Ketika Ibn ʿArabī (Muḥammad ibn al-ʿArabī al-Ḥātimī ‎w.1240) ditanya tentang konsep Muslim –literatur Barat sampai tahun 60an menyebut Mohammedans atau Mahometans– beliau menjawab; Seorang muslim adalah orang yang telah mendedikasikan ibadahnya secara eksklusif hanya kepada Allah SWT, Islam berarti mengakui satu Agama dan satu iman, hanya kepada Allah. Sejatinya sumber utama Agama Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah, namun justru karena sumber itu, kita menjadi berbeda, penafsiran atas dua sumber utama hukum ini sangat luas, karena tafsir selalu subjektif, walau Tafsīr bil-Mathūr –tafsir berdasarkan hadis dan Athār Sahabat- sekalipun, semuanya tidak terlepas dari pemikiran manusia, sering dipengaruhi kondisi sosial politik dan budaya yang melatar belakanginya.

Fenomena ISIS –Islamic State of Iraq and Syria– menjadi salah satu bukti keberbedaan yang berasal dari sumber yang sama yaitu Al-Qur’an, mereka memproklamirkan khilafah baru, Abu Bakar Al-Baghdadi sebagai khalifahnya -Khalifah Ibrahim-, klaim sebagai Negara Islam yang menerapkan hukum Syariah serta mengajak seluruh umat Islam diseluruh dunia untuk mendukung perjuangan jihadnya. Media barat menyebut organisasi ini sebagai organisasi teroris yang brutal dan memiliki kedegilan yang terkenal. Mereka mengklaim sebagai Khilafah Islam mutakhir paska Khilafah Turki Uthmani yang telah runtuh atau memilih menjadi Negara Republik pada tahun 1923, beberapa muslim Indonesia mendukung gerakan ini, namun tidak sedikit yang menentangnya karena mengancam eksistensi Negara Bangsa –Nation State- dan pendiriannya yang terkesan dipaksakan, termasuk dengan berperang dan penjarahan demi “menerapkan hukum Allah”. Pertanyaannya apakah Islam seseram ini? apa untuk menegakkan hukum Islam harus dengan peperangan? nama Islam secara bahasa dapat diartikan damai, menjadi paradoks ketika Agama “damai” harus ditegakkan dengan “perang”.

Etika dalam Islam

Abad pertengahan, Islam memiliki seorang Teologian, Sufi dan Filsuf seperti Imam al-Ghazālī (w.1111), pembaharu yang jejak pemikirannya diyakini telah merubah dunia saat ini, beliau mengkritisi sekaligus meneguhkan filsafat pendahulunya; al-Kindī (w.260/873) filsuf Arab pertama, al-Fārābī (w.339/950) dengan Neo-Platoniknya dan Ibn Sīnā (w.1037) filsuf dan saintis ensiklopedia. Tradisi intelektual al-Ghazālī memiliki jejak didalam dan diluar tradisi Islam. Paralel dengan pemikiran Rabbi Akiba atau Moses Maimonides (w.1204) –Mūsā ibn Maymūn- pada Agama Yahudi, Augustine atau Thomas Aquinas (w.1274) pada tradisi Kristiani dan Nagarjuna dalam tradisi Budha (w.250). Dalam tradisi Islam, Salahuddin al-Ayyubi (w.1193) sang penakluk Yerusalem, dan pendiri Dinasti Ayyubi diyakini ketika tinggal di Damaskus, Syiria, banyak bersentuhan dengan tradisi Sufistik Ihya Ulūm ad-Dīn, dalam konteks perang salib, Saladin memberi kebebasan kepada umat Nasrani dan Yahudi menjalankan Agamanya paska penaklukan, kota ini dikuasai oleh umat Kristiani sebelumnya.

