Pesan untuk FORDISAF, Kiai Agus: Percuma Jago Baca Kitab Kalau Sepelekan Salat Berjamaah

63
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhsinin Cukir sekaligus guru senior di Tebuireng, KH Agus Maulana, memberikan pesan bagi para santri dalam peringatan Isra Mikraj yang digelar Forum Diskusi Santri Salaf (FORDISAF). Foto: Fatih

Tebuireng.online- Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhsinin Cukir sekaligus guru senior di Tebuireng, KH Agus Maulana, memberikan pesan menohok bagi para santri dalam peringatan Isra Mikraj yang digelar Forum Diskusi Santri Salaf (FORDISAF). Beliau menegaskan bahwa penguasaan kitab kuning yang mumpuni tidak akan bermakna jika tidak dibarengi dengan kedisiplinan ibadah.

Acara tersebut berlangsung khidmat di Gedung KH Yusuf Hasyim lantai 1, Pesantren Tebuireng, Kamis (22/1/2026). Dalam tausiyahnya, Kiai Agus mengawali dengan ajakan untuk mensyukuri nikmat menjadi umat Nabi Muhammad SAW sebagai anugerah terbesar bagi seorang mukmin.

Sebagai alumni Tebuireng, Kiai Agus membagikan pengalaman pribadinya saat masih menempuh pendidikan. Beliau menceritakan betapa kuatnya tradisi salaf dan disiplin keilmuan pada masa itu, di mana santri harus berjuang ekstra keras hanya untuk mendapatkan ijazah.

“Dulu ketika kami di tingkat Aliyah, untuk mengambil ijazah minimal harus hafal 800 bait nadzam. Hampir semua santri tidur di atas jam sebelas malam; entah untuk lalaran, muthola’ah, ataupun musyawarah. Hampir seluruh waktu diisi dengan kegiatan keilmuan,” ungkap Kiai Agus memotivasi para santri.

Memasuki materi inti, beliau menguraikan kandungan Surat Al-Isra ayat 1. Beliau menjelaskan bahwa penggunaan lafaz Subhana di awal ayat merupakan shighat ta‘ajjubiyyah yang mengisyaratkan adanya peristiwa agung yang melampaui logika manusia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beliau menekankan bahwa Isra Mikraj adalah ujian keimanan. Di saat banyak penduduk Makkah mengingkari, Abu Bakar Ash-Shiddiq tampil sebagai orang pertama yang membenarkan. “Selama Rasulullah SAW telah mengatakannya, maka sungguh beliau benar,” ujar Kiai Agus mengutip prinsip keimanan Abu Bakar.

Poin utama yang ditekankan Kiai Agus adalah tradisi penggemblengan santri di masa Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang sangat mengutamakan salat berjamaah. Menurutnya, keberhasilan santri zaman dulu bukan hanya karena otak yang cerdas, melainkan karena kedisiplinan ibadah yang kokoh.

Beliau pun memberikan “sentilan” menggunakan bahasa Jawa yang akrab di telinga santri. “Arek santri lek onok sing pinter moco kitab sampek wolak-walek akeh tunggale (anak santri kalau ada yang pintar baca kitab sampai bolak-balik itu banyak temannya), percuma kalau dia mudah menyepelekan salat jamaah,” tegas beliau.

Kiai Agus menutup mauidzah hasanah dengan doa agar peringatan Isra Mikraj ini menjadi pemantik motivasi bagi santri FORDISAF untuk meningkatkan kualitas salat. Beliau berharap keberkahan ilmu yang dimiliki dapat mengangkat derajat para santri di dunia maupun akhirat.

Peringatan ini menjadi momentum penting bagi santri FORDISAF untuk menyeimbangkan antara ketajaman intelektual dalam musyawarah fikih dengan keteguhan spiritual dalam menjalankan ibadah wajib.

Baca Juga: Menyelami Makna Isra Mikraj, Santri FORDISAF Tebuireng Diingatkan Jaga Salat dan Tradisi Salaf


Pewarta: Fatih Maulana

Editor: Sutan