malah…”
Kami pun tertawa. Tawa yang ringan. Tidak menyisakan luka.
***
Beberapa minggu setelah itu, Harjo pindah kerja ke luar kota. Satu stel bajunya tertinggal di kontrakan—masih berbau citrus samar. Saya pun memakainya saat mengikuti kajian kecil di kampus.
Seusai acara, seorang mahasiswi berkomentar, “Mas, parfumnya enak. Nyiprat sampai belakang.”
Saya tersenyum. “Semoga bukan cuma wanginya yaa, kak…”
***
Akhirnya saya pun belajar: bahwa menjadi baik adalah sebuah keharusan, namun menebarkan kebaikan adalah tanggung jawab sosial.
Kita semua selalu dan akan terus menyiprati sesuatu—lewat kata, sikap, atau kehadiran. Dan mulai hari ini, kalau saya nyiprat sesuatu, semoga itu bukan bau sombong, bukan debu kemarahan, bukan percikan ego— tetapi aroma yang diam-diam tinggal, dan mengubah cara orang bernapas.
Penulis: Muhammad Caesar Rifyal Sidqi
Editor: Rara Zarary


