Gesekan dimungkinkan karena tidak adanya kesefahaman, kebanyakan manusia menjadi musuh hal yang tidak diketahuinya, seperti mengambil salah satu pendapat Syiah, tidak bisa kita generalisirkan untuk semua golongan Syiah -Ismailiyah, Zaydiah,  Ithnā’ashariyyah’-, karena ada perbedaan, pandangan Ismailiyah dengan Ithnā’ashariyyah’, apabila kita menyamakan semuanya maka akan timbul salah faham. Sama halnya dalam tradisi Sunni –Ahlu Sunnah wal Jama’ah-, dalam mazhab fiqih saja sedikitnya kita memiliki empat Madzhab; Hanafiah, Malikiah, Syafi’iah dan Hanabilah dan masih banyak mazhab fiqh yang lain, belum lagi dalam masalah Aqidah, Maturidi dan Asy’ari-pun memiliki banyak perbedaan, namun bukan berarti karena berbeda kita tidak bisa bersama, untuk itu etika kesefahaman dibutuhkan dalam bingkai perbedaan, nampaknya, Tuhan memang menghendaki kita berbeda, seandainya Tuhan menginginkan kita sama seluruhnya, bukan hal yang sulit bagi-Nya. Karena Surga itu adalah hak prerogatif Tuhan siapapun tidak bisa mengintervensi-Nya, tidak bisa kita memonopoli surga, dengan menyatakan kelompok kita yang paling benar dan yang lain pasti salah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam dunia yang sangat cepat berubah, dimana kemiskinan dan kebodohan -orang tidak mampu mendapatkan pekerjaan, sulit makan, mutu pendidikan rendah- ketidak berdayaan manusia keluar dari lingkaran setan kemiskinan, menjadi penomena yang menarik kita cermati, seperti masyarakat miskin perkotaan yang hidup dalam rumah yang terbuat dari seng bekas, kardus dan limbah industri, tinggal disamping kali dengan air kotor, sanitasi yang tidak mencukupi, jaminan kesehatan tidak ada, kondisi anak-anak kecil yang hidup dalam lingkungan kotor, sepertinya Agama tidak begitu penting untuk mereka, Agama tidak hadir dalam penderitaan mereka, mungkin bagi mereka yang nyaris akrab dengan kondisi lapar, bukan khotbah yang menggebu-gebu dan mengharu biru yang dibutuhkan, namun kepedulian para pemuka dan umat Agama terlibat secara langsung dalam derita mereka, peduli dengan kemiskinan mereka, mencukupi kelaparan mereka dengan makanan yang layak. Jangan hanya lantang diatas mimbar namun tidak berdaya dihadapan ketidak adilan sosial.

Bahwa sikap fanatisme terhadap golongan tertentu dan menafikan aliran yang lain, apalagi sampai menyesatkan pihak yang lain dalam beragama adalah kesia-siaan, karena kebenaran yang kita persepsikan adalah kebenaran relatif yang tidak mutlak, kita akan kesulitan jika harus mencari standar kebenaran, semuanya akan menampakan dalil subjektif terhadap pendapatnya. Karena beragama bukan masalah bagaimana cara melayani Tuhan, namun memikirkan bagaimana berdamai dengan kemiskinan dan kebodohan, ini yang sering kita lupakan.

Semangat Humanisme Islam

Selama bulan suci Ramadhan 1435 H dunia digemparkan oleh pembantaian yang dilakukan Zionis Israel terhadap bangsa Palestina, sedikitnya 1500 korban tewas dalam serangan satu bulan terakhir, ini merupakan kejahatan kemanusiaan terbesar pasca perang dunia kedua, upaya genosida dilakukan Israel terhadap Palestina, Hak Asasi Manusia -HAM- sudah mati di Syam. Tidak ada perang Agama, yang ada hanya kesombongan sebagai bentuk penjajahan di abad modern, Neo-Apartheid dengan sengaja mengisolasi Bangsa Palestina yang beragama Islam, Kristen dan Yahudi. Betapa dahsyatnya penjajahan terhadap suatu bangsa, Negara barat memiliki standar ganda terhadap HAM, jika Negara kecil tidak memiliki kekuatan ekonomi dan politik melakukan kejahatan kemanusiaan dengan lantang barat mengecam dan menantang untuk menghentikannya, cerita menjadi berbeda ketika Negara super power melakukan kejahatan kemanusiaan, mereka hanya diam terhadap pembantaian yang dilakukan sekutunya seperti Israel.

Afrika Selatan memiliki sejarah mengerikan, kekerasan Agama pernah terjadi di Negeri ini dan terinspirasi  -dilakukan- oleh orang-orang yang diidentifikasi sebagai Muslim, yang terkait dengan kelompok main hakim sendiri melawan premanisme dan Narkoba, People Against Gangsterism & Drugs (PAGAD). yang menabur kekacauan, kebencian dan kehancuran di kota Cape Town di akhir 1990-an. Untungnya deliberatif perbaikan dan kepemimpinan yang tegas berhasil mematahkan kembalinya mata rantai jaringan “Kriminal” yang menyamar dalam wajah Agama. Namun, beberapa buah yang buruk ini berhasil merusak citra positif Muslim Afrika Selatan seluruhnya, Muslim disini sebelumnya telah terlibat memberikan pelayanan publik yang luar biasa dan kesempatan kepemimpinan di semua lapisan masyarakat. dari kepemimpinan di pemerintahan, peradilan -hukum- dan bisnis, juga kesehatan dan olahraga, warisan Muslim Afrika Selatan telah menunjukkan kontribusi mereka sebagai warga negara dan sebagai orang beriman di negara yang kompleks dan beragam.

Agama Islam di Afrika Selatan merupakan minoritas, menurut Prof. Ebrahim Moosa; dalam beberapa hal, Negara di ujung selatan benua Afrika ini sebagai pengecualian dan panutan. Muslim minoritas di Eropa, Amerika Utara dan di tempat lain mungkin iri, sejauh mana capaian Muslim di Afrika Selatan telah diintegrasikan ke dalam kehidupan nasional. Ini menjadi hal yang sangat menarik, dimana capaian Islam Afrika Selatan dan upaya dalam iman, kewarganegaraan dan pelayanan kepada umat manusia yang diatur dengan sangat dinamis. Pada bagian ini bersinarnya Islam tidak lepas dari warisan perjuangan Muslim Afrika Selatan bersama orang-orang dari Agama yang berbeda dan keyakinan lain selama hari-hari gelap Rezim Apartheid –diskriminasi manusia berdasarkan warna kulit, dimana kulit putih menjadi superior, dan kulit hitam dan berwarna menjadi budak, atau dianggap kaum rendah yang sulit mendapatkan akses pendidikan, kesehatan dan kesempatan kerja yang layak-. Perjuangan melawan rezim Apartheid menjadi pelajaran penting bahwa kita harus berbagi nilai kemanusiaan, yang melampaui ras, Agama dan etnis. Dalam perjuangan kemenangan ini runtuhnya teologi Islam eksklusif, yang ditinggalkan demi teologi Muslim yang lebih egaliter dan inklusif. Jika kisah Afrika Selatan Islam dibagi di forum global yang lebih besar mungkin ada sesuatu peneguhan iman bagi semua bangsa, bahwa berbagi nilai kemanusiaan jauh melampaui nilai keber-Agama-an dan orang akan tertarik dengan apa yang telah muslim minoritas Afrika Selatan capai.

 

Konklusi

Mungkin akan membantu untuk bertanya apa hukum bagi kelompok yang menebar masalah; seperti memurtadkan yang lain, menghujat, fitnah dan mengutuki orang lain masih ada di masyarakat Muslim saat ini. Jenis seperti ini hanya ada pada hukum yang koheren dalam konteks politik teokratis kekaisaran. Sistem politik ini membatasi kebebasan berbicara dan pilihan politik bergantung pada status Agama seseorang. Dalam demokrasi yang sehat, kesejahteraan sosial masyarakat seharusnya tidak lagi terancam atau dipengaruhi oleh komitmen keAgamaannya. Memungkinkan untuk memahami keberagaman dan pluralisme untuk menjadi model Syariah dan didukung sebagai tujuan sosial. Masyarakat harus mendorong menampilkan perilaku mulia dan tidak merendahkan keyakinan orang lain, karena tindakan kekerasan hanya akan menimbulkan reaksi marah. Ketika sesuatu yang menyinggung, apalagi tentang keyakinan orang lain, maka jalan utama harus adanya dialog dan pertukaran perspektif untuk membangun peradaban dan etika.

A. Fathurrohman Rustandi(Santri Senior Tebuireng, sekarang menempuh pendidikan di Capetown, Afrika Selatan)

*Artikel ini dimuat di Majalah Tebuireng edisi 35/November-Desember 2014 dimuat kembali untuk kepentingan pendidikan

SebelumnyaFiqh Pilkada
BerikutnyaMaroko, Negeri Seribu Benteng